Ratusan Peserta BPJS Kesehatan Prabumulih Terpaksa Turun Kelas, Akibat Iuran Naik

Akibat adanya kenaikan tarif iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terhitung 2020, ratusan peserta BPJS memilih turun kelas

Ratusan Peserta BPJS Kesehatan Prabumulih Terpaksa Turun Kelas, Akibat Iuran Naik
Tribunsumsel.com/bpjskesehatan
Ilustrasi BPJS Kesehatan. 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Edison Bastari

TRIBUNSUMSEL.COM, PRABUMULIH - Akibat adanya kenaikan tarif iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan terhitung 2020, ratusan peserta BPJS memilih turun kelas dari kelas 1 ke kelas 3.

Adapun berdasarkan data dari BPJS Kesehatan kota Prabumulih terhitung mulai 2 Januari 2020 hingga 14 Januari 2020 jumlah peserta yang melakukan turun kelas sebanyak 437 jiwa atau 162 kepala keluarga.

Jumlah tersebut seluruhnya peserta yang turun kelas ke kelas 3 baik dari kelas 1 turun ke kelas 3 maupun dari kelas 2 ke kelas 3.

Tarif iuran peserta BPJS sendiri berlaku mulai Januari 2020 untuk Kelas I Rp160 ribu perbulan, kelas II Rp 110 ribu perbulan dan kelas III Rp 42 ribu perbulan.

"Memang sangat banyak peserta kita yang mengurus untuk turun kelas, jumlah peserta yang melakukan turun kelas dari kelas 1 ke kelas 3 dan dari kelas 2 ke kelas 3 sebanyak 437 jiwa atau 162 KK," ungkap Kepala BPJS Kesehatan Prabumulih, Yunita Ibnu didampingi Humas BPJS, Fauzan ketika dibincangi wartawan belum lama ini.

Fauzan mengatakan pihaknya melayani para peserta mengurus unthk turun kelas dan untuk syarat turun kelas sendiri cukup mudah yakni hanya dengan cara mengisi daftar isian peserta, fotokopi kartu keluarga serta fotokopi buku rekening bank padanan.

"Kita melayani maksimal asalkan syarat dan ketentuan lengkap, dan melakukan pengisian yang ada," katanya.

Lebih lanjut Fauzan menuturkan, untuk warga kota Prabumulih sendiri hingga 4 januari lalu jumlah peserta BPJS terus bertambah dan total mencapai 191.244 peserta dari jumlah penduduk 196.022. "Jadi hampir seluruh penduduk kota Prabumulih tercover BPJS, hanua tinggal beberapa persen saja," tambahnya.

Sementara itu Fikri yang merupakan peserta BPJS Kesehatan kelas II mengaku hendak mengurus berkas untuk turun kelas karena tarif iuran sudah naik.

"Tarifnya iuran BPJS naik jadi terpaksa harus turun kelas, kita sebagai orang susah ini kesulitan bayar dengan tarif baru. Bisa bayar tapi makan kita susah," katanya.

Hal yang sama disampaikan Nurul yang mengaku jika dirinya yang baru tamat kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan akan kesulitan membayar iuran dengan tarif baru sekarang ini.

"Apalagi naik iuran hampir setengahnya, cukup tinggi, susah kita bayarnya kalau tidak bekerja," ujarnya. (eds).

Penulis: Edison
Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved