Berita PALI

Lengkapi Berkas Kasus Penggelapan Uang Makan Guru di PALI, Kejari Periksa 21 Honorer

Penggelapan itu dilakukan mantan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten PALI, Abu Hanifah atau AH yang saat ini menjabat Kepala Badan Penelitian

Lengkapi Berkas Kasus Penggelapan Uang Makan Guru di PALI, Kejari Periksa 21 Honorer
Sripo/ Reigan
Kepala Kejari PALI, Marcos Marudut Simare Mare 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALI- Kejakasaan Negeri (Kejari) Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) terus melengkapi berkas kasus penggelapan uang makan guru di Dinas Pendidikan PALI.

Kejari dalam waktu dua minggu lagi akan melimpahkan berkas kasus dugaan penggelapan uang makan pegawai dan guru pada 2017 lalu ke Pengadilan Muaraenim.

Penggelapan itu dilakukan mantan Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten PALI, Abu Hanifah atau AH yang saat ini menjabat Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Daerah PALI.

"Saat ini, kami masih melakukan pemberkasan. Baru sekitar 50 persen dan dalam waktu dekat ini, sekitar dua minggu lagi bakal kita limpahkan ke pengadilan," ungkap Kepala Kejari PALI, Marcos Marudut Simare Mare, Senin (7/1/2020).

Perampok Tega Bunuh Ibu Rumah Tangga di Muba, Hanya Karena Ingin Kuasai Samsung Galaxy J2

Dikatakannya, dalam.pemeriksaan yang dilakukan, pihaknya telah meminta keterangan dari sekitar 21 orang saksi.

"Saksi yang kita minta keterangan semuanya dari guru honorer. Pemeriksaan yang kita lakukan sudah sesuai dengan tahapan yang ada," katanya.

Diketahui sebelumnya, Kepala Balitbang Kabupaten PALI berinisial AH, pada Senin (9/12/2019) resmi ditahan Kejari PALI lalau dititipkan di Lapans Klas II B Muaraenim.

Penahanan AH itu lantaran diduga menggelapkan uang makan pegawai dan guru pada 2017 lalu saat menjabat sebagai Kepala Disdik Kabupaten PALI.

Saat Suaminya Jual Durian, Oknum Kades di Lahat Ajak Pria Lain Masuk Rumahnya, Digerebek

Kepala Kejari PALI, Marcos Marudut Simare Mare mengatakan, penahanan mantan Kepala Disdik Kabupaten PALI berinisial AH itu karena diduga telah melakukan tidak pidana korupsi anggaran pada Dinas Pendidikan tahun anggaran 2017.

"Kami melakukan penahan terhadap AH yang desertai dua alat bukti yang kita temukan dan diduga telah melakukan tindakan korupsi anggaran Disdik PALI tahun 2017, tepatnya uang makan pegawai dan guru," katanya.

Dijelaskannya, penahanan terhadap AH sendiri dilakukan selama dua puluh hari kedepan.

"Sebelumnya yang bersangkutan ditetapkan sebagai tersangka beberapa hari lalu. Tersangka selama penyidikan bersikap kooperatif," jelasnya.

Marcos merinci keseluruhan uang yang diduga digelapkan sekitar Rp700 juta lebih.

Namun, sebagian telah dikembalikan.

Dengan rincian pengembalian tanggal 16 juli 2019 sebesar Rp40 juta dan 1 Oktober 2019 sebesar Rp160 juta, total ada Rp200 juta.

Burung Kacer Hilang di Bagasi Garuda, Pemilik Sumbang Uang Kompensasi ke Panti Asuhan

"Beberapa hari lalu secara kooperatif tersangka memberikan uang, tepatnya tanggal 3 desember sebesar Rp100 juta untuk barang bukti," rincinya.

Lebih lanjut ditegaskannya, untuk saat ini baru satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka.

"Tapi tidak menutup kemungkinan setelah dikembangkan tersangka bakal bertambah," tegasnya.

Sementara, sebelum AH dibawa menggunakan mobil Toyota Avanza hitam untuk dititipkan ke Lapas Muaraenim, AH mengakui jika memang benar, dan dirinya telah mengangsur mengembalikan kerugian negara tersebut.

"Memang saya akui salah, dananya sebesar Rp700 juta sekian tapi sudah saya setor sebagian. Atas putusan ini saya ikuti aturan hukum," ujarnya.

Editor: Wawan Perdana
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved