Hadapi Era Industry 4.0 dan Society 5.0, BPK RI Terapkan Sistem SIPTL dan SIPLK

BPK menerapkan sistem aplikasi yang bernama Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (SIPTL)dan Sistem Informasi Pemeriksaan Laporan Keuangan(SIPLK)

Hadapi Era Industry 4.0 dan Society 5.0, BPK RI Terapkan Sistem SIPTL dan SIPLK
tribunsumsel.com
Ketua BPK RI Dr Agung Firman Sampurna, SE, MSi (dua dari kiri) didampingi Rektor Unsri Prof Dr Ir Anis Saggaff, saat konferensi pers di lantai 2 gedung Magister Manajemen Unsri Bukit Palembang, Rabu (6/11/2019). Agung mengajak semua untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi era Industri 4.0 dan Society 5.0. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG  -- Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Republik Indonesia (RI) kini menerapkan kemajuan teknologi dalam praktik dan audit keuangan, dengan menerapkan Customs-Excise Information System and Automation (CEISA) yang di aplikasikan dalam jaringan Information Technology (IT). Hal ini dilakukan untuk menyesuaikan era Industry 4.0 dan Society 5.0 yang saat ini tengah dihadapi Indonesia.

Ketua BPK RI Dr Firman Agung Sampurna SE, MSi didampingi Rektor Unsri Prof Dr Anis Saggaff, saat press conference di lantai 2 gedung Magister Manajemen Unsri, Bukit Palembang, Rabu (6/11) mengatakan dalam pemeriksaan serta audit terhadap anggaran negara tidak saja dilakukan dalam satu kali review development.
"Butuh waktu bertahap mulai dari menentukan sample kemudian perencanaan hingga laporan pekerjaan dan kami hanya diberi waktu 60 hari," kata Agung.

Kehadiran alumnus Unsri Angkatan 90 di Palembang adalah kali pertama sejak dilantik menjadi Ketua BPK RI beberapa waktu lalu. Agung didaulat menjadi Keynotes Speaker di kegiatan seminar internasional yang mengambil tema Society 5.0 for New Human-Centered Development: Oppurtunities and Challenges yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi Unsri di gedung MM.

Lebih lanjut Agung menjelaskan dalam sistem CEISA BPK menerapkan sistem aplikasi yang bernama Sistem Informasi Pemantauan Tindak Lanjut (SIPTL) dan Sistem Informasi Pemeriksaan Laporan Keuangan (SIPLK).
Dengan standar keamanan terjamin, fitur tersebut selaras dengan tujuan BPK yakni tidak hanya mengikuti teknologi tetapi membangun harmoni. Membuat BPK tetap bisa bekerja dengan sehat.

"Kan organisasi yang ditangani cukup banyak. Contoh saja pada 2008 ada temuan pemeriksaan dari laporan pemerintah pusat sebesar Rp723 Triliun," jelasnya.

"Sementara tahun ini anggarannya naik Rp 2200 Triliun dari seluruh temuan, dan sistem aplikasi sangat dibutuhkan untuk menunjang pekerjaan kami yang begitu kompleks," ujarnya.

Selain itu, maksimalitas kerja BPK masih membutuhkan waktu bertahap meskipun fitur aplikasi audit seperti SIPTL dan SIPLK membantu proses pemeriksaan anggaran. "Tetap saja, BPK RI masih membutuhkan waktu bertahap untuk memaksimalkan sistem kerja," katanya.

BPK RI juga meminta SDM baru mampu mengikuti tingkat perkembangan informasi. "Untuk membantu BPK dalam memaksimalkan kinerja. Indonesia membutuhkan SDM baru sesuai dengan tingkat perkembangan informasi. Agar harmonisasi sistem BPK dan kemajuan teknologi bisa selaras," ujar pria yang juga ketua IKA Unsri ini.

Imbangi Industry 4.0
Meski era revolusi industri digadang-gadang menjadi pola digital besar-besaran akan tetapi harus juga diimbangi dengan society 5.0 yang sesungguhnya sangatlah penting bagi generasi muda.

“Karena society adalah konsep yang berfokus pada peran manusia sebagai sumber daya dalam era digital 4.0. Perkembangan society 5.0 mengandalkan big data yang terbentuk dari sensor yang terhubung melalui Internet of Things yang dianalisis menggunakan kecerdasan buatan sehingga nantinya akan mampu dimanfaatkan untuk mensejahterakan masyarakat,”jelasnya.

"Sebelum society 5.0 ada fase revolusi industri 4.0 yang di drive untuk mengikuti kemajuan informasi, salah satunya di aspek komunikasi cepat dan kemajuan aspek bisnis," katanya.

Akan tetapi untuk menyeimbangkan antara 5.0 dan 4.0, sistem kerja harus menerapkan sistem repetitif. Sebab ada beberapa pekerjaan yang di judgement belum bisa mengikuti tren komputerisasi.

Rektor Unsri Prof Dr Anis Saggaff MSCF bahwa dalam rangka menciptakan lulusan yang berkualitas dan siap masuk di era revolusi Industri 4.0 pihak Universitas Sriwijaya pun sudah melakukan berbagai terobosan.
“Jadi Unsri sudah meramu bahwa perkuliahan tak boleh seperti dulu.

Beberapa sistem perkualiahan sudah mulai menyesuaikan dengan perkualiahan online bersifat digital kerjasama akademik dan lainnya,”jelasnya.
Selain itu juga hadirnya dosen praktisi pun sudah dilakukan dan juga praktek lapangan sehingga mahasiswa menjadi lebih kenal langsung ke dunia lapangan kerja di era revolusi industri 4.0. (elm)

Penulis: Melisa Wulandari
Editor: Lisma Noviani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved