Berita Palembang

Kabut Asap Pekat Kembali Selimuti Palembang Sejak Senin (21/10) Sore, Bikin Sesak Dada

Kabut asap dampak dari kebakaran lahan dan hutan di Sumsel itu terasa sangat pekat di Palembang, Senin (21/10/2019) sore.

IRKANDI/TRIBUNSUMSEL.COM
Kabut asap di Jembatan Ampera. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Kabut asap pekat kembali menerpa langit di Kota Palembang.

Kabut asap dampak dari kebakaran lahan dan hutan di Sumsel itu terasa sangat pekat di Palembang, Senin (21/10/2019) sore.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di wilayah Sumatera Selatan memprediksi, akan ada peningkatan intensitas asap dan mengecilnya potensi hujan sejak tanggal 22 sampai 24 Oktober 2019.

Secara regional hal itu karena, adanya Badai Tropis Neoguri dan Bualoi di Samudera Hindia yang mengakibatkan penarikan massa udara ke pusat badai tropis.

Sosok Edhy Prabowo, Anak Angkat Prabowo Calon Kuat Menteri Pertanian, Putra Asli Sumsel

Kondisi itu mengakibatkan potensi penurunan intensitas hujan selama 3 (tiga) hari ke depan (22-24 Oktober 2019) di wilayah Sumsel dan berpotensi peningkatan intensitas asap.

Sedangkan secara Lokal, kondisi hujan akibat faktor lokal (awan konvektif dan orografis)

akan tetap berpotensi di wilayah bagian barat Sumsel dikarenakan kelembapan udara lapisan atas cukup memadai untuk pertumbuhan awan dan berdataran tinggi.

Biasanya hujan yang terjadi berlangsung sebentar, sporadis (berbeda tiap tempat) dan berpotensi petir disertai angin kencang.

Selain itu, kondisi angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang, umumnya dari arah Timur sampai Tenggara memiliki kecepatan 5-20 Knot (9-37 Km/Jam) mengakibatkan potensi masuknya asap akibat Karhutbunla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya.

Sumber dari LAPAN tanggal 21 Oktober 2019 tercatat beberapa titik panas di wilayah sebelah Tenggara Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang.

Intensitas Asap (Smoke) sendiri umumnya meningkat pada pagi hari (04.00-08.00 WIB) dan sore hari (16.00-20.00 WIB) dikarenakan labilitas udara yang stabil (tidak ada massa udara naik) pada waktu tersebut.

Fenomena Asap, diindikasikan dengan kelembapan yang rendah diriingi partikel-partikel kering di udara, akibatnya mengganggu jarak pandang, beraroma khas,

perih di mata, dan mengganggu pernafasan, serta membuat matahari terlihat berwarna oranye maupun merah pada pagi ataupun sore hari.

Kondisi ini, semakin memburuk jika adanya campuran kelembapan yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena Kabut Asap (Smog) yang umumnya terjadi pada pagi hari.

Seperi hari ini, Senin (21/10/2019) jarak Pandang Terendah berkisar hanya 600-900 meter dari jam 06.00-07.30 WIB dengan Kelembapan pada saat itu 91-90 persen disertai keadaan cuaca Asap (Smoke).

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved