Guru Baik Hati Tewas Kecelakaan
Ketabahan Istri Pak Guru Bambang, Sri Bahkan Akan Maafkan Sopir yang Tabrak Mati Suaminya
Mata Sri Ambarwati (52) masih terlihat sembab habis menangis saat menerima para pelayat yang datang ke rumahnya, Kamis (4/9/2019).
Penulis: Shinta Dwi Anggraini | Editor: Prawira Maulana
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Mata Sri Ambarwati (52) masih terlihat sembab habis menangis saat menerima para pelayat yang datang ke rumahnya, Kamis (4/9/2019).
Sebelumnya, suami Sri Ambarwati, Bambang Pudi Astomo (59) yang juga guru di SMP N 35 Palembang, tewas dalam kecelakaan maut di Jalan Lintas Palembang-Indralaya, Rabu (3/9/2019)..
"Saya ikhlas dengan kejadian ini. Walaupun merasa terpukul, tapi namanya sudah takdir jadi harus diterima dan dijalani," ujar Sri saat ditemui di rumah duka di jalan KH Balqi Banten IV gang rukun Palembang.
Dikatakan Sri, tidak ada firasat yang dirasakannya sebelum kecelakaan maut yang menyewakan suaminya itu terjadi.
• Sosok Bambang Pudi Astomo Guru SMPN 35 Palembang Tewas Kecelakaan, Suka Melawak dan Jarang Marah
Namun, satu malam sebelum kecelakaan, Bambang sempat berujar dirinya tidak apa-apa kalau harus mati.
"Semalam bapak batuk-batuk. Saat itu dia mau minum sembarang obat. Saya larang karena takut nanti terjadi apa-apa. Tapi malah dijawabnya, mau minum obat apa saja. Tidak apa-apa juga kalau harus mati," cerita Sri.
Sri mengaku sempat terkejut mendengar pernyataan itu. Namun dia tidak menyangka bahwa hal itu akan menjadi pertanda kejadian buruk yang menimpa suaminya.
"Tidak menyangka sekali," ujarnya.
Bambang tewas dalam kecelakaan di Jalan Lintas Palembang-Indralaya, tepatnya di depan gerbang tol KTM Rambutan Palembang- Indralaya (Palindra) sekira pukul 16.00, Selasa (3/9/2019).
• Sosok Bambang Pudi Astomo Guru SMPN 35 Palembang Tewas Kecelakaan, Suka Melawak dan Jarang Marah
Kecelakaan itu melibatkan sepeda motor Supra Fit bernopol BG 3926 PV yang dikendarai Bambang dengan sebuah truk ber-as 3 dengan nopol BG 8220 XA.
Sayang, supir truk tersebut yang diketahui bernama Rahmat (40) melarikan diri saat kecelakaan tersebut. Sehingga Polisi masih melakukan penyidikan terkait kecelakaan itu.
Namun meskipun suaminya tewas dalam kecelakaan itu, Sri mengaku sudah membuka pintu maaf bagi sang supir truk.
"Saya sudah membuka pintu maaf. Silahkan datang ke rumah kalau mau minta maaf, pasti akan kami terima. Kecelakaan ini sudah takdir kami, saya ikhlas,"ujarnya.
Meskipun begitu, Sri juga menyerahkan sepenuhnya kelanjutan peristiwa kecelakaan tersebut pada pihak kepolisian.
• Sosok Bambang Pudi Astomo Guru SMPN 35 Palembang Tewas Kecelakaan, Suka Melawak dan Jarang Marah
"Tapi untuk penahanan atau yang lain ke pelaku, hal itu kembali lagi ke pihak kepolisian. Saya serahkan pada mereka," ujarnya.
Sementara itu, saat pemakaman,
Putra bungsu korban, Misbach Hilal Afif mengumandangkan azan untuk jenazah ayahanda tercinta sebelum lubang kubur ditutup tanah.
Ia berdiri di salah satu sudut lubang kubur.

Setelah azan, giliran sang kakak, Hidayat Fadilah mengumandangkan iqamat dekat kepala jenazah sang ayah.
Suasana haru makin terasa saat lubang kubur yang telah ditutup papan, diurug tanah.
Keluarga korban tampak tabah dan mengikuti proses pemakaman hingga selesai.
Hilal, putra bungsu korban mengaku sedih tidak sempat berjumpa sang ayah sebelum peristiwa naas tersebut.
"Sebelum papa mau antar uang dan pakaian ke kampus (Universitas Sriwijaya) di Indralaya, saya coba hubungi, tapi papa tidak angkat (telepon)," kata Misbach Hilal saat dijumpai di kediamannya di Jalan Banten 4 Lorong Rukun Nomor 19 RT 32, Plaju, usai pemakaman.
Hari itu sekitar pukul 13.00, Misbach Hilal menghubungi ayahnya namun tidak ada jawaban.
• Sosok Bambang Pudi Astomo Guru SMPN 35 Palembang Tewas Kecelakaan, Suka Melawak dan Jarang Marah
Sekitar pukul 16.00, ia baru mengetahui ayahnya meninggal setelah mendatangi Puskesmas Indralaya.
"Saya lagi kerjakan tugas, lalu dipanggil mama disuruh ke apartemen mahasiswa. Lalu aaya sama mama ke Puskesmas Indralaya. Di situ saya lihat papa dimasukkan ke mobil ambulan," kata mahasiswa semester 1 jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya (Unsri) itu.
Sebelumnya diberitakan, Bambang Pudi Astomo (59), warga Plaju, Palembang tewas setelah ditabrak mobil truk di depan akses KTM Rambutan tol Palindra pada Selasa (3/9/2019) petang.
Sebelum meninggal dunia, korban kecelakaan di Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum) pada Selasa (3/9/2019) lalu, Bambang Pudi Astomo, sempat menitip pesan pada putra bungsunya.
"Papa bilang saya harus semangat dan rajin belajar. Itu selalu papa sampaikan pada saya," ujar Misbach Hilal Afif.
Misbach merupakan mahasiswa semester 1 jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Sriwijaya (Unsri).
Ia menuturkan, sang ayah biasa mengantar keperluan kuliah ke Indralaya.
"Papa biasa kasih uang, pakaian, keperluan saya di apartemen mahasiswa (Unsri). Kadang seminggu sekali, kadang beberapa hari sekali, tidak tentu," kata remaja 18 tahun tersebut.
Bambang Pudi Astomo meninggal dalam usia 59 tahun.
• Sosok Bambang Pudi Astomo Guru SMPN 35 Palembang Tewas Kecelakaan, Suka Melawak dan Jarang Marah
Bambang meninggalkan seorang istri bernama Sri Ambarwati dan dua orang putra bernama Hidayat Fadilah dan Misbach Hilal Afif.
Jenazah korban dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gunung Semeru, Silaberanti, Plaju, pada Rabu (4/9/2019) pukul 10.00.
Tewasnya Bambang Pudi Astomo (59)
dalam kecelakaan di Jalan Lintas Palembang-Indralaya, meninggalkan kesedihan mendalam di hati murid-muridnya.
Wali kelas VIII.8 di SMPN 35 Palembang itu, dikenal sebagai guru yang humoris, ramah dan tidak mudah marah pada murid-muridnya.
"Saat di kelas, Pak Bambang suka melawak. Saat beliau mengajar, suasana kelas tidak membosankan,"kata Neyza Azzahra yang merupakan siswa kelas VIII. 8 SMPN 35 Palembang.
Itulah mengapa, saat mendengar kabar tewasnya Bambang dalam kecelakaan, menjadi kabar yang begitu mengejutkan bagi seluruh jajaran di SMPN 35 Palembang Termasuk Neyza beserta teman-temannya.
Neyza mengaku merasa sedih dan sempat termangu saat pertama kali mendengar kabar tersebut
"Sempat syok juga, rasanya tidak percaya. Soalnya kemarin masih bertemu di sekolah. Saya juga sempat salaman sama beliau,"ujarnya.
• Sosok Bambang Pudi Astomo Guru SMPN 35 Palembang Tewas Kecelakaan, Suka Melawak dan Jarang Marah
Selain sebagai wali kelas VIII. 8, Bambang juga mengajar mata pelajaran IPA Fisika.
"Kami tadi sempat membaca Yasin bersama di sekolah untuk almarhum pak Bambang,"ujarnya.
Pantauan Tribunsumsel.com di rumah duka yang bertempat di jalan KH Balqi Banten IV gang rukun Palembang, ramai di datangi kerabat, rekan dan murid Bambang.
Dilakukan pula upacara penghormatan terakhir bagi almarhum Bambang dari jajaran PGRI Kota Palembang.
Adapun kronologi meninggalnya seorang guru Fisika di SMPN 35 Palembang itu membuat duka yang dalam bagi keluarga.
Diketahui Bambang Pudi Astomo (59) warga Lorong Banten IV Plaju meninggal dunia karena kecelakaan.
Kecelakaan maut terjadi di Jalan Lintas Palembang - Indralaya, tepatnya di depan Gerbang Tol KTM Rambutan Palembang - Indralaya (Palindra) sekira pukul 16.00 WIB.
• Sosok Bambang Pudi Astomo Guru SMPN 35 Palembang Tewas Kecelakaan, Suka Melawak dan Jarang Marah
Kasat Lantas Polres Ogan Ilir AKP Desi Aryanti melalui Kanit Laka Ipda Iwan, membenarkan kejadian tersebut.
Detik-detik terjadinya kecelakaan, sebuah motor Supra Fit bernopol BG 3926 PV dikendarai Bambang terlibat kecelakaan dengan sebuah trus ber-as 3 dengan nopol BG 8220 XA.
Sayang, supir truk tersebut yang diketahui bernama Rahmat (40) melarikan diri saat kecelakaan tersebut. Sehingga Polisi masih melakukan penyidikan terkait kecelakaan itu.
"Kronologi lengkapnya masih kita lakukan pengembangan. Untuk saat ini, info itu dulu yang bisa kita berikan," jelasnya.