Kerja Setiap Hari, Petani Karet di OKUS Hanya Berpenghasilan Rp 700 Ribu Sebulan

Harga karet yang cukup murah, petani asal Desa Rantau Panjang Kecamatan Buay Rawan Zamidi (60)

Kerja Setiap Hari, Petani Karet di OKUS Hanya Berpenghasilan Rp 700 Ribu Sebulan
ALAN/SRIWIJAYA POST
Petani di OKU Selatan sedang menyadap karet. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MUARADUA--Harga karet yang cukup murah, petani asal Desa Rantau Panjang Kecamatan Buay Rawan Zamidi (60) yang bekerja setiap hari 1 bulan penuh hanya berpenghasilan bersih Rp 700 ribu, perbulannya.

Menurut petani yang mengurus kebun karet dengan sistem sewa atau paru tersebut, penghasilan Rp 700 ribu rupiah dalam satu bulan sangat pas-pasan untuk ekonomi keluarga.

"Kalo dengan harga sekarang Rp 8.700 perkilonya sangat pas-pasan, terima bersih setelah dipotong untuk keperluan penyadapan dan dibagi pada pemilik kebun hanya Rp 700 ribu dalam satu bulan,"terang Zamidi.

Bekerja sebagai penyewa kebun sistem bagi hasil atau paru dirinya menuturkan dalam satu bulan bekerja setiap hari menyadap karet dengan hasil jual setiap bulannya Rp 3 juta rupiah yang harus dibagi kepada pemilik kebun.

Tidak hanya itu, biaya perawatan dan persiapan dalam penyadapan juga memerlukan biaya, dengan demikian dengan harga karet yang rendah penghasilan sangat pas-pasan.

Lantaran ekonomi yang mencekik, petani karet tetap memaksakan menyadap karet untuk kebutuhan ekonomi, walaupun kondisi pohon karet dan cuaca yang kurang mendukung musim kemarau.
"Seharusnya di istirahatkan dulu, karena sedang musim kemarau dan juga musim gugur daun, namun karena kebutuhan ekonomi maka kita terus lakukan penyadapan sebagai sumber penghasilan,"keluh Dia.

Ditambahkan petani yang mengurus 1 Ha lebih kebun karet ini telah, pasca dilanda musim kemarau hasil penyadapan sangat berkurang hingga hampir mencapai 20 persen.
"Kalau biasanya saat cuaca normal dalam 1 Ha bisa menghasilkan getah 6-7 kwintal, namun saat ini mengalami penurunan hingga 4 hingga 5 kwintal,"terang Zamidi.

Selain itu harga karet menjelang peringatan HUT RI kembali mengalami penurunan yang sangat signifikan hingga mencapai sepuluh persen dari harga normal.
"Kemaren sempat tembus 9.000 perkilonya namun saat memasuki peringatan 17 Agustus kembali turun hingga Rp 8.700 saja,"pungkasnya.

Diketahui selain sebagai penduduk berpenghasilan mayoritas sebagai petani Kopi di Kabupaten OKU Selatan juga sebagian sebagai petani karet.

SRIPOKU.COM/ALAN NOPRIANSYAH
Petani Karet : Petani karet Zamili saat sedang melakukan penyadapan dikebun karet Desa Rantau Panjang Kecamatan Buay Rawan, Selasa (6/8/2018).

Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved