Minim Stok, Pabrik Karet di Sumsel Terancam Gulung Tikar

Pabrik-Pabrik di Provinsi Sumatera Selatan terancam gulung tikar dikarenakan berkurangnya pasokan bahan baku

Minim Stok, Pabrik Karet di Sumsel Terancam Gulung Tikar
Sripo/ Evan Hendra
Ilustrasi. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Rahmaliyah

TRIBUNSUMSEl.COM, PALEMBANG -- Pabrik-Pabrik di Provinsi Sumatera Selatan terancam gulung tikar dikarenakan berkurangnya pasokan bahan baku, pasca serangan wabah penyakit gugur daun (Pestalotiopsis sp) menyerang perkebunan karet di Sumsel.

Ketua Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Wilayah Sumsel, Alex K Eddy menyebutkan, kasus serangan wabah penyakit ini sudah terjadi sejak 2017 hanya saja di akhir 2018 sampai 2019 semakin parah.

Akibatnya, produksi karet Sumsel turun drastis mencapai 20 persen, begitupun pasokan karet ke pabrik juga mengalami hal serupa.

Kota Palembang Targetkan Pertahankan Juara Umum di Porprov 2019 di Prabumulih

Ribut dengan Rekan Kerja, Pemuda Palembang Ini Dipukuli Pakai Kayu Balok

"Stok sekarang sudah menipis, beberapa pabrik telah melakukan efisiensi dari biasanya produksi bisa tiga shift sekarang hanya 1-2 Shift, karena mereka tetap harus survive. Bahkan, ada beberapa pabrik yang sudah stop produksi sekarang," jelasnya, Kamis (25/7/2019)

Menurut Alex, menipisnya stok karet membuat pabrik tidak bisa memproduksi dengan full kapasitas sebab jika tetap dilakukan cost produksi bisa meningkat. "Dengan stok 60-70 persen saja itu sudah kita nilai baik, tapi kalau dibawah itu biaya produksinya besar," ujarnya.

Pasca wabah menyerang, saat ini hasil produksi karet Sumsel hanya mampu menghasilkan sekitar 800.000 ton. Padahal, Pabrik-pabrik di Sumsel telah berinvestasi untuk menghasilkan produksi 1,5 Juta ton. "Tetapi sejauh ini belum pernah tercapai produksi ideal, terlebih ada wabah ini produksi tambah turun dan suplai bahan baku kurang. Disinilah pabrik harus pandai-pandai berefisiensi agar tetap bertahan," jelasnya.

Lanjut Alex, untuk tetap bisa berkompetisi, pabrik-pabrik berupaya mendapatkan pasokan dari luar Sumsel, seperti dari Riau dan Jambi. Kemudian, pengusaha juga membeli karet diatas harga yang ditetapkan Rp 16.800.

"Kita beli diatas Rp 17 Ribu, pengusaha sebutnya beli rugi agar pabrik dan pekerja tetap hidup," ujarnya.

Ia mengharapkan, Pemerintah harus segera turun tangan untuk menanggulangi penyakit daun ini pasalnya, wabah tersebut dapat menular dengan cepat. Jika dibiarkan, penularan wabah bisa menyebar luas. "menularnya itu bisa dari baju atau sepatu yang kita kenakan saat ke lokasi lahan yang terserang wabah, sehingga saat kita ke lahan karet yang sehat maka bisa ikut tertular," ungkapnya.

Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan juga sebaiknya dapat memaksimalkan Balai Penelitian Sembawa agar lahan-lahan petani karet bisa ditanggulangi.(cr26)

Editor: Prawira Maulana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved