Mutilasi Ogan Ilir

7 Saksi Sudah Diperiksa Terkait Kasus Mutilasi Karoman, Kepala dan Tangan Belum Ditemukan

Kasus mutilasi terhadap korban Karoman, hingga kini masih dalam penyelidikan dari Satreskrim Polres Ogan Ilir.

Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Prawira Maulana
TRIBUN SUMSEL
Kabid Humas Polda Sumsel Kombes Pol Supriadi. 

Hingga saat ini, yang bisa dilakukan keluarga hanyalah mendoakan arwah almarhum dan berharap proses pemulangan dan pemakaman jenazah berjalan lancar.

"Mudah-mudahan saja bisa (memulangkan jenazah) Senin ini," tukas Mardiah sambil sesekali menyapu air mata.

Mardiah, istri Karoman korban mutilasi di Ogan Ilir, hingga kini tak menyangka suaminya meninggal dengan cara sadis dengan kondisi tubuh tidak utuh.

Karoman ditemukan tewas tanpa kepala dan kedua tangan di sebuah rawa di Desa Pinang Mas, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir (OI) pada Kamis (6/6/2019) pukul 10.00.

Kini jenazah masih berada di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumsel, sembari menunggu potongan kepala dan kedua tangan yang masih dicari polisi dan warga desa setempat.

Mardiah sebagai istri sangat terpukul atas kepergian suami tercinta.

Baginya, Karoman merupakan sosok suami yang santun dan tidak pernah menghardik, apalagi berkata kasar.

"Salah apa suami saya? Orang sebaik itu, marah pun tidak pernah. Bentak-bentak tidak pernah. Sangat lembut kalau bicara atau menasihati anak-anak kami," kata Mardiah kepada TribunSumsel.com yang menyambangi kediamannya di Desa Pinang Mas, Sabtu (8/6/2019).

Tidak hanya kepada ia dan anak-anak, lanjut Mardiah, suaminya itu juga dikenal baik dan tidak pernah ada masalah dengan tetangga atau siapapun warga desa setempat.

"Kalau panggil orang dari jauh saja dia (Karoman) tidak teriak-teriak. Orangnya sangat lembut, pakai perasaan kalau ngomong. Saya tahu persis karena saya sudah 17 tahun berumah tangga," ucap Mardiah tak kuasa menahan air mata.

Ia mengaku tidak habis pikir ada orang tega menghabisi nyawa suaminya dengan keji.

Apalagi, kini organ tubuh Karoman yakni kepala dan kedua tangan belum ditemukan.

"Apa salah suami saya? Kenapa orang itu (pelaku pembunuh) bisa tega? Saya minta kalau dapat pembunuhnya dihukum mati saja," katanya dengan suara tangis yang makin menjadi-jadi.

Kini Mardiah harus berjuang sendiri menghidupi kelima anaknya yang masih kecil, tanpa diamalkan sang suami yang telah tiada.

"Sekarang saya sendiri yang cari uang dan mendidik anak saya. Mau minta bantuan saudara, kondisi ekonomi kami sama-sama prihatin," kata Mardiah sambil memegangi bingkai foto sang suami.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved