Mutilasi Ogan Ilir

Jeritan Pilu Istri Karoman Korban Mutilasi Ogan Ilir: Salah Apa Suami Saya? Dia Cuma Petani

Kesedihan terus menyelimuti keluarga Karoman, korban mutilasi di Desa Pinang Mas, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Penulis: Agung Dwipayana | Editor: Prawira Maulana
AGUNG DWIPAYANA/TRIBUNSUMSEL.COM
Mardiah, istri Karoman, korban pembunuhan dan mutilasi di Sungai Pinang, Ogan Ilir. 

Jeritan Pilu Istri Karomah Korban Mutilasi: Salah Apa Suami Saya? Dia Cuma Petani

TRIBUNSUMSEL.COM, OGAN ILIR - Kesedihan terus menyelimuti keluarga Karoman, korban mutilasi di Desa Pinang Mas, Kecamatan Sungai Pinang, Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Karoman ditemukan tewas dengan kondisi tanpa kepala dan kedua tangan di rawa desa setempat.

Kini jasad korban masih berada di Rumah Sakit Bhayangkara Palembang, menunggu dijemput pihak keluarga.

Sehari sebelumnya, di hari saat jasad korban ditemukan, Kamis (6/6/2019), Mardiah istri korban mengungkapkan bahwa suaminya itu merupakan tulang punggung keluarga.

"Suami saya setiap hari cari nafkah. Dia selalu memperhatikan keluarga dan tidak punya masalah dengan siapapun," ujar Mardiah kepada TribunSumsel saat berada di lokasi penemuan mayat suaminya, Kamis (6/6/2019).

Cerita Sedih di Balik Mutilasi Karoman: Cari Ikan Malam Lebaran Demi Makan Berakhir Tewas Dimutilasi

Hasil Autopsi Mutilasi Ogan Ilir: Banyak Luka Bekas Senjata Tajam di Tubuh Korban Mutilasi Ogan Ilir

Karoman meninggal dunia di usia 40 tahun. Almarhum meninggalkan 5 orang anak yang masih kecil, yakni Agus Triadi (15 tahun), Ahmad Komar (11 tahun), Fitrianti (9 tahun), Nurul Usna (5 tahun) dan Miftahul Jannah (2 tahun).

Di tengah kesedihan karena kematian suami dengan cara sadis, Mardiah harus memikirkan bagaimana cara menghidupi kelima anaknya.

"Sekarang suami sudah tidak ada. Bagaimana kami mau menyambung hidup. Anak paling tua saja tidak lanjut sekolah setelah tamat SD, karena tidak ada biaya," kata Mardiah sambil mengusap air mata.

Rabu malam sebelum tewasnya Karoman, kata Mardiah, suaminya itu pamit keluar rumah untuk mencari ikan di rawa desa setempat.

Tidak ada kecurigaan sedikit pun pada diri Mardiah karena memang begitulah aktivitas suaminya selain bercocok tanam.

"Suami saya selalu berusaha cari uang Rp 50 ribu sehari untuk menghidupi kelima anak kami. Kalau tidak cari ikan, tidak makan karena memang sedang tidak ada (makanan) di rumah," ucapnya.

Namun hingga larut malam, Karoman tak kunjung pulang.

Keesokan harinya sekitar pukul 08.00, putra sulung Karoman, Agus, menemukan bambu untuk mengemudikan perahu milik ayahnya.

Namun sang ayah beserta perahu tidak ada di lokasi bambu ditemukan.

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved