Gerhana Bulan 21 Januari 2019: Tata Cara Sholat Gerhana dari Niat Hingga Salam
Gerhana Bulan 21 Januari 2019: Tata Cara Sholat Gerhana dari Niat Hingga Salam
Gerhana Bulan 21 Januari 2019: Tata Cara Sholat Gerhana dari Niat Hingga Salam
TRIBUNSUMSEL.COM-Gerhana Bulan Total akan muncul di langit bumi pada 21 Januari 2019 mendatang
ilansir dari laman timeanddate.com, pada tanggal 21 Januari 2019 mendatang fenomena gerhana bulan akan kembali terjadi
Gerhana bulan ini sebenarnya dapat dilihat dari negara manapun saat malam hari dan langit cerah
Tapi di beberapa daerah, gerhana bulan akan terlihat secara utuh
Pada gerhana bulan yang akan terjadi 21 Januari 2019 mendatang, wilayah yang bisa menyaksikannya dengan jelas adalah Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, Afrika, dan sebagian wilayah Asia.
Dalam Islam mengajarkan bahwa Gerhana Matahari dan Gerhana Bulan adalah peristiwa astronomi yang merupakan tanda-tanda kebesaran Allah.
Hal ini tidak berkaitan dengan nasib buruk seseorang.
Oleh karena ini Rasulullah SAW menganjurkan kepada pengikutnya untuk mendirikan sholat sunnah Gerhana.
Dikutip dari e-book yang diterbitkan di website http://simbi.kemenag.go.id, ada beberapa dalil yang menyebut soal Gerhana.
Termasuk saran mendirikan solat gerhana mulai dari niat dan tata cara sholat Gerhana.
Dasar Sholat Gerhana
Artinya: Dari ‘Aisyah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari lalu
Rasulullah saw memerintahkan seseorang menyerukan ash-shalata jami‘ah. Kemudian
orang-orang berkumpul, lalu Rasulullah saw shalat mengimami mereka. Beliau bertakbir ....,
kemudian membaca tasyahhud, kemudian mengucapkan salam. Sesudah itu beliau berdiri
di hadapan jamaah, lalu bertahmid dan memuji Allah, kemudian berkata: Sesungguhnya
Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang, akan
tetapi keduanya adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Maka apabila yang mana pun
atau salah satunya mengalami gerhana, maka segeralah kembali kepada Allah dengan zikir
melalui shalat [HR. an-Nasai].
Artinya: Dari ‘Aisyah, isteri Nabi saw, (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Pernah terjadi
gerhana matahari pada masa hidup Nabi saw. Lalu beliau keluar ke mesjid, kemudian
berdiri dan bertakbir dan orang banyak berdiri bershaf-shaf di belakang beliau. Rasulullah
saw membaca (al-Fatihah dan surat) yang panjang, kemudian bertakbir, lalu rukuk yang
lama, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan sami‘allahu li man hamidah,
rabbana wa lakal-hamd, lalu berdiri lurus dan membaca (al-Fatihah dan surat) yang panjang, tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian bertakbir lalu rukuk yang lama,
namun lebih pendek dari rukuk pertama, kemudian mengucapkan sami‘allahu li man
hamidah, rabbana wa lakal-hamd, kemudian beliau sujud. Sesudah itu pada rakaat terakhir
(kedua) beliau melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, sehingga selesai
mengerjakan empat rukuk dan empat sujud. Lalu matahari terang (lepas dari gerhana)
sebelum beliau selesai shalat. Kemudian sesudah itu beliau berdiri dan berkhutbah kepada
para jamaah di mana beliau mengucapkan pujian kepada Allah sebagaimana layaknya,
kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua dari tanda-tanda
kebesaran Allah, dan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang.
Apabila kamu melihatnya, maka segeralah shalat [HR Muslim].
Waktu Shalat Gerhana dan Orang yang dapat mengerjakannya
Shalat gerhana dilaksanakan pada saat terjadi gerhana sampai dengan usai gerhana, baik pada saat gerhana Matahari maupun gerhana Bulan, pada gerhana total atau gerhana sebagian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/gerhana-bulan-total-di-palembang-sabtu-2872018_20180729_015528.jpg)