Gerhana Bulan 21 Januari 2019: Tata Cara Sholat Gerhana dari Niat Hingga Salam

Gerhana Bulan 21 Januari 2019: Tata Cara Sholat Gerhana dari Niat Hingga Salam

Gerhana Bulan 21 Januari 2019: Tata Cara Sholat Gerhana dari Niat Hingga Salam
TRIBUNSUMSEL.COM/M A FAJRI
GERHANA BULAN - Gerhana bulan total di Palembang, Sabtu (28/7/2018). Gerhana bulan ini merupakan gerhana yang terlama untuk abad ini (TRIBUNSUMSEL/M.A.FAJRI) 

Termasuk saran mendirikan solat gerhana mulai dari niat dan tata cara sholat Gerhana.

Dasar Sholat Gerhana

Dasar Sholat Gerhana
Dasar Sholat Gerhana (Muhammadiya.or.id)

Artinya: Dari ‘Aisyah (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari lalu
Rasulullah saw memerintahkan seseorang menyerukan ash-shalata jami‘ah. Kemudian
orang-orang berkumpul, lalu Rasulullah saw shalat mengimami mereka. Beliau bertakbir ....,
kemudian membaca tasyahhud, kemudian mengucapkan salam. Sesudah itu beliau berdiri
di hadapan jamaah, lalu bertahmid dan memuji Allah, kemudian berkata: Sesungguhnya
Matahari dan Bulan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang, akan
tetapi keduanya adalah dua dari tanda-tanda kebesaran Allah. Maka apabila yang mana pun
atau salah satunya mengalami gerhana, maka segeralah kembali kepada Allah dengan zikir
melalui shalat [HR. an-Nasai].

Dasar Sholat Gerhana
Dasar Sholat Gerhana (Muhammadiya.or.id)

Artinya: Dari ‘Aisyah, isteri Nabi saw, (diriwayatkan) bahwa ia berkata: Pernah terjadi
gerhana matahari pada masa hidup Nabi saw. Lalu beliau keluar ke mesjid, kemudian
berdiri dan bertakbir dan orang banyak berdiri bershaf-shaf di belakang beliau. Rasulullah
saw membaca (al-Fatihah dan surat) yang panjang, kemudian bertakbir, lalu rukuk yang
lama, kemudian mengangkat kepalanya sambil mengucapkan sami‘allahu li man hamidah,
rabbana wa lakal-hamd, lalu berdiri lurus dan membaca (al-Fatihah dan surat) yang panjang, tetapi lebih pendek dari yang pertama, kemudian bertakbir lalu rukuk yang lama,
namun lebih pendek dari rukuk pertama, kemudian mengucapkan sami‘allahu li man
hamidah, rabbana wa lakal-hamd, kemudian beliau sujud. Sesudah itu pada rakaat terakhir
(kedua) beliau melakukan seperti yang dilakukan pada rakaat pertama, sehingga selesai
mengerjakan empat rukuk dan empat sujud. Lalu matahari terang (lepas dari gerhana)
sebelum beliau selesai shalat. Kemudian sesudah itu beliau berdiri dan berkhutbah kepada
para jamaah di mana beliau mengucapkan pujian kepada Allah sebagaimana layaknya,
kemudian beliau bersabda: Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua dari tanda-tanda
kebesaran Allah, dan tidak mengalami gerhana karena mati atau hidupnya seseorang.
Apabila kamu melihatnya, maka segeralah shalat [HR Muslim].

Waktu Shalat Gerhana dan Orang yang dapat mengerjakannya
Shalat gerhana dilaksanakan pada saat terjadi gerhana sampai dengan usai gerhana, baik pada saat gerhana Matahari maupun gerhana Bulan, pada gerhana total atau gerhana sebagian.

Apabila gerhana usai sementara shalat masih ditunaikan, maka shalat tetap dilanjutkan dengan memperpendek bacaan.

Adapun orang yang dapat mengerjakan shalat gerhana adalah mereka yang mengalami gerhana atau berada di kawasan yang dilintasi gerhana.

Orang yang berada di kawasan yang tidak dilintasi gerhana tidak perlu mengerjakan shalat gerhana. 

3. Tata Cara Shalat Gerhana

Shalat gerhana dilaksanakan secara berjamaah, tanpa adzan dan iqamah.

Dilaksanakan dua rakaat, pada setiap rakaat melakukan rukuk, qiyam dan sujud dua kali.

Halaman
1234
Penulis: Muhammad Edward
Editor: Siemen Martin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved