Breaking News:

Koleksi Cerita Dongeng Anak Terbaru Menghibur, Mulai dari Kisah Putri Cempaka Sampai Anak Keledai

Apa saja cerita mu hari ini? tribunsumsel.com punya beberapa cerita dongeng menarik untuk kalian semua. Mau baca dongeng tentang apa

Editor: Wawan Perdana
Dok. Majalah Bobo/dhian
Dongeng Anak Keledai Bertelinga Panjang 

Namun, permintaan Bibi Kenanga ternyata tak bisa ditolak. Putri Cempaka kesal. Ia lalu memanggil dayang Yayang yang selalu membelanya.

“Dayang tahu, kan, aku ingin bersantai di hari sabtu dan minggu. Aku pasti tegang kalau harus bersama Bibi Kenanga. Apa yang harus aku lakukan?” tanya Putri Cempaka.

Dayang Yayang tiba-tiba teringat sesuatu.

“Kau ingat, penyihir Dumdam pernah membuat patungmu yang terbuat dari lilin. Itu kan mirip sekali. Patung itu juga bisa bicara dan berjalan seperti kamu betulan,” kata dayang Yayang.

“Wah, iya. Penyihir Dumdam memang sangat hebat. Patung itu kan mirip sekali dengan aku,” kata Putri Cempaka.

Akhirnya dayang Yayang mengendap masuk ke ruang galeri istana. Ia membawa patung Putri Cempaka ke kamar sang putri. Ia mengganti dengan gaun terbaru. Dayang lalu menekan tombol untuk menghidupkan patung itu.

Tak lama kemudian, patung itu sudah naik kereta kuda menuju ke istana Bibi Kenanga. Ketika masuk ke istana Bibi kenanga, sang Bibi menyambutnya dengan sopan. Bibi Kenanga sengaja memberi contoh agar Putri Cempaka bersikap sopan juga.

“Selamat siang, Bibi Kenanga. Apakah Bibi sehat?” tanya patung lilin Putri Cempaka sambil membungkuk sedikit memberi hormat.

Oo, Bibi Kenanga melongo kagum melihat kesopanan Putri cempaka. Ia tak tahu kalau itu adalah patung ajaib penyihir istana.

Baca Juga : Kafe Bertema Harry Potter Ini Membuat Pengunjung Serasa di Hogwarts

Bibi Kenanga lalu mengajak putri cempaka makan siang. Patung lilin putri cempaka makan dengan pelan dan sangat sopan. Ia mengucapkan terima kasih setiap kali Bibi Kenanga meletakkan makanan di piringnya. Ia mengelap mulutnya kalau ada sisa makanan.

Sementara itu, Putri Kenanga yang asli ternyata berkunjung ke rumah penyihir Dumdam di hutan. Ia , penyihir Dumdam dan dayang Yayang minum teh bertiga di bawah pohon besar yang berbunga indah.

Mereka sambil membicarakan flora dan fauna. Putri Cempaka memang suka sekali belajar tentang bunga dan hewan-hewan.

Di hari minggu berikutnya, giliran Putri Mawar dan kamboja yang menginap di rumah Bibi Kenanga. Mereka adalah kakak Putri Cempaka. Mereka sangat heran mendengar cerita Bibi Kenanga tentang Putri Cempaka yang katanya telah berubah menjadi sangat sopan.

Ketika pulang ke istana, Putri Kamboja dan Mawar menghampiri Putri Cempaka yang sedang berlarian di taman istana mengejar Undut, kucingnya. Mereka memanggil Putri Cempaka dan melihat dengan mata curiga.

“Aku yakin, pasti kamu melakukan sesuatu di rumah Bibi Kenanga. Tidak mungkin kelakuanmu manis selama dua hari di sana,” kata kedua kakaknya.

Putri Cempaka hanya tersenyum. Ia tak berniat menceritakan kejadian yang sebenarnya hari itu juga. Ia berniat menceritakannya pada ibunya dulu dua tiga hari lagi. Ibunya pasti akan mengerti.

“Akan kuceritakan beberapa hari lagi,” kata Putri cempaka sambil tersenyum jahil. “Sekarang, akan aku ambilkan es krim untuk berdua. Tadi aku minta dayang Yayang membeli tiga untuk kita bertiga,” katanya lagi.

Putri Mawar dan Kamboja heran melihatnya. Mereka mau bertanya lagi. Untunglah Dayang Yayang lewat. Putri langsung memanggilnya,

“Dayaaang… tolong bantu aku mengganti seprei tempat tidurku!” seru Putri Cempaka sambil berlari mengikuti dayang kesayangannya.

3. Anak Keledai Bertelinga Panjang

Pak Pedi baru saja membeli seekor keledai muda. Keledai itu nantinya akan membawa barang-barang dagangannya. Pak Pedi biasanya melewati terowongan yang menembus gunung untuk menuju ke desa di seberang gunung.

Keledai Pak Pedi itu diberi nama Elka. Menurut Pak Pedi, Elka sangat cantik karena bertelinga panjang dan menjulang lancip ke atas. Hidung Elka juga sangat lembut.

Hari ini adalah hari pertama Elka bekerja. Pak Pedi meletakkan barang dagangan di punggung Elka, lalu menuntunnya berjalan menuju terowongan di kaki gunung.

Semula, semua berjalan lancar. Namun saat akan melewati terowongan, Elka tiba-tiba tak mau berjalan lagi. Ia terdiam di depan terowongan.

Pak Pedi berusaha mendorong tubuh Elka agar mau masuk ke terowongan. Namun keledai muda itu tetap bertahan. Pak Pedi akhirnya menyadari sesuatu.

“Astagaaa… aku baru sadar kalau terowongan ini agak rendah! Elka tak bisa lewat karena telinganya akan tersangkut di langit-langit terowongan!” seru Pak Pedi.

Pak Pedi berusaha membujuk Elka. Ia mengusap-usap kepala Elka dan berbisik, “Elka sayang, kau harus melipat telingamu supaya kita bisa melewati terowongan ini! Kita harus membawa barang-barang dagangan ini ke desa seberang.”

Sayangnya, sebagai keledai, Elka sangat keras kepala. Ia tak mau mendengar perintah Pak Pedi. Ia tetap berdiri dengan telinganya yang tegak ke atas. Ia samasekali tak mau menekuk telinga indahnya.

Pak Pedi sangat bingung. Ia berpikir sejenak, dan akhirnya mendapat ide. Ia membuka barang dagangannya di punggung Elka dan mencari sesuatu. Akhirnya, Pak Pedi menemukan sebuah alat pahat.

Ia lalu mulai bekerja. Pak Pedi memahat dua cekukan alur di langit-langit terowongan batu itu. Ia bermaksud membuat dua alur itu di sepanjang terowongan, sampai ke ujung satunya.

Kedua alur itu kira-kira cukup untuk dilewati kedua telinga Elka. Kedua alur itu akan jadi seperti rel buat telinga Elka.

Belum lama Pak Pedi bekerja, tiba-tiba datanglah seorang polisi.

“Maaf, Pak Pedi! Bapak tidak boleh sembarangan memahat terowongan! Ini pelanggaran hukum, karena Bapak merusak sarana kepentingan umum!” kata Pak Polisi.

Pak Pedi sangat bingung dituduh melanggar hukum.

“Elka, keledaiku, tidak bisa lewat di bawah terowongan ini. Telinganya terlalu panjang. Saya cuma membuat dua alur di langit-langit terowongan. Supaya telinganya bisa lewat,” jelas Pak Pedi.

Pak Polisi melepas topinya dan menggaruk kepalanya karena bingung. Ia berpikir, apa yang harus dilakukannya untuk membantu Pak Pedi. Akhirnya, ia mendapat ide.

“Pak Pedi, apakah Bapak punya sekop? Kalau punya, lebih baik Bapak menggali tanah di sepanjang terowongan ini. Ketebalan galiannya secukupnya saja. Supaya ada ceruk sampai di ujung terowongan. Jadi, Elka bisa lewat tanpa harus menekuk telinganya!” saran Pak Polisi.

Sayangnya, pemikiran Pak Pedi betul-betul sederhana. Ia malah cemberut dan menggerutu,

“Kenapa aku harus menggali tanah untuk membuat ceruk? Apa Pak Polisi tidak lihat? Yang panjang itu telinga Elka, bukan kakinya!”

Pak Polisi tak mau membuang waktu. Ia tak peduli apa yang dipikirkan Pak Pedi. Pak Polisi segera menggali ceruk tipis di tanah di sepanjang terowongan. Pak Pedi terpaksa membantunya.

Beberapa saat kemudian, pekerjaan mereka selesai. Kini tampak ada parit tipis di sepanjang terowongan. Elka pun bisa lewat di terowongan itu dengan membawa barang dagangan. Telinganya tetap berdiri tegak tanpa menyentuh langit-langit terowongan.

Walaupun begitu, Pak Pedi tetap tidak mengerti. Mengapa Elka telinga Elka bisa muat tanpa menyentuh langit-langit terowongan. Padahal yang digali adalah tanah, bukan langit-langit terowongan.

4. Nenek Penjual Bunga

Di Negeri Lima memerintah seorang raja yang lalim. Ia sering mengeluarkan undang-undang yang aneh, yang kerap kali sulit dilaksanakan.

Para menteri dan rakyat tak berani melanggar undang-undang itu karena hukuman berat pasti akan mereka terima.

Pada suatu hari, Raja Konig, demikian namanya, mengeluarkan sebuah peraturan.

“Semua penduduk Negeri Lima harus bersukaria. Tak seorang pun boleh bersedih hati,” titah Raja Konig.

Mendengar keputusan itu, penduduk Negeri Lima mengeluh.

“Lagi-lagi Raja Konig mengeluarkan undang-undang yang aneh. Lalu jika kita tertimpa bencana atau malapetaka, apakah kita tak boleh bersedih hati atau menangis? Terlalu sekali raja kita ini.”

Sejak saat itu, penduduk Negeri Lima tampak bergembira ria. Sebenarnya tak semua penduduk bergembira. Akan tetapi mereka harus selalu berpura-pura gembira. Jika seorang bersedih hati atau menangis, ia harus bersembunyi.

Kalau tidak, pastilah ia akan ditangkap dan dihukum. Ah, memang sungguh kejam Raja Konig ini.

Di Negeri Lima memerintah seorang raja yang lalim. Ia sering mengeluarkan undang-undang yang aneh, yang kerap kali sulit dilaksanakan. Para menteri dan rakyat tak berani melanggar undang-undang itu karena hukuman berat pasti akan mereka terima.

Pada suatu hari, Raja Konig, demikian namanya, mengeluarkan sebuah peraturan.

“Semua penduduk Negeri Lima harus bersukaria. Tak seorang pun boleh bersedih hati,” titah Raja Konig.

Mendengar keputusan itu, penduduk Negeri Lima mengeluh.

“Lagi-lagi Raja Konig mengeluarkan undang-undang yang aneh. Lalu jika kita tertimpa bencana atau malapetaka, apakah kita tak boleh bersedih hati atau menangis? Terlalu sekali raja kita ini.”

Sejak saat itu, penduduk Negeri Lima tampak bergembira ria. Sebenarnya tak semua penduduk bergembira. Akan tetapi mereka harus selalu berpura-pura gembira. Jika seorang bersedih hati atau menangis, ia harus bersembunyi.

Kalau tidak, pastilah ia akan ditangkap dan dihukum. Ah, memang sungguh kejam Raja Konig ini.

Pada suatu hari, datanglah seorang wanita tua menjual bunga. Ia berjualan tepat di samping pintu kerajaan. Setiap pagi jika Raja Konig berjalan-jalan, ia selalu melihat bunga-bunga yang dijual itu layu.

Seminggu kemudian, bunga-bunga yang dijajakan tetap saja seperti semua, terlihat layu. Raja Konig lalu menghampiri nenek penjual bunga itu dan bertanya,”Hai Nenek, mengapa kau menjual bunga yang sudah layu?

Apakah kau tak punya bunga-bunga yang masih segar? Tak tahukah kau bahwa semua orang di negeri ini harus bergembira ria? Jika kau menjual bunga seperti ini, aku takut rakyatku akan bersedih hati,” Raja Konig menegur Nenek Penjual Bunga.

“Maafkan hamba, Tuanku. Semua ini bukan kesalahan hamba. Bukan pul akesalahan bunga-bunga ini , karena mereka tidak mengerti undang-undang.

Lagi pula bunga-bunga yang hamba jual ini bunga istimewa, Tuanku. Mereka baru tampak segar apabila mendapat cucuran air mata manusia,” jawab Nenek Penjual Bunga.

Setelah berkata demikian, sekuntum bunga Lili menyanyikan lagu. Lagu itu sedih sekali, sehingga Raja Konig dan para pengawal yang mendengarkan mencucurkan air mata. Tak laam kemudian, bunga-bunga itu pun segar kembali, tepat seperti yang dikatakan oleh Nenek Penjual Bunga.

Sejak kejadian itu, Raja Konig sadar akan kelalimannya selama ini. Ia berjanji tidak akan pernah mengluarkan undang-undang yang aneh-aneh lagi. Ia akan selalu memberikan perhatian pada rakyatnya. (koleksi/arsip Bobo)

Sumber: Grid.ID
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved