Breaking News:

Pajak Impor Naik, Pengusaha Tunda Datangkan Barang Elektronik dan Fesyen dari Luar Negeri

Barang yang bisa dihasilkan di dalam negeri misalnya fashion, elektronik dan sejumlah barang konsumsi lainnya akan dimaksimalkan

Penulis: Hartati | Editor: Wawan Perdana
Tribunnews.com/Hendra Gunawan
Foto Ilustrasi : Proses bongkar muat peti kemas di Jakarta International Container Terminal (JICT) Jakarta 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Hartati

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kebijakan pemerintah menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 22 atau pajak impor terhadap 1.147 barang konsumsi untuk memperkecil defisit transaksi berjalan yang selama ini menjadi penyebab tertekannya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) Sumatera Selatan (Sumsel) menunda impor sejumlah barang kebutuhan.

Barang yang bisa dihasilkan di dalam negeri misalnya fashion, elektronik dan sejumlah barang konsumsi lainnya akan dimaksimalkan untuk menekan biaya distribusi.

Dikhawatirkan daya beli masyarakat akan turun jika semua produk yang dikenai kenaikan PPH diimpor semuanya.

Baca: Simon McMenemy Diisukan Bakal Latih Timnas Indonesia, ini Penjelasan Dari PSSI

Baca: VIDEO : Sriwijaya FC U-16 vs PSMS U-16, Liga 1 Laskar Wong Kito Muda Dihuni 100 Persen Pemain Lokal

"Sementara kita pending barang yang bisa dihasilkan di dalam negeri sehingga tidak harus impor, kalau semuanya diimpor akan memberatkan masyarakat," ujar Ketua Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) Sumsel Hasannuri, Sabtu (15/9/2018).

Dia berharap pemerintah bisa secepatnya mengembalikan stabilitas rupiah atau jangan membuat kebijakan yang membebankan masyarakat.

Karena jika ini dilakukan akan berdampak turunnya daya beli masyarakat sehingga berimbas juga pada barang yang dijual.

Pengusaha sulit menjual karena masyarakat keberatan dengan harga yang baru.

Sementara itu penmgusaha harus menaikkan harga jika biaya yang dikeluarkan ikut naik.

Baca: Kecewakan Istri Pertama, Sunu Fabian Unggah Video Azab Hingga Tampar Haters

Baca: Serunya Membuat Cake Unik Bersama Bogasari Baking Center Palembang, Ini Ragam Kue Inovatif Kekinian

Jika memang biayanya tidak terlalu besar bisa saja hanya dengan menekan margin tapi jika biayanya besar solusinya hanya menaikkan harga.

"Lihat saja di sejumlah daerah sudah terjadi aksi demo menuntut pemerintah bertanggung jawab atas kenaikan sejumlah kebutuhan jangan melempar tanggung jawab ke masyarakat membayar pajaknya, menaikkan harga dll," jelasnya.

Sekedar informasi, dari 1.147 barang yang disesuaikan pajak impornya dibagi menjadi 3 bagian.

Untuk 210 item komoditas, tarif PPh 22 naik dari 7,5% menjadi 10%. Termasuk dalam kategori ini adalah barang mewah seperti mobil CBU (Completely Build Up) dan motor besar.

Selain itu ada 218 item komoditas yang tarif PPh 22 naik dari 2,5% menjadi 10%.

Termasuk dalam kategori ini adalah seluruh barang konsumsi yang sebagian besar telah dapat diproduksi di dalam negeri seperti barang elektronik seperti dispenser air, pendingin mangan, lampu, keperluan sehari hari seperti sabun, sampo, kosmetik, serta peralatan masak.

Kemudian ada 719 item komoditas, yang tarif PPh 22 naik dari 2,5% menjadi 7,5%. Termasuk dalam kategori ini seluruh barang yang digunakan dalam proses konsumsi dan keperluan lainnya. Contohnya bahan bangunan, ban, peralatan elektronik audio-visual (kabel, box speaker), produk tekstil (overcoat, polo shirt, swim wear).

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved