Sedang Menyadap Getah Karet, Wanita Ini Bukan Main Kaget Ada yang Gigit Bagian Anunya, Ternyata

Nasib malang ataupun keberuntungan bisa dialami siapa saja. Waktunya pun dapat terjadi kapan saja

Penulis: Yohanes Tri Nugroho |
Ilustrasi 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG- Nasib malang ataupun keberuntungan bisa dialami siapa saja.
Waktunya pun dapat terjadi kapan saja, bahkan juga bisa bersamaan.

Seperti yang dialami Munah (45) warga Desa Perigi Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) Kamis (7/12/2017) lalu.

Kejadian yang menimpa wanita paruh baya terjadi di kebunnya yang berjarak sekitar 10 KM dari kediamannya.

Seperti biasa setiap pagi dirinya mengendarai sepeda motor bututnya menuju kebun untuk menyadap getah karet.

Semua perlengkapan telah dibawa, mulai dari alat sadap, parang, hingga ember yang alat pengangkut getah.

Tiba di kebun hari masih gelap, Munah pun memulai aktivitasnya menyadap dan memanen getah.

Bermodal penerangan senter yang dipasang di bagian kepalanya, satu persatu pohon disambanginya.

Getah karet yang telah mengering pada wadah diambil dan dikumpulkan di dalam ember.

Wadah yang telah kosong pun diletakkan lagi, dan pohon karet pun dikikis menggunakan alat sadap.

Dirinya pun bergegas menghampiri pohon lain yang hanya berjarak sekitar dua tiga meter.

Saat itulah, mendadak ada hinggap di bagian paha belakang dan langsung menggigitnya.

" Ukurannya sebesar betis , sontak langsung saya pegang dan masukkan kedalam karung dan diikat," katanya

Ia mengaku tidak sempat mengamatinya, tapi sekilas kepalanya seperti kelelawar.

Sesaat Ia memeriksa bagian belakang pahanya, tidak ada darah hanya ada luka lecet.

" Hanya lecet saja, tapi celana jeans saya bisa ditembus giginya," jelasnya

Ia pun melanjutkan pekerjaannya hingga rampung.

Dan saat hendak pulang, karung berisi hewan itupun dibawanya serta.

Belum sampai tiba di rumah, hewan yang sempat membuatnya kaget itu pun berhasil dijualnya.

"Lumayan, dibeli orang Rp. 200 ribu , kata orang itu namanya tupai terbang atau kubung," tutupnya

Kubung
Kubung (TRIBUNSUMSEL.COM/YOHANES TRI NUGROHO)

Hewan Nokturnal

Kubung atau dalam bahasa Inggris: colugo adalah hewan nokturnal sejenis tupai yang terdapat di Asia Tenggara.

Nama ilmiahnya Cynocephalus variegatus, dan termasuk dalam ordo Dermoptera.

Hewan ini memiliki kulit tipis elastis yang terdapat pada sekitar kedua kakinya, sehingga ia mampu melayang dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah.

Dalam bahasa Inggris, kubung dikenal juga dengan cobego atau flying lemur. Meskipun disebut dengan lemur yang dapat terbang, kubung bukanlah lemur dan tidak memiliki kemampuan terbang.

Kubung termasuk herbivora, ia makan tumbuh-tumbuhan seperti daun, sayuran, bunga, dan buah.

Kubung dapat dijumpai di sekitar Asia Tenggara termasuk Malaysia, Indonesia, Thailand, dan Singapura.

Bagi Suku Rejang, suara kubung yang terdengar di sekitar permukiman desa, dianggap pertanda akan ada warga yang meninggal dunia.

Sampai sekarang, mitos tersebut masih dipercaya oleh sebagian besar suku Rejang.

Salah satu jenis Kubung yakni Kubung sunda termasuk hewan hewan langkan dan dilindungi di Indonesia.

Kubung Sunda masuk dalam hewan yang dilindungi berdasar PP No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved