Punya Anak Kepalanya Ada 2 Unyeng-unyeng, Apa Benar Nakal dan Pintar? Ini Jawabannya

Anak yang punya unyeng-unyeng dua di kepala selalu sangat dikaitkan dengan sikap nakal, keras kepala dan tak mau mendengar omongan.

Punya Anak Kepalanya Ada 2 Unyeng-unyeng, Apa Benar Nakal dan Pintar? Ini Jawabannya
media tular

Dan membiarkan kata-kata orang berlalu seperti angin.

Saat anakku semakin membesar, aku sadari karakter dirinya yang ekstrovert dan aktif.

Dia mudah mengekspresikan emosinya.

Dia suka menyanyi dan mempunyai kepercayaan diri yang baik untuk kanak-kanak seusia empat tahun.

Tetapi memang kelakuan anak-anak banyak ragamnya, anakku juga tidak terkecuali.

Kadangkala dia menghiburkan tapi ada saatnya kelakuannya juga menyebabkan kami naik marah.

Satu hal yang tidak aku persetujui ialah meletakkan kesalahan kepada ciri fizik dua unyeng-unyengnya itu.

Apabila dia berbuat salah kita segera memarahinya.

Jika terlibat dalam perkelahian anak-anak, cepat saja kita menuding jari kepada si dua unyeng-unyeng tadi.

Terkadang tidak sempat dia membela diri, dan belum juga kita selidiki masalah sebenarnya.

Kita pantas menjustifikasikan situasi dan meletakannya sebagai yang salah.

Aku melihat perkembangan ini sebagai tidak sehat untuk pembinaannya sebagai individu yang berakhlak mulia.

Adakah kepala dengan dua unyeng-unyeng semestinya nakal? Wallahualam.

Pernahkah kita terfikir dua unyneng-unyeng di kepala ini ciri fisik, sama juga seperti lesung pipit dan tahi lalat?

Menilik Rahasia Tahi Lalat

Apakah adil memukul rata pribadi seseorang melalui bentuknya saja?

Lebih sedih jika kita mengaitkan dengan mitos tahayul yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Tanggapan seperti ini menanamkan stigma di dalam kepala individu di sekeliling anak tadi.

Orangtua misalnya terdorong memberi perlakuan tegas dan keras kepada anak ini semata-mata tidak mau ia menjadi nakal.

Setiap langkah karenah anak sentiasa dibayangi dia dua unyeng-unyeng, maka pintar atau dia nakal.

Orangtua secara tidak langsung telah meletakkan label kepada anaknya.

Apakah adil memandang sikap indvidu berdasarkan ciri fizikalnya?

Nah, tidakkah ia juga terpakai dalam situasi ini?

Anak Punya Dua Unyeng-unyeng Sama Saja Seperti Anak Lain

Ada waktunya apabila timbul rasa marah terhadap si anak, aku mengingat diri, dia sama saja seperti anak lain.

Akhlak dan adabnya dibentuk oleh aku dan suami.

Sikap dan pembawaan karakternya terbentuk oleh lingkungan sekitarnya.

Generalisasi dan kata orang tua jaman dulu tidak membantu perkembangan anak-anak.

Sebagai orangtua menjadi tanggungjawab kita mendidiknya menjadi anak yang baik seperti diidamkan oleh semua. (kharismats)

Editor: Kharisma Tri Saputra
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved