Wanita Menikah Dengan Pria Miskin, Saat Suami Meninggal Ia Temukan Kartu ATM yang Buatnya Menangis
Setelah pemakaman ayah dan ibu, saya memutuskan untuk berhenti sekolah. Tiada hari aku lalui tanpa hura-hura dengan uang peninggalan orang tuaku.
TRIBUNSUMSEL.COM -Perjalanan hidup seseorang memang penuh misteri.
Kita tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada diri kita di masa depan.
Mungkin sekarang dalam keadaan terpuruk, bisa saja nanti akan berjaya.
Sama seperti pengalaman wanita ini yang ia ungkapkan di happy melalui sembangmedia.
Setelah pemakaman ayah dan ibu, saya memutuskan untuk berhenti sekolah.
Tiada hari aku lalui tanpa hura-hura dengan uang peninggalan orang tuaku.
Aku mulai belajar merokok dan bergaul dengan anak-anak nakal.
Dari pergaulan tersebut aku pun berkenalan dengan seorang preman yang kemudian menjadi pacarku.
Aku sangat mencintai pacarku, ia adalah duniaku, segalanya bagiku.
Pada mulanya aku menyangka ia juga mencintaiku seperti aku mencintainya.

Tetapi ternyata tidak demikian!Ia hanya mencintai hartaku!
Ketika harta peninggalan ibu dan ayah habis, ia pun pergi meninggalkan aku!
Akhirnya aku sadar bahawa selama ini aku ada di jalan yang salah.
Aku mencari pekerjaan dan memulai hidup yang baru.
Tahun demi tahun berlalu, tak terasa aku sudah menginjak umur 28 tahun.
Di saat semua gadis seumurku sudah menikah.
Aku masih belum juga mempunyai teman lelaki.
Tak ada satu pun lelaki yang mau menikahi gadis yatim piatu dengan masa lalu kelam sepertiku ini.
Suatu hari seorang bibi di tempatku bekerja menawarkan untuk menjodohkanku dengan anak saudaranya yang tinggal di desa.
Setelah berfikir masak-masak, akhirnya aku menyetujuinya.

Selepas pertemuan pertama, aku pun menikah dengan Yono yang 4 tahun lebih tua dariku.
Walaupun aku tak mencintainya, namun Yono tetap bersikap baik terhadapku.
Kami tinggal di sebuah rumah yang disewa dan hidup pas-pasan dari pendapatan Yono sebagai buruh bangunan.
Setaun kemudian kami dikurniakan seorang anak lelaki.
Yono sangat bahagia.
Ia berjanji akan semakin giat bekerja untuk membeli rumah dan memberikan kehidupan yang lebih baik bagiku dan putra kami.
Aku hanya mendengar sambil lalu saja …
Ketika putra kami berumur 2 tahun, aku menerima telepon dari perusahaan tempat Yono bekerja.
Kepala bangunan mengatakan bahawa Yono mengalami kemalangan semasa bekerja dan nyawanya tak dapat diselamatkan.

Sepulangnya dari tanah perkuburan, aku mulai mengemas barang-barang Yono.
Ketika itu aku mendapatkan sebuah kartu ATM dengan kertas bertuliskan password.
Saat diperiksa, ternyata ada uang tabungan sebanyak 40 juta di dalamnya!
Tak lama kemudian, kepala bangunan kembali menelepon untuk memberitahu.
Bahwa perusahaan suami memberikan ganti rugi sebanyak 130 juta.
Kepala bangunan juga berkata bahawa selama ini Yono bekerja tanpa kenal lelah.
Demi membeli rumah bagiku dan anak kami.
Setelah telepon ditutup, aku menangis sekeras-kerasnya!
Hidup ini sungguh tak adil!
Mengapa orang-orang yang menyayangiku semua pergi meniggalkanku ?!
Aku terus menangis hingga tiba-tiba aku mendengar suara tangis putraku.
Aku segera menghampiri dan memeluknya erat-erat.
Ketika itu aku sadar, tak ada gunanya menyalahkan keadaan.
Tak ada gunanya larut dalam kesedihan.
Hidup akan terus berlanjutan tak peduli apa yang terjadi saat ini.
Malam itu juga, aku berjanji pada almarhum Yono, segala pengorbanannya tak akan pernah sia-sia.
Aku akan tetap kuat dan terus berjuang demi anak kami!