Pilkada Sumsel
Tren Elektabilitas Ishak Mekki Naik, Alasannya Karena Ini?
Elektabilitas mantan Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) dua periode,yang saat ini menjabat wakil Gubernur Sumsel, sudah menempel ketat terhadap calon-cal
Penulis: Arief Basuki Rohekan | Editor: M. Syah Beni
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG,--Dukungan kepada Ishak Mekki, yang akan maju sebagai calon Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), 25 Juni 2018 semakin positif.
Elektabilitas mantan Bupati Ogan Komering Ilir (OKI) dua periode,yang saat ini menjabat wakil Gubernur Sumsel, sudah menempel ketat terhadap calon-calon yang tadinya bertenger di posisi teratas.
“Dari survei terakhir yang dilakukan, kenaikkan elektoral Ishak Mekki cukup kuat dan sekarang sudah dalam arsir marjin of error. Artinya, secara statistik, tidak dapat dikatagorikan ada calon yang unggul. Dari temuan survei, antara Ishak Mekki dengan Herman Deru sudah masuk dalam arsir marjin of error. Nama Dody Reza Alex Noerdin dan Syahrial Oesman juga mengalami kenaikkan elektabilitas,” ungkap Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Publik Independen (LKPI) Arianto dalam konprensi pers bertajuk Melihat Peta Elektoral Calon-Calon Gubernur Sumsel di Hotel Grand Duta Palembang, Minggu (3/9/2017).
Elektabilitas nama-nama calon saat ini, lanjut lembaga LKPI yang tergabung dalam Perhimpunan Survei Opini Publik Indonesia (PERSEPI) ini, masih berada dalam tahapan waspada.
Ketika disodorkan lima belas nama calon-calon yang akan maju dalam Pemilukada Sumsel, Ishak Mekki ( 19,4 persen) terpaut tipis dengan Herman Deru ( 19,9 persen). Disusul Dody Reza Alex Noerdin (15,7 persen), Syahrial Oesman (13,6 persen) dan Saifudin Aswari Rivai ( 7,5 persen).
“Secara spontanitas pada pertanyaan terbuka, masih banyak pemilih yang belum memutuskan pilihannya. Namun uji variabel dengan menyodorkan nama-nama calon mulai terdeteksi kenaikkan elektoral. Diantaranya, Ishak Mekki, dan Dody Reza Alex Noerdin tampak menyedot kuat elektoral pemilih," ungkap mantan kordinator Lembaga Survei Indonesia (LSI) ini dengan lantang.

Diantara beberapa alasan pemilih menjatuhkan pilihannya kepada ketua DPD partai Demokrat Sumsel ini, diantaranya adalah responden menilai, bahwa tingkat kepuasaan publik pasangan Alex Noerdin dan Ishak Mekki, selama menjalankan roda pemerintahan daerah di Sumsel tergolong baik.
Secara personal, tingkat kepuasaan Alex Noerdin sebagai incumbent ( 74 persen), sementara Ishak Mekki sebagai wakil incumbent memiliki tingkat kepuasaan (68 persen).
Selain itu, masyarakat menilai duet pasangan Alex Noerdin dan Ishak Mekki dalam merealisasikan janji-janji kampanyenya, selama memimpin Sumsel cukup berhasil. Masyarakat menilai, 68 persen Alex Noerdin dan Ishak Mekki berhasil merealisasikan janji-janji kampanyenya.
“ Selain alasan dua tersebut, masyarakat memberikan raport yang positif terhadap Ishak Mekki.Temuan survei didapat bahwa, sebesar 67 persen Ishak Mekki dinilai masyarakat yakin akan bisa meneruskan pembangunan-pembangunan yang ada di provinsi Sumsel mendatang. Ishak Mekki juga dinilai masyarakat sangat bisa menterjemahkan apa yang diinginkan Alex Noerdin,” ungkap pria yang suka berbaju batik ini.
Lebih lanjut lelaki yang biasa disapa dengan nama Iyan ini mengatakan, dari temuan survei awal.pada bulan September 2016, elektabilitas Ishak Mekki masih berada di angka 7 persen. Kemudian pada bulan Januari 2017, dukungan elektoral Ishak Mekki berada di angka 12 persen. Survei pada bulan Mei 2017, elektabilitas Ishak Mekki juga mengalami kenaikkan menjadi 15 persen. Survei terakhir pada bulan Agustus 2017, elektabilitas Ishak Mekki diangka 19,4 persen.
“Berbekal dari pengalaman survei-survei yang dilakukan, biasanya lembaga survei akan melihat trend dari elektabilitas. Potret trend elektabilitas inilah yang akan menentukan apakah calon tersebut elektabilitasnya nanti cenderung turun, stagnan atau naik. Biasanya, kalau elektabilitas sudah cenderung turun, akan susah untuk menaikkan elektabilitas lagi. Reborn untuk mengembalikan elektabilitas lebih sulit kalau elektabilitas tersebut cenderung turun,” jelas mantan peneliti utama Benua Institute yang pernah dipakai partai Golkar pada penjaringan kepala daerah Pemilukada di Indonesia ini.
Namun demikian, lanjut Iyan, nama-nama Syahrial Oesman, Dody Reza Alex Noerdin dan Saifudin Aswari Rivai juga mempunyai peluang yang sama untuk dapat meningkatkan elektabilitas. Pergerakan elektabilitas bisa lebih cepat naik apabila calon-calon gencar melakukan, sosialisasi dengan menemui masyarakat, mempunyai tim yang kuat dilapangan dan memelihara
basis-basis daerah yang sudah menjadi lumbung suara serta menarik massa mengambang yang masih banyak belum menentukan pilihan ke calon.
Selain itu, kata Iyan, biasanya akan terjadi perubahan elektabilitas yang cukup signifikan apabila partai-partai politik sudah mengumumkan calon-calon yang akan mereka usung.