Mahluk Buas Penunggu Danau Gegas Jadi Daya Tarik Tersendiri Bagi Wisatawan yang Berkunjung
Bahkan saat ini masyarakat setempat sudah diberdayakan untuk menjaga keamanan dan menjaga parkir disekitar danau Gegas.
Penulis: Eko Hepronis | Editor: Hartati
Laporan wartawan Tribunsumsel.Com, Eko Hepronis
TRIBUNSUMSEL.COM, MUSIRAWAS -- Untuk menarik minat pengunjung datang ke Kabupaten Musirawas (Mura) saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) tengah gencar-gencarnya mempromosikan sejumlah tempat wisatanya ke kancah lokal maupun nasional.
Sejumlah tempat wisata seperti danau gegas di desa Sugi Waras Kecamatan Suka Karya pun mulai dibenahi. Berbagai sarana prasarana penunjang untuk menjadi objek wisata mulai dibangun, termasuk akses jalan menuju objek wisata mulai diperbaiki.
Dahulu danau gegas terkenal sebagai daerah rawan begal, kini perlahan-lahan berubah menjadi daerah yang mulai ramah pengunjung.
Bahkan saat ini masyarakat setempat sudah diberdayakan untuk menjaga keamanan dan menjaga parkir disekitar danau Gegas.
Namun sepekan terakhir, warga yang tinggal di seputaran danau Gegas, tepatnya di desa Sugih Waras di buat geger oleh seorang warga yang memposting foto ikan aligator di media sosial facebook.
Yang menurut informasinya hasil tangkapan warga di danau Gegas.
Ikan Aligator hasil temuan warga itu pun sempat menghebohkan warga setempat dan menjadi cerita dari mulut kemulut.
Bahkan Juri (45) penjaga pintu air danau Gegas sempat bingung karena banyak warga setempat dan dari luar yang bertanya kebenaran informasi itu.
"Saya di sini sejak tahun 2007, kurang lebih sudah 11 tahun, kalau masalah ikan berkepala buaya itu saya belum pernah dengar. Saya tanya-tanya warga yang lain, mereka juga tidak tahu," ungkap Juri Pada Tribunsumsel.Com, Minggu, (27/8).
Hanya saja, warga Desa Muara Kati, Kecamatan Tiang Pumpung Kepungut (TP) ini membenarkan bila danau gegas dihuni oleh buaya-buaya bermoncong panjang.
Bahkan cerita keberadaan reptil ganas itu masih sangat dipercayai oleh warga setempat.
"Kalau ada buaya disini memang betul, tapi saya juga tidak pernah bertemu secara langsung, namun warga sini yang sering pergi memancing kabarnya sering bertemu dan melihat secara langsung," kata Juri,
Malahan menurut cerita dari mulut ke mulut seorang warga pernah bertemu buaya sedang berjemur pagi hari. Namun buaya-buaya itu tidak pernah mengganggu warga setempat walaupun mereka sering bertemu secara langsung.
"Anak-anak sekitar sini sering mandi ditempat ini, bahkan kadang ada yang nekat menyebrang di pintu air ini mereka tidak diganggu," ucapnya.
Laki-laki bermukis tipis itu pun bercerita ketika awal ditunjuk menjadi penjaga pintu air danau Gegas, ia pernah menerawang dan mengadakan ritual. Dalam ritualnya dirinya sempat bertemu langsung dengan penguasa danau Gegas.
"Saat itu yang datang seekor buaya besar. Kami sempat ngobrol-ngobrol dan saya minta izin tinggal di sini, dia berpesan masyarakat dan pengunjung boleh datang tapi jangan sekali-sekali menantang mereka," ungkapnya.
Juri juga menceritakan danau gegas itu pertama kali di rancang tahun 1979, namun pembangunan baru dimulai tahun 1980, dan selesai tahun 1987. Tujuan awalnya sebagai waduk untuk mengairi sawah-sawah penduduk.
Tapi karena tekanan air selalu kecil. Membuatnya tidak bisa dimanfaatkan dengan maksimal.
Bendungan Gegas juga sempat terbengkalai, kini setelah ada pembangunan perlahan-lahan mulai ramai lagi oleh pengunjung yang datang berwisata.
"Pesan saya kepada para pengunjung, jangan sombong dan takabur, jangan sekali-kali menantang mereka. Apabila mereka ditantang, mereka tak segan-segan ngasar (menampakkan diri) jadi buaya sungguhan dan benar-benar mengganggu," ungkapnya.