Sentra Souvenir di Kampung Ini Mati Suri, Ini Alasannya

Sedangkan kendala yang dialami pengrajin yakni bahan baku yang susah, cetakan yang mahal dan kurangnya pemasaran.

Editor: Hartati

Laporan wartawan TribunSumsel.Com, Iswahyudi

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Sentra souvenir berbahan baku karet di Kampung Talang Kedondong, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, mati suri.

Dari 10 kelompok pengrajin, tersisa satu kelompok yang masih aktif membuat souvenir.

Saat Tribun mendatangi kampung ini, terpampang jelas di pintu masuk kampung tulisan "Sentra souvenir berbahan baku karet, Binaan Balitbangnovda, Disperindagkop dan UMKM dan PT Bukit Asam (Perseor Tbk) di Kampung Talang Kedondong, Kelurahan Kebun Bunga, Kecamatan Sukarami, Palembang".

Lalu Tribun masuk dan banyak terdapat rumah penduduk namun tidak terlihat kalau tempat tersebut sebagai sentra souvenir, hanya seperti kampung biasa.

Bahkan tidak ada ciri dari sebuah sentra souvenir seperti galeri atau tempat khusus pembuatan souvenir.

Tribun mencoba bertanya pada warga dimana pusat sentra souvenir.

Warga lalu menunjukkan sebuah rumah yang ditempati keluarga bernama Desi Tri Lestari (49).

"Inilah mas tempatnya, tempat bikin souvenir sekaligus pelatihan," kata Desi Tri Lestari pada Tribun yang mempersilahkan masuk ke dalam rumah.

Tempat pelatihan dan pembuatan souvenir yang dimaksudnya hanya ruang tamu keluarga dan teras.

"Pakai ruang tamu kalau ada pelatihan dan pembuatan souvenir. Karena kami tidak ada galeri, atau tempat khusus pembuatan souvenir," katanya yang mengaku sudah mengajukan pembuatan galeri kepada beberapa pihak namun ditolak.

Desi Tri Lestari menuturkan, seharusnya Kampung Talang Kedondong sebagai sentra souvenir berbahan baku karet memiliki galeri.

"Sering tamu-tamu dari luar yang melihat ini tempat souvenir masuk dan keliling kampung, tapi tidak menemukan pusat souvenirnya atau galeri tempat mereka mau berbelanja," jelasnya.

Desi menuturkan, kampung tersebut dulunya ramai terutama saat pelaksanaan SEA Games 2011.

"Bahkan disini ada 10 kelompok, terdiri dari 4 sampai 6 orang tiap kelompoknya dan bisa produksi 10 ribu gantungan kunci untuk SEA Games dan habis dibeli, malah kami kekurangan. Tapi setelah acara tersebut, tidak ada lagi permintaan pembuatan gantungan kunci, jadinya beberapa orang banting setir kerja lain. Saya bertahan dengan beberapa teman tapi saya juga nyambi bekerja jualan sayur. Karena permintaan pembuatan gantungan kunci berkurang, kami juga berikan pelatihan pada pelajar dan mahasiswa yang belajar disini," ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved