Betapa Angkernya Tempat ini, Warga yang Melintas Selalu Kesurupan, Ternyata itu Bekas Tempat . . .
Dan warga setempat menjulukinya sebagai sarang dedemit karena setiap warga yang memasuki kawasan itu
Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Defri
TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN- Dahulu saat masih berstatus pemerintahan Marga Pangkalan Balai tahun 1440, daerah hutan larangan ini termasuk angker.
Dan warga setempat menjulukinya sebagai sarang dedemit karena setiap warga yang memasuki kawasan itu selalu kesurupan, Jumat (2/6/2017).
Kini ratusan tahun berlalu.
Marga Pangkalan Balai menjadi ibu kota Kabupaten Banyuasin sejak memisahkan diri (dimekarkan) dari Kabupaten Musi Banyuasin (Muba) tahun 2002 yang lalu.
Baca: Pria ini Dituduh Lakukan Pencabulan di Toilet Mal, Cara Wanita ini Menyiksanya Sangat Mengerikan
Baca: Minum Air Rendaman Kurma Dicampur Susu saat Sahur, Rasakan Keajaibannya
Baca: Pria ini Pilih Salat Tarawih di Tempat ini, Ada Cerita Menyedihkan di Balik Tempat Tersebut
Sekarang hutan larangan tinggal cerita.
Warga tidak takut lagi dengan keangkeran hutan larangan, sudah tidak ada lagi dedemit.
Karena di atas hutan larangan sudah banyak gedung-gedung pusat pendidikan di Kabupaten Banyuasin.
Disana berdiri, SD percontohan Banyuasin , Sekolah Luar Biasa (SLB) Banyuasin, SMA Plus Negeri 2 Banyuasin, MAN 1 Pangkalan Balai, MTS Pangkalan Balai dan kampus AKN Banyuasin.
Diceritakan, Hazairin, mantan Kepala Desa (Kades) Pangkalan Balai (saat masih berstatus desa), dahulu hutan larangan dipenuhi hutan lebat dan semak belukar.
Warga takut saat masuk ke hutan itu karena terkenal sarang dedemit.
" Sekarang seiring geliat pembangunan Kabupaten Banyuasin, hutan angker ini sudah diberubah menjadi pusat pendidikan di Pangkalan Balai, dedemit dan keangkeran hutan larangan tinggal cerita," ungkapnya pada Tribun Sumsel..
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/hutan-larangan_20170602_095703.jpg)