Puluhan Tahun Kami Tidak Pernah Banjir Sejak Pembangunan Jalan Tol Rumah Jadi Banjir

Akibat timbunan jalan tol yang tidak ada pintu air, membuat ratusan Kepala keluarga (KK) rumahnya terendam banjir, sejak tiga pekan terakhir.

Puluhan Tahun Kami Tidak Pernah Banjir Sejak Pembangunan Jalan Tol Rumah Jadi Banjir
Sripoku.com/Mat Bodok
Warga yang mendatangi lokasi pembangunan jalan tol Kayuagung-Palembang, di Desa Celikah Kayuagung, menuntut untuk segera dibuat pintu air agar tidak menyebabkan banjir 

TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG -- Ratusan warga dari kompleks Purna Jaya Kelurahan Sukadana, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan komering Ilir (OKI) yang rumahnya terendam banjir, Senin (1/5/2017) pagi beramai-ramai mendatangi lokasi proyek pembangunan jalan tol yang dikerjakan PT Waskita di Desa Celikah.

Warga menuntut pelaksana pembangunan jalan Tol Kayuagung-Palembang, agar membuat gorong-gorong (pintu air) pada jalur penimbunan jalan tol tersebut.

Akibat timbunan jalan tol yang tidak ada pintu air, membuat ratusan Kepala keluarga (KK) rumahnya terendam banjir, sejak tiga pekan terakhir.

Rombongan masyarakat tersebut langsung diterima oleh Kepala keamanan dan Humas Pembangunan jalan tol (PT Waskita), setelah sempat berdialog dan tuntutan masyarakat dapat diakomodir oleh pihak pelaksana Proyek Tol, masyarakat langsung membubarkan diri dengan tertib.

Menurut Dayat salah satu warga korban banjir mengatakan, bahwa kedatanganya ke lokasi proyek tol bukan tidak mendukung program pemerintah, tetapi pihaknya berharap setiap pelaksanaan pembangunan harus memperhatikan dampak negatif yang ditimbulkan.

"Kami sangat mendukung sekali proyek pembangunan jalan tol ini, kami masyarakat sekitar hanya menginginkan agar timbunan untuk jalur tol ini dibuatkan gorong-gorong, sehingga air rawa ini bisa mengalir, sekarang ini aliran air tertutup oleh timbunan jalan tol, sehingga air menggenangi kampung kami," katanya.

Menurut Dayat, sudah puluhan tahun masyarakat di Kelurahan Sukadana, meski musim hujan dan banjir, kampungnya selama ini tidak pernah banjir.

"Sekarang setelah dibangun tol, aliran air tertutup sehingga kampung kami banjir, air ini sudah terjadi selama tiga pekan, air bukanya surut, tetapi semakin tinggi, apalagi hujan terus turun, ini disebabkan oleh timbunan tol yang tidak ada pintu air," jelasnya.

Masyarakat berharap, pelaksana pembangunan tol, agar membuat gorong-gorong, agar air yang membanjiri rumah warga bisa surut.

"Kami tidak minta apa-apa, kami hanya ingin, pelaksana proyek memperhatikan kondisi kampung kami, secepatnya agar dibuat gorong-gorong pada timbunan jalur tersebut, agar air dapat mengalir," harap warga.

Sementara itu, Kepala Keamanan Pembangunan Tol Nuryadi didampingi Humas Yongki, yang menerima masyarakat untuk berdialog mengatakan, pihaknya telah mengakomodir tuntutan masyarakat.

"Kami tau kondisi yang dialami masyarakat, ini bukan kehendak kami, semua tuntutan telah kami akomodir dan akan kami sampaikan ke pimpinan kami, mengenai permintaan pembuatan gorong-gorong tentu akan segera dipenuhi," ujarnya.

Lanjut Nuryadi, bahwa pihaknya (PT Waskita) sebegai penerus proyek tol tersebut, sebelumnya proyek di titik Desa Celikah dikerjakan oleh PT PIN.

"Sebenarnya kita hanya meneruskan saja, perlu masyarakat ketahui bahwa di Desa Celikah ini, jalur Tol akan dibuat seperti jalan layang sepanjang 15 km dan menggunakan tiang pancang, ini seduah kita kaji, jika menimbun, selain dananya tidak sedikit, juga dampaknya seperti ini, makanya nanti jalan tol di titik ini dibuat jalan layang, sementara jalur timbunan ini nanti tetap dapat digunakan masyarakat untuk keperluan pertanian," tandasnya. Mat Bodok

Editor: Hartati
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved