Komunitas Adat Tertinggal (KAT) Belum Ada Solusi
Semua peralatan dan perlengkapan mulai dari peralatan masak sampai pakaian terlihat seadanya.
Penulis: Eko Hepronis | Editor: Hartati
TRIBUNSUMSEL.COM, MUSIRAWAS -- Keberadaan dua keluarga komunitas adat tertinggal (KAT) asal Desa Semangus Lama Sungai Tras, Kecamatan Muara Lakitan pergi meninggalkan tempat mereka tinggal dan memilih pindah di Kelurahan Tugu Mulyo, Kecamatan Tugu Mulyo karena ekonomi sulit.
Nampaknya belum mendapat perhatian serius oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Musi Rawas (Mura), pasalnya hingga saat ini mereka masih memilih tinggal ala kadarnya dengan mendirikan gubuk yang beratapkan terpal dan berlantaikan tanah berukuran 2X3 meter.
Tidak ada barang mewah apa pun di dalamnya.
Semua peralatan dan perlengkapan mulai dari peralatan masak sampai pakaian terlihat seadanya.
Bahkan dua tenda tempat tidur KAT hanya beralaskan tikar dan bantal yang sangat kotor.
Kesan bersih sangat jauh, karena lingkungan tempat tinggal mereka juga terlihat kotor dan menimbulkan bau menyengat, akibat sampah dan sisa-sisa bangkai binatang yang mereka makan.
Menurut Rum (30) salah satu keluarga KAT alasan mereka pindah ke wilayah kecamatan Tugu Mulyo karena ditempat tinggal mereka yang lama kehidupan ekonomi mulai susah, sementara di Tugu Mulyo mencari makan mudah, mengingat wilayah Tugu Mulyo merupakan lahan pertanian.
"Di sini lebih mudah cari sisa padi, cari sayur -sayur, cari kadal dan biawak buat dimakan, di sana biawak, kadal sudah tidak ada lagi, apalagi padi susah dicari," ungkapnya
Kehidupan mereka tidak menetap dan selalu pindah-pindah, jika makanan sudah sulit dicari, maka dengan sendirinya mereka akan pindah ke tempat yang lain yang masih banyak makanannya.
"Di sini kita tidak lama nanti kita pindah lagi, apalagi sekarang di sini sudah tidak panen, padi mulai susah dicari, kadal juga sudah habis, nanti kita pindah lagi, cari tempat yang masih banyak makanannya," ucapnya.
Sekcam Tugu Mulyo Badrun mengatakan keberadaan KAT yang ada di wilayah kecamatan Tugu Mulyo sudah cukup lama, kurang lebih sudah tiga bulan terakhir, dan keberadaan KAT tidak pernah mengganggu masyarakat sekitar.
Hanya saja keberadaan mereka yang cukup lama itu sampai sekarang belum ada solusi, meski pun Dinas Sosial (Dinsos) pernah berkunjung, karena walaupun tidak mengganggu masyarakat, KAT adalah manusia juga dan butuh tempat tinggal yang layak.
"Yang mereka tempati tanah saya, saya beberapa kali datang kesana, kasian melihatnya, makannya ala kadarnya, apa pun dimakan, kadang juga ketika sehabis berjalan tidak dapat biawak, atau sesuatu yang bisa di jual mereka minta ubi dengan saya," ungkapnya.
Pertama kali KAT datang ke wilayah kecamatan Tugu Mulyo ada 7 keluarga dengan 7 tenda, namun seiring berjalannya waktu lima keluarga lainnya pergi entah kemana dan sekarang hanya tersisa dua keluarga lagi yakni salah satunya keluarga Rum.
"Kita minta kepada Dinas Sosial (Dinsos) untuk mencari jalan keluarnya, apa mungkin di kembalikan lagi ke tempat asalnya. Kalau seperti itu terus kan tidak enak, kesannya itu tidak di perhatikan," ucapnya.