Gara-gara Bercanda 'Ada Bom', Dua Wanita Jamaah Umrah Asal Indonesia Ditahan di Arab
"Kalau saya dengar dari Bu Umi itu, pramugarinya bertanya menggunakan bahasa melayu, tasnya kok berat bu, isinya apa? Bu Umi menjawab kalau dari Arab
"Kami berharap ada bantuan untuk proses pemulangan dua jamaah asal Pasuruan ini. Agar dimudahkan dan tidak dipersulit," tandasnya.
Mustain beralasan, bahwa Umi maupun Tri ini memang tidak terbukti membawa benda mencurigakan, bom atau bahan peledak. Ia menyebut bahwa apa yang diucapkan Umi saat itu hanya spontanitas dan tidak ada niatan apapun.
"Kalau saya dengar dari Bu Umi itu, pramugarinya bertanya menggunakan bahasa melayu, tasnya kok berat bu, isinya apa? Bu Umi menjawab kalau dari Arab ya jelas membawa oleh - oleh, masa bawa bom," imbuhnya.
Dari guyonan itulah, kata Mustain, akhirnya, pramugari melapor ke kokpit dan pilot langsung menghubungi petugas keamanan dan otoritas bandara yang intinya menginformasikan ada ancaman bom di dalam maskapai Royal Brunei Airlines.
"Petugas datang dan membawa bu Umi dan Tri ke ruang khusus beserta tas Bu Tri," katanya.
Setelah itu, pihak maskapai menyatakan ada delay keberangkatan menuju Indonesia dengan alasan akan ada pemeriksaan ulang.
Pemeriksaan itu berlangsung lama, kurang lebih 15 jam. Bahkan, ia menyebut, dirinya bersama jamaah lainnya diinapkan di hotel bandara untuk istirahat.
"Saya sempat menginap di hotel menunggu pemeriksaan ulang pesawat dan pemeriksaan terhadap bu Tri , bu Umi dan isi di dalam tas bu Tri," paparnya.
Awalnya, jadwal keberangkatan ke Indonesia itu pada 11 Januari 2017 pukul 18.30. Namun, karena ada insiden itu, pesawat baru dinyatakan aman dan diterbangkan ke Indonesia pada 12 Januari sekitar pukul 09.00 waktu setempat.
"Tapi waktu mau pulang itu, kami justru tidak tahu kalau petugas keamanan akan menahan dua jamaahnya. Saya baru tahu kalau mereka ditahan, 20 menit sebelum pesawat take off," jlentrehnya.
Ia mengaku sempat kaget, mengingat dari awal tidak ada pemberitahuan dari pihak bandara dan petugas keamanan Jeddah untuk menahan dua jamaahnya.
Ia pun juga tidak curiga. Sebab, anak pertama Umi Widayani, Lyan Widia juga sempat memberikan kabar bahwa pemeriksaan sudah selesai.
"Sudah selesai kata anak bu Umi itu. Makanya saya juga kaget kalau ternyata tidak diperbolehkan terbang," paparnya.
Mustain menambahkan, pada intinya, tas yang dibawa bu Tri itu memang bukan berisi bom atau bahan peledak. Di dalamnya, murni berisi kurma dan air zam - zam. Namun, kepolisian Jeddah mungkin memiliki pemahaman lain. Maka, dua orang kliennya ditahan di Jeddah untuk pemeriksaan lebih lanjut.
"Ya gak mungkin ada bomnya. Emang niatnya itu hanya bercanda saja," tandasnya.
Sekadar diketahui, Umi Widayani dan Tri Ningsih merupakan satu keluarga. Mereka berangkat bersama empat orang yakni bersama Mohammad Andono (60) kakak pertama Umi Widayani, Umi Widayani, Tri Ningsih, dan Lyan Widia anak pertama Umi Widayani.
Hanya Mohammad Andono yang pulang ke Pasuruan. Lyan Widia memang tidak terlibat dan sebenarnya diperbolehkan untuk pulang.
Namun, Lyan nekat bertahan di Jeddah mendampingi sang ibu yang sedang tersandung masalah. Jadi, dari empat orang, ada tiga orang yang masih di Jeddah. Dua orang diantaranya masih ditahan di penjara wanita. (Galih Lintartika)