Heboh Fenomena 'Tukar Foto Bugil' di Kalangan Remaja SMA

“Gimana ya, cewek kalo udah merasa nyaman, dia nggak masalah kirimin foto-foto begituan ke gue,” kata Morgan (bukan nama sebenarnya--red).

HAI-online
Ilustrasi remaja SMA. 

Kasusnya adalah karena foto-foto bugilnya tersebar di media sosial.

Ketahuan pihak sekolah, Icha menerima hukuman tersebut.

“Jadi, aku kan main Instagram, nah di sana kan banyak akun promosi buat cewek-cewek seksi gitu, aku posting foto aku terus aku tag ke akun tersebut. Aku pikir aman-aman aja, karena akunku dikunci. Eh, ternyata ada temen yang tahu kalo aku foto syur, abis itu aku dibully sama temen-temen dan bahkan aku hampir diskors selama beberapa minggu, untungnya nggak jadi lama, berapa hari doang,” jelasnya panjang lebar.

Diakui Icha, menyebar foto-foto bugil di media sosial dan ketahuan sekolah tidak membuatnya jera, justru diam-diam dia tetap melakukan hal yang sama.

Kata Icha, hal tersebut hanya untuk sekadar bahan keisengan pribadi dan untuk mendapat followers.

Dia juga mengaku, kegiatan ini bukan untuk mencari uang alias menjual diri, sebab diakui Icha, dia berasal dari keluarga yang berkecukupan.

“Gue dari keluarga yang cukup kok, jadi nggak perlu harus jual diri gitu untuk dapetin uang. Ini buat menyalurkan hasrat dan menghilangkan boring aja,” ungkapnya lagi sambil cuek.

Gangguan Jiwa Remaja?

Sepertinya bugil jarak jauh ini sudah menjadi kebiasaan yang wajar dan bukan masalah bagi remaja seperti Icha atau Morgan.

Lantas, apa kata psikolog soal ini ya? Apakah ini semacam gangguan jiwa pada remaja?

Kalo menurut analisa Psikolog Anak dan Remaja, Reneta Kristiani, banyaknya remaja yang berani dan secara vulgar mengunggah foto-foto bugil untuk pasangan atau media sosial tersebut bukanlah suatu penyakit atau gangguan jiwa.

Justru menurutnya, hal itu merupakan tahap perkembangan remaja yang kadang punya karakterisik yang unik.

“Untuk remaja, kita perlu berhati-hati jangancepat menyimpulkan mereka kena gangguan jiwa. Dalam tahap perkembangan remaja ada yang namanya kesalahan berpikir pada anak atau remaja yang disebut immature characteristic of adolescent thought, yang menurut pakar psikologi, Davil Elkind, kesalahan remaja ini dipengaruhi oleh emosi yang labil, jadi bukan bentuk gangguan jiwa,” ujarnya saat dihubungi HAI, Senin (11/4).

Reneta mencontohkan, beberapa dari kita (remaja) ada yang suka sekali menantang bahaya dengan kebut-kebutan di jalan.

Padahal, mereka sudah pernah melihat banyak kecelakaan, tapi tetap saja, remaja berpikir tidak akan terjadi hal negatif pada diri mereka.

Itulah salah satu bentuk kesalahan berpikir yang dimaksud.

Demikian juga dengan beberapa teman kita yang berani berfoto bugil, jangan-jangan itu salah satu bentuk kesalahan berpikir.

HAI-Online/Ali Sobri

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved