WNI Disandera Kelompok Abu Sayyaf
Inilah Karakter Faksi Kelompok Abu Sayyaf yang Menyandera WNI, Faksi Muktadil Sangat Bengis
Ridlwan menjelaskan bahwa kelompok Abu Sayyaf memiliki banyak faksinya.
TRIBUNSUMSEL.COM, JAKARTA - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Soetiyoso mengatakan pihaknya sudah mengetahui posisi 10 Warga Negara Indonesia (WNI) yang disandera Abu Sayyaf group.
Meski begitu informasi di media masih simpang siur.
Satu laporan media Filipina menyebut 10 WNI itu ada di rumah Jim Dragon alias Luhab di Sulu.
Namun, laporan yang lain menyatakan disandera oleh Muktadil bersaudara.
Bersama Ridlwan Habib, Peneliti terorisme dan intelijen yang pernah melakukan riset tentang militan Sulu di Lahaddatu Sabah Malaysia pada 2013, Tribunnews.com akan mengupas karakter dua faksi kelompok Abu Sayyaf yang diduga menyandera 10 WNI.
Ridlwan menjelaskan bahwa kelompok Abu Sayyaf memiliki banyak faksinya.
Saat ini, mereka terbagi dalam 16 kelompok dengan anggota masing masing 20 orang.
Basis kelompok ini berada di empat provinsi, yakni di Jolo, Tawi Tawi, Basilan dan Sulu.
Masing masing kelompok punya pimpinan sendiri. Dan masing-masing faksi karakternya berbeda.
1. Jim Dragon alias Luhab
Karakter kelompok Luhab lebih lunak. Faksi ini diketahui berbasis di Sulu.
Luhab seorang yang pemahaman bahasa asingnya bagus. Dia bisa bernegosiasi.
"Kelompok ini juga berbasis di pedesaan yang ditinggali oleh anak anak dan wanita," kata Ridlwan kepada Tribunnews.com, kamis (31/3/2016).
"Karena itu adalah sebuah perlindungan terbaik. Tamengnya wanita dan anak-anak," ujarnya.
2. Faksi Muktadil bersaudara
Faksi ini dikenal lebih bengis dan kejam. Kasus penyanderaan Bernard Then warga negara Malaysia tahun 2015 berakhir dengan eksekusi mati menjadi bukti kebegisan dan kekejaman mereka.
Kelompok Muktadil terdiri atas lima bersaudara.
"Satu sudah tewas saat perang dengan militer Filipina di Jolo namanya Mindas Muktadil. Terbunuh Mei 2015," ujarnya.
Lebih lanjut menurut dia, antara Muktadil maupun Luhab terhubung pada pimpinan yang sama yakni Isnilon Hapilon yang kepalanya dihargai 5 miliar dolar Amerika Serikat oleh FBI.
Untuk itu dia berharap upaya pembebasan sandera ini tidak berlarut-larut. Beri waktu pada pemerintah untuk bekerja sebaik baiknya.
Walaupun penyandera memberi batas waktu hingga 8 April, diharapkan pemerintah bekerja lebih cepat. Apalagi ini soal nyawa, setiap detik sangat berharga.