Kisah Wulan, yang Beralih Profesi dari Karyawan Kantoran menjadi Sopir Trans Musi
sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia sudah dapat mengemudi.
Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Slamet Teguh Rahayu
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Profesi sebagai sopir sebuah angkutan umum biasanya dijalani oleh kaum adam.
Namun, ada hal yang berbeda dari supir Trans Musi (TM) milik pemerintah kota Palembang ini.
Dari seluruh sopir yang dikelola oleh Sarana Pembangunan Palembang Jaya (SP2J), untuk melayani masyarakat di kota Palembang, mereka memiliki tiga orang supir wanita.
Salah satunya ialah Rosari Wulan Prasasti, dara manis yang lahir di Lampung, 8 Agustus 1995 yang lalu.
Penampilannya santai. Menggunakan baju batik, dengan celana panjang berwarna hitam, serta topi yang menutupi rambutnya yang terurai panjang, ia tak sungkang berbincang dengan Tribunsumsel, saat ia tengah beristirahat di Terminal Sako, Kamis (14/1/2016).
Wulan sapaannya mengatakan, sudah setahun terakhir ia berprofesi sebagai sopir TM. Ia mengaku, tak malu dan sungkan untuk menjadi sopir, karena ia menganggap sopir merupakan suatu pekerjaan yang halal.
Wulan mengungkapkan, setidaknya sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ia sudah dapat mengemudi.
Meskipun saat itu yang dikendarainya adalah kendaraan kecil.
"Pertama-tama agak kikuk sih mengendarai mobil besar, tapi lama-lama menjadi biasa," katanya.
Wulan bercerita, menjadi sopir bukanlah pekerjaan pertama yang pernah dijalaninya.
Sebelumnya, ia pernah menjadi admin di travel agen, namun karena bosan dengan pekerjaan tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk berhenti.
Berhenti dari perusahaan itu, ia lalu mencoba peruntungannya di SP2J. Saat mendaftar menjadi sopir tersebut, ia langsung dites untuk mencoba kemampuannya menjalankan bus tersebut.
"Langsung di tes, sebenarnya sudah diterima. Namun saat itu, pihak kantor belum tahu kalau saya itu wanita. Sudah menghadap, dan disuruh menunggu beberapa hari, akhirnya diterima," ungkapnya.
Menurut Wulan, ia betah untuk menjalani profesi barunya ini, karena menurutnya, pekerjaan sebagai sopir tak membuatnya jenuh, dan tak terlalu mengeluarkan tenaga yang berlebih.
"Kan keliling terus enak. Memang pergi pagi dan pulangnya malam. Tapikan tidak berjalan terus, ada istirahatnya jadi enak. Di SP2J juga enak, sehari kerja, sehari libur," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/rosari-wulan-prasasti-sopir-transmusi_20160114_152127.jpg)