Kabut Asap Mulai Hilang, Rezeki Kembali Datang

Jika musim normal tanpa asap, Suryani bisa meraup pendapatan rata-rata Rp 400.000 per hari. Namun, sejak kabut asap menyelimuti selama tiga bulan

Kabut Asap Mulai Hilang, Rezeki Kembali Datang
KOMPAS.com/YOHANES KURNIA IRAWAN
Suryani (40) saat mengemudikan perahu gitik menyusuri Sungai Kahayan di Palangkaraya, Kalimantan Tengah (29/10/2015). 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALANGKARAYA - Suasana Pelabuhan Rambang, Palangkaraya, Kalimantan Tengah sore itu cukup ramai.

Pedagang asongan sudah mulai terlihat menjajakan aneka jualannya. Mulai dari makanan, minuman, hingga mainan.

Panorama di tepian Sungai Kahayan mulai bisa dinikmati kembali. Beberapa perahu 'gitik' bermesin yang biasa menyeberangkan orang mulai terlihat berlalu lalang.

Suryani (40) merupakan satu pemilik perahu gitik. Suryani begitu ramah menyapa ketika Kompas.com menghampirinya.

"Jalan kita pak... menyusuri sungai sampai jembatan Kahayan," kata Kompas.com yang disambut Suryani dengan senyum mengembang.

Permintaan kami pun segera ditanggapi Suryani. Setelah sepakat dengan tarif yang ditetapkan, Suryani kemudian menghidupkan mesin perahu. Dan, perjalanan kami menyusuri Sungai Kahayan dimulai.

"Baru dua hari ini ramai lagi, biasanya selama asap sepi, nggak ada yang berani nyeberang," kata Suryani memulai ceritanya sembari mengemudikan perahu menuju Jembatan Kahayan, Kamis (29/10/2015).

Jika musim normal tanpa asap, Suryani bisa meraup pendapatan rata-rata Rp 400.000 per hari. Namun, sejak kabut asap menyelimuti selama tiga bulan terakhir, pendapatan Suryani turun drastis.

Bahkan, untuk mendapatkan uang Rp 50.000 sehari sulit untuk dilakukan.

"Selama asap kemarin, sampai paling parah jarak pandang hanya dua meter. Nggak ada yang berani menyeberang, takut nabrak perahu orang yang lagi cari ikan," katanya.

Halaman
12
Editor: Kharisma Tri Saputra
Sumber: Kompas
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved