Pusdiklat Sepakbola SFC Adalah Sebuah Harapan Baru
Baru-baru ini terdengar sebuah ide atau gagasan menarik yang dikemukakan oleh manajemen SFC yakni pusat pembinaan pemain
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Baru-baru ini terdengar sebuah ide atau gagasan menarik yang dikemukakan oleh manajemen Sriwjaya FC(SFC) yakni pusat pembinaan pemain di usia dini, terutama tingkatan pelajar.
Sebenarnya pusat latihan ini bukanlah barang baru karena dahulu kita kenal dengan nama Pusat dan Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP), tapi memang PPLP tidak mengkhususkan diri kepada satu cabang saja, tapi multi olahraga di bawah naungan Dinas Pemuda dan Olahraga provinsi setempat .
Di Sumsel sendiri, PPLP berdiri sejak tahun 1983 dan khusus untuk cabang sepakbola telah menghasilkan atlet-atlet sepakbola seperti Supardi, Jarot, Septa Riyanto dan M Sobran.
Namun sejak tahun 2007 cabang sepakbola dibubarkan karena dianggap tidak berprestasi. Sejak PPLP Sumsel tidak menerima lagi dan mencetak atlet-atlet sepakbola, maka muncullah Sekolah Olahraga Sriwijaya (SOS) dan Sekayu Youth Soccer Accademy (Sysa) Muba yang sekarang bekerja sama dengan pihak akademi Real Madrid, klub raksasa dari Spanyol.
SOS sendiri dalam perjalanannya telah melahirkan Jecky Arisandi, Hafit Ibrahim, Rizki Dwi Ramadhana yang membawa SFC U21 juara ISL U21 musim 2013 dan kini tergabung dengan SFC senior.
Munculnya ide dari manajemen SFC untuk kembali membuat Pusdiklat dibawah naungan klub ini sangat menarik walaupun di Indonesia sudah ada klub lain yang lebih dulu membuatnya.
Persib yang sudah menjalankan program tersebut pun sudah merekrut Untung Wibowo, salah satu bibit handal dari Sumsel. Apakah karena tidak ingin kecolongan lagi maka manajemen SFC ingin mendirikan pusdiklat serupa?.
Yang jelas di SFC sebenarnya sudah ada Akademi Sepakbola Sriwijaya FC (AS SFC) sejak tahun 2010. Tapi fakta di lapangan akademi masih jauh bila dibandingkan dengan akademi di luar negeri yang mempunyai fasilitas dan asrama sehingga sehingga hasilnya pun belum maksimal.
Belajar dari fakta tersebut, saya pikir pusdiklat ini terlebih dahulu membuat desain tentang pusdiklat ini secara menyeluruh. Apakah untuk mencetak pemain yang nantinya akan menjadi pemain Sriwijaya FC, baik di tingkat senior maupun U21.
Mungkin akademi La Masia milik Barcelona bisa dijadikan bahan pemikiran. Dimana tiki-taka, gaya bermain Barcelona sudah dikenalkan sejak usia dini dan saat mereka naik di kelas yang lebih tinggi, pola permainan secara dasar sudah mereka kuasai.
Siapapun pelatih di semua tingkatan, idealnya berkumpul untuk membuat sebuah pola pakem bagi permainan SFC. Peran iptek dan gizi juga harus menjadi perhatian utama, karena di era sepakbola modern, tidak hanya diperlukan bakat, namun juga faktor lainnya.
Terakhir, saya berharap proses pemilihan pemain yang akan bergabung dalam pusdiklat hendaknya juga berlangsung fair. Tidak ada pemain titipan, pemain yang dianak-emaskan, semuanya harus berjalan transparan dan pemain yang berlatih murni karena kemampuannya.
Akhirnya, banyaknya SSB yang tumbuh di Sumsel, muncullah akademi-akademi sepakbola, kemudian bangkitnya Asprov PSSI Sumsel dengan pembinaan berjenjang hingga rencana manajemen mendirikan pusdiklat semoga dapat terus meningkatkan prestasi sepakbola di propinsi tercinta ini. Selama 9 tahun kita terlena dengan euforia sepakbola di kasta tertinggi sepakbola tanah air, sekarang saatnya kita kembali ke proses pembinaan. Jangan sampai kejadian memalukan saat tim PON Sumsel yang tidak lolos di PON 2012 Riau terakhir kembali terulang.
Penulis : Zul Fadli (Penggiat Sepakbola dan anggota Sriwijaya Facebook Community)