Bisnis Pempek Tembus Rp 15 M
Selama bulan Ramadhan Tembus 5 M, wajib Ada untuk Lebaran
TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Belum afdol rasanya berlebaran tanpa sajian pempek. Sama halnya dengan bila tidak ada ketupat dan opor ayam. Sedemikian tingginya kebutuhan Wong Kito akan pempek membuat bisnis bahan baku pempek naik signifikan pada setiap bulan ramadan. Tak terkecuali untuk ramadan tahun ini.
Pengamat ekonomi Universitas Sriwijaya Yan Sulistio dalam surveinya yang ia lakukan baru-baru ini perputaran uang untuk sektor kuliner ini mencapai Rp 15 miliar saat mendekati lebaran.
"Bayangkan di sebuah toko kecil di kawasan 26 Ilir yang terkenal sebagai salah satu sentra pempek di Palembang satu toko bisa meraih omset hingga Rp Rp 3-3,5 juta per harinya. Jumlah itu diambil dari setiap pesanan paket yang mereka terima,"ujar Yan saat diwawancarai Tribun, Sabtu (3/8).
"Satu hari, penjual pempek di kawasan tersebut bisa mengirim ratusan paket setiap hari dengan harga per satuan pempek hanya Rp 1000 rupiah,"katanya.
Jika dihitung, dalam satu minggu, satu toko menerima pendapatan hinga Rp 25 juta, ada sekitar 14 toko yang berada di kawasan tersebut, maka omset bisa mencapai Rp 300 juta per minggu.
"Itu baru satu sentra produksi. Padahal Palembang memiliki puluhan sentra produksi pempek kecil dan besar,"katanya.
Dengan demikian ada beberapa sektor industri yang diuntungkan dengan pertumbuhan bisnis ini, seperti penjual ikan, terigu dan pedagang retail yang juga kecipratan akan peningkatan tersebut.
Salah satu distributor sembako di Sumsel Ken Krismadi pada wawancara terpisah kemarin mengatakan, tepung sagu dan tapioka merupakan bahan utama pembuatan pempek dan kerupuk. Untuk di Palembang, kebanyakan bahan yang digunakan ialah tepung tapioka yang dibuat dari singkong.
Ada banyak jenis sagu yang biasa digunakan untuk membuat pempek yakni sagu Bogor, sagu jemur, dan sagu oven. Kebanyakan sagu di Palembang didatangkan dari Lampung.
Banyaknya kebutuhan sagu ditentukan oleh jenis pempek yang dibuat. Misalkan, untuk pempek dos itu 100 persen dibuat dari sagu sedangkan pempek-pempek lain komposisi sagu hanya sekitar 30-40 persennya.
Estimasi kebutuhan sagu di Palembang selama ramadan mencapai 3000 ton. Naik dibandingkan bulan biasanya yang hanya sekitar 1500 ton sampai 2000 ton.
"Untuk suplai sagu tidak ada masalah. Stok tersedia sangat banyak. Tinggal bagaimana ketersediaan ikan yang sangat dipengaruhi oleh cuaca. Sebab untuk membuat pempek ada yang menggunakan ikan sungai dan ikan laut," kata mantan pengurus Masyarakat Agrobisnis Indonesia (MAI) Sumsel ini.
Angka-angka yang disebut itu masuk akal. Coba saja datang ke kawasan 7 dan 10 Ulu, yang konon kabarnya berasal dari kawasan ini sejak zaman dulu. Banyak warga di pinggiran Sungai Musi ini bermata pencaharian sebagai pembuat pempek..
Seorang pengusaha pempek rata-rata memiliki 5-7 pekerja yang kesemuanya kaum perempuan di daerah itu. Mereka semakin sibuk memasuki akhir-akhir Ramadan seperti sekarang ini.
Jumlah pesanan meningkat signifikan. Bukan hanya dari warga Palembang, tetapi juga dari kabupaten/kota di Sumsel dan beberapa kota di Pulau Jawa. Sebagian lagi, pempek-pempek ini dijajakan di Pasar 16 Ilir, Pasal 10 Ulu, dan Pasar Plaju.
Pempek-pempek dari kawasan ini kebanyakan menggunakan ikan kakap. Sengaja memakai jenis ikan ini untuk menekan harga agar tidak terlalu mahal.
Harga jual satu pempek kecil hanya Rp 900-Rp 1.000. Dari harga itu, pengusaha pempek wilayah ini membidik konsumen dengan tingkat perekonomian menengah ke bawah.
Nastik, seorang pengusaha pempek di 10 Ulu menjelaskan, tepung sagu yang dihabiskan untuk membuat pempek menjelang Idul Fitri lebih dari 50 kg. Kalau hari biasanya, tidak pernah lebih dari 40 kg.
Wanita berdarah Sunda ini lama bekerja membuat pempek untuk warga keturunan Tinghoa sebelum akhirnya membuka usaha sendiri. Usahanya cukup sukses. Nastik kini memiliki langganan tetap di Pampangan, Kayuagung, Prabumulih, Indralaya, Jakarta, Bandung, hingga Surabaya.
Selian Nastik ada juga Damsir, pekerja di Pempek Mina 7 Ulu. Ia menjelaskan, penjualan pempek yang biasanya hanya 10.000-an butir per hari sekarang bisa tembus 20.000-an butir per hari.
Usaha pembuatan pempek tempatnya bekerja menghabiskan 750 kg tepung sagu dan 500 kg Ikan kakap setiap hari. Di sekitar 7 Ulu, setidaknya ada lima tempat pembuatan pempek dengan skala usaha berbeda-beda.
Pembuat pempek di 7 dan 10 membeli bahan-bahan di Pasar 10 Ulu. Hendri, pedagang ikan kakap di pasar itu menjelaskan, ada lima pedagang ikan kakap di pasar itu yang rata-rata pedagang mampu menjual sekitar 1.000 kg ikan per hari. Jumlah ini naik dari hari biasa yang paling hanya 500 kg.
"Nanti, penjualan menjelang lebaran terutama hari masak-masak (H-1) bisa mencapai 2.000 kg. Tingginya angka penjualan karena daerah 7 dan 10 Ulu banyak membuat pempek. Bukan hanya berjualan tetapi juga buat untuk hidangan tamu bersilaturahmi," kata Hendri.
Ikan kakap yang dijual telah dibersihkan dan dikemas dalam kantung 1kg. Untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Idul Fitri ini, ia telah menyetok 10.000 kg ikan kakap yang telah didinginkan di gudang.
"Masih ramai tahun kemarin. Tahun ini bertepatan kenaikkan harga BBM dan masuk sekolah. Kalau harga relatif sama, sekarang Rp 30 ribu per kg dan menjelang Idul Fitri maksimal naik jadi Rp 35 ribu per kg," ungkapnya.