Berita Muara Enim
Cerita Perjuangan Bidan Kontrak di Semendo, Sempat Was-was Dengar Kasus Pemerkosaan di Pemulutan
Saat dimintai tanggapan terkait peristiwa dugaan pemerkosaan yang menimpa bidan di Ogan Ilir beberapa hari lalu, Meila mengaku sempat was-was
Penulis: Ika Anggraeni |
Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Ika Anggraeni
TRIBUNSUMSEL. COM, MUARAENIM- Menjadi bidan di daerah terpencil dijalani dengan ikhlas oleh gadis yang memiliki nama lengkap Meila Puspita Sari.
Saat dihubungi Tribunsumsel.com, Minggu, (24/2/2019), Meila mengatakan bertugas sebagai tenaga kontrak pemkab Muaraenim telah dijalani selama 1 tahun ini di RS Pratama Semendo.
Kendala terbesar mereka adalah akses jalan Semendo banyak yang rusak dan berlubang.
"Seperti kemarin kami disuruh merujuk bayi ke Muaraenim yang kondisinya sudah sangat kritis, disisi lain kami bertaruh dengan nyawa untuk diselamatkan"
"Dan di sisi lain kondisi jalan yang kami lewati rusak dan berlubang membuat kami harus benar-benar hati-hati, itu menjadi kendala kami saat bertugas," katanya.
• Kesal Kekasih Punya Pria Lain, Yudha Warga Prabumulih Nekat Jual Motor Sang Pacar
• Jadwal Final Piala AFF 2019 Indonesia U22 vs Thailand, Selasa (26/2) Pukul 18.30 Indonesia Juara !
Saat dimintai tanggapan terkait peristiwa dugaan pemerkosaan yang menimpa bidan di Ogan Ilir beberapa hari lalu, Meila mengaku sempat was-was terkait adanya pemberitaan tersebut.
"Tentu saja kami sebagai bidan juga merasa was-was atas kejadian tersebut, korban yang di Ogan Ilir itu adalah kakak tingkat kami di Akbid Muaraenim,"
"Kalau kenal dekat tidak, tapi saya tahu sama dia, dan waktu membaca berita itu yang menimpa dia (korban. Red) kami juga terkejut sekaligus prihatin," katanya.
• Anggota Polda Sumsel Dikeroyok dan Ditikam 3 Kali saat Hendak Tangkap Buronan di Tangga Buntung
• Direktur Kriminal Umum Polda Sumsel Temui Korban Dugaan Salah Tangkap Kasus Pemerkosaan Bidan
Dijelaskannya, bertugas di daerah terpencil dengan wilayah yang masih dipenuhi dengan hutan belantara membuat ia dan rekan-rekannya selalu meningkatkan kewaspadaan atas keselamatan mereka sendiri.
Apalagi Rumah sakit tempatnya dinas itu berada diatas bukit yang disekelilingnya masih hutan belantara.
Rumah warga yang ada disekitar rumah sakit masih sangat sedikit, kemudian lampu penerangan jalanpun masih sangat minim.
"Terus terang kalau lagi dinas malam saya tidak berani untuk berangkat sendirian meskipun ada motor, karena saya berangkat jam 9 malam, saya selalu telpon satpam rumah sakit untuk menjemput saya,"
"Untung saja, satpamnya baik hati, kalau yang berangkat dan pulang dinas cuma 1 atau dua orang, kami selalu diantar dan dijemput, tapi kalau ramai ya kami pulang sendiri," jelasnya.
Ia juga mengatakan tugasnya di Rumah sakit Pratama Semendo hampir setiap hari dalam seminggu terkadang hanya libur satu atau dua hari.
• Perjuangan Bidan Daerah Terpencil Muratara, Dijemput Tengah Malam Pakai Perahu, Gaji Rp 750 Ribu
• Hasil Grand Final Proliga 2019 : Surabaya Bhayangkara Samator Juara Usai Kalahkan Jakarta BNI 46