Berita Lubuklinggau

Tarik Sumbangan Rp 405 Ribu, SMA Negeri 2 Lubuklinggau Didemo Wali Siswa, Ini Kata Kepsek

Puluhan orang tua wali murid menggeruduk kantor Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Model Lubuklinggau menyampaikan aspirasi.

Tarik Sumbangan Rp 405 Ribu, SMA Negeri 2 Lubuklinggau Didemo Wali Siswa, Ini Kata Kepsek
Tribunsumsel.com/ Eko Hepronis
Suasana murid saat bertemu dengan kepala sekolah SMA N 2 Lubuklinggau Yulianti, Senin (02/09/2018). 

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU --Puluhan orang tua wali murid menggeruduk kantor Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Model Lubuklinggau menyampaikan aspirasi.

Kedatangan para wali murid tersebut untuk menanyakan kejelasan rencana pihak sekolah menarik sumbangan iuran sebesar Rp 405 ribu kepada orang tua wali murid.

Baca: Begini Cara Hamish Daud dan Raisa Rayakan Hari Jadi 1 Tahun Pernikahan Mereka,So Sweet

"Kami datang ke sekolah untuk menanyakan kejelasan itu kepada pihak sekolah," ungkap EB Juniardi salah satu perwakilan wali murid pada Tribunsumsel.com, Senin (03/09/2018).

Ia menilai apa yang dilakukan oleh pihak sekolah belum tepat, sebab pungutan uang sebesar Rp 405 ribu yang rencananya untuk rehab gedung dan membeli 30 komputer untuk Ujian Nasional Berbasis Kompetensi (UNBK) dirasa berat dan terkesan pemaksaan.

Baca: Cerita Penduduk, Ditinggal Sebentar Isi Makanan di Rumah Hilang, Sosok Ini Diburu Warga Lubuklinggau

"Karena saat rapat berlangsung pada tanggal 25 Agustus lalu, banyak orang tua wali murid belum bisa hadir, namun keesokannya tiba-tiba ada pungutan Rp 405 ribu yang mengatasnamakan telah disetujui wali murid," ujarnya.

Akibat adanya pungutan itu puluhan siswa sempat melakukan aksi demo.

Mereka menilai penarikan uang komite kepada orang tua mereka sangat membebankan.

Namun sangat disayangkan sikap sekolah menanggapi aksi demo yang siswa lakukan terlalu represif.

Baca: Ini Pernyataan Kapolres Lubuklinggau Soal Ratna Sarumpaet dan Rocky Gerung

Bahkan 30 orang siswa sempat mengalami intimidasi dari pihak sekolah karena dianggap terlalu vokal.

"Jadi kedatangan kami ini meminta supaya pihak sekolah tidak menggunakan bahasa-bahasa yang mengintimidasi anak, sebab ada beberapa orang siswa setiap pulang sekolah selalu menangis, akibat ulah guru yang mengatakan hal yang tidak pantas diucapkan untuk anak seusia mereka," ucapnya.

Halaman
12
Penulis: Eko Hepronis
Editor: M. Syah Beni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help