Membentuk Model Keluarga yang Islami dari Kisah Masa Lalu

Islam mengatur kehidupan dari berbagai sendi kehidupan, termasuk dari keluarga. Dalam Islam, Keluarga bahkan

Membentuk Model Keluarga yang Islami dari Kisah Masa Lalu

Opini: Membentuk Model Keluarga yang Islami

Fitria Kusumaningsih, M Pd
Dosen Universitas Tridinanti

TRIBUNSUMSEL.COM-Islam mengatur kehidupan dari berbagai sendi kehidupan, termasuk dari keluarga. Dalam Islam, Keluarga bahkan menjadi fondasi awal pergerakan hidup seseorang. Dari sana setiap orang ditempa, dibina, dan dilatih agar menjadi manusia seutuhnya. Sehingga keluarga disebut sebagai lembaga pendidikan pertama (madrasatul ula) dalam membentuk karakter (character building) setiap orang. Sebab itu, keberadaan keluarga sangat urgen untuk melahirkan generasi berkualitas di masa depan. Banyak kesuksesan dan kebaikan lahir dari keluarga yang taat. Pun, banyak problematika sosial terjadi disebabkan ruh keluarga hilang sebagai pusat pembentukan karakter manusia.

Karena itu, jika menilik Alquran secara holistik dan mendalam. Maka akan ditemukan sejumlah kisah-kisah (qashash) para Nabi dan orang-orang terdahulu dalam berkeluarga. Baik penyebutan kisah-kisah keluarga terpuji dan tercela, maupun person yang terpuji dan tercela dalam keluarga. Para ulama menjelaskan, bahwa ketika Allah Swt mengisahkan sesuatu dalam Alquran bertujuan untuk menjadi pelajaran (ibrah) bagi manusia setelahnya. Sebab itu, penting keluarga masa kini untuk berkaca dan bercermin serta mengambil pelajaran pada model keluarga masa lalu dalam Alquran.

Pertama, model keluarga Abu Lahab. Abu Lahab adalah seorang paman Nabi Muhammad saw yang enggan beriman. Setiap dakwah yang dilancarkan kepadanya, tidak membuat ia beriman kepada Allah Swt dan kerasulan Muhammad saw. Bahkan, Abu Lahab menjadi seorang keluarga Nabi yang menjadi ancaman dalam perkembangan dakwah saat itu. Berbagai kelicikan dan tipu daya dilancarkan oleh Abu Lahab untuk menghadang dan menghalangi dakwah Nabi saw.

Lebih lanjut, Abu Lahab menjadi satu provokator untuk menggerakkan massa untuk menghadang dakwah Nabi. Bahkan, ia mengajak isterinya, Ummu Jamil, untuk terlibat langsung dalam menghadang dakwah Nabi saw. Sehingga kelicikan Abu Lahab dan isterinya digambarkan dalam Alquran, dengan firman-Nya, “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan begitu pula istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut.” (QS. Al-Lahab: 1-5). Artinya, model keluarga Abu Lahab yakni suami dan isteri sama-sama tidak taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Karena itu, jika melihat realitas sosial saat ini tentu kita akan menemukan semisal model keluarga Abu Lahab. Di mana suami dan isteri menjadi biang-kerok dalam setiap kriminalitas, pertikaian, kemaksiatan, perilaku amoral dan destruktif. Semisal, berapa banyak para suami dan isteri bersekongkol dalam perilaku tercela, seperti korupsi kolusi nepotisme (KKN). Sehingga kedua mereka mendekam di penjara dalam kasus yang sama. Pun, juga tidak sedikit suami dan isteri yang bekerja sama dalam peredaran narkoba. Sehingga kedua mereka pun juga menjadi tahanan di rumah besi.

Kedua, model keluarga Fir’aun. Fir’aun merupakan raja Mesir yang hidup pada masa kenabian Musa as. Kesombongan Fir’aun hingga ia mengakui dirinya sebagai Tuhan yang harus disembah oleh seluruh manusia (QS. An-Naziat: 24). Untuk mendakwahi Fir’aun dan seluruh pengikutnya, Allah Swt mengutus Nabi Musa as (QS. An-Naziat: 16). Akan tetapi, Fir’aun juga enggan beriman kepada Allah Swt dan kerasulan Nabi Musa as. Meskipun berbagai mukjizat atas izin Allah Swt diperlihatkan oleh Nabi Musa as.

Namun demikian, meskipun Fir’aun enggan beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Tapi, isterinya bernama Asiyah tetap beriman kepada Allah Swt dan Rasul-Nya (QS. At-Tahrim: 11). Sehingga Asiyah tidak pernah sekalipun menyekutukan (syirik) Allah Swt dengan cara menyembah Fir’aun. Bahkan dikisahkan, Allah Swt telah menciptakan Iblis yang menyerupai Asiyah untuk tidur dan bergaul dengan Fir’aun. Sehingga kehormatan Asiyah tetap terjaga dan tidak pernah terjamah oleh Fir’aun. Sebab, perkawinan Asiyah dengan Fir’aun pun disebabkan karena paksaan atas kesombongan dan kekejaman Fir’aun terhadap keluarganya.

Artinya, model keluarga Fir’aun, yakni suami tidak taat dan isteri taat kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Model keluarga Fir’aun juga dapat ditemukan dalam kehidupan sosial masa kini. Di mana suami menjadi biang-kerok dan provokator dalam setiap kemaksiatan dan kejahatan, meskipun isterinya berkali-kali menasehati. Model keluarga seperti ini akan menjadi ladang ujian bagi isteri yang taat. Maka isteri dituntut untuk tetap konsisten (istiqamah) dalam ketaatan kepada Allah Swt. Bahkan, isteri harus terus terdepan dalam mencegah dan mengentaskan perilaku tercela suami.

Ketiga, model keluarga Nabi Nuh as dan Nabi Luth as. Kedua mereka merupakan Rasul utusan Allah Swt untuk mendakwahi umat masing-masing. Nabi Nuh as diutus kepada Bani Rasib, yakni suatu kaum yang menyembah patung-patung berhala. Sedangkan Nabi Luth as diutus untuk kaum Sodom, yakni suatu kaum yang berperilaku seks menyimpang (LGBT). Meskipun mereka diutus untuk memperbaiki kondisi akidah umat. Akan tetapi, isteri mereka masing-masing juga menjadi bagian dari orang-orang yang ingkar kepada Allah Swt. Artinya, dakwah mereka pun tidak mendapat restu dari isteri mereka.

Kondisi tersebut digambarkan oleh Allah Swt dalam Alquran, dengan firman-Nya, “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua isteri itu berkhianat kepada suaminya masing-masing, maka suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari siksa Allah; dan dikatakan kepada keduanya: Masuklah ke dalam jahannam bersama orang-orang yang masuk neraka jahannam.” (QS. At-Tahrim: 10). Artinya, model keluara Nabi Nuh as dan Nabi Luth as yakni suami taat, sedangkan isteri tidak taat kepada Allah Swt.

Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada jaminan seorang ustaz/teungku mendapatkan isteri shalihah. Perumpaan model keluarga di atas terlihat bahwa para Nabi saja tidak terjamin dari pada mendapatkan isteri shalihah. Namun demikian, ketidakshalihan isteri tidak membuat mereka menjerumuskan diri dalam perilaku tercela isteri. Sebab itu, banyak orang mendapatkan gelar ustaz/teungku di lingkungan sosial, akan tetapi memperoleh isteri yang durhaka kepada Allah Swt. Maka diperlukan ketabahan suami dalam membina dan meluruskan tulang-rusuk (tulang bengkok) dalam berkeluarga.

Keempat, model keluarga Nabi Ibrahim as. Nabi Ibrahim as termasuk satu dari para Nabi dan Rasul ulul azmi, yakni Nabi yang paling banyak cobaan dan rintangan dalam menjalani kehidupan. Dalam sejarah tercatat bahwa Nabi Ibrahim as memiliki dua isteri, yakni Siti Sarah dan Siti Hajar. Dari pernikahannya dengan Siti Sarah lahir seorang anak bernama Nabi Ishaq as. Dari jalur keturunan Ishaq lahir para Nabi dan Rasul selanjutnya, semisal Nabi Ya’qub as, Nabi Yusuf as, dan lainnya. Sedangkan dari pernikahannya dengan Siti Hajar lahir seorang anak bernama Nabi Ismail as. Dari jalur keturunan Ismail hanya lahir seorang Nabi dan Rasul penutup, yakni Nabi Muhammad saw (QS. Al-Ahzab: 40).

Untuk itu, tergambar jelas bahwa model keluarga Nabi Ibrahim as merupakan keluarga utuh yang taat kepada Allah Swt, baik suami maupun isteri-isterinya. Dari sanalah lahir anak-anak yang taat kepada Allah Swt hingga menjadi Nabi dan Rasul. Tentu hal itu karunia Allah Swt bagi Nabi Ibrahim as. Sebab itu, hendaknya kita berkaca dan bercermin dari empat model keluarga itu. Dari keempat model yang disajikan di atas, termasuk model manakah keluarga kita? Sehingga setiap kita terus memperbaiki kondisi keluarga untuk menjadi keluarga ahli surga. Semoga!

Editor: Muhamad Edward
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help