Memaknai Filosofi Iqra Sebagai Sarana Mencerdaskan Umat

Namun patut diketahui beredarnya video juga mempengaruhi berkembangnya berita palsu alias hoax.

Memaknai Filosofi Iqra Sebagai Sarana Mencerdaskan Umat

TRIBUNSUMSEL.COM-Seiring berkembangnya zaman, kebiasaan membaca, terutama di kalangan anak muda kian menurun. Di indonesia sendiri tingkat minat membaca sudah semakin turun. Apalagi ditambah dengan makin menjamurnya penggunaan telepon pintar atau smartphone. Anak muda Indonesia zaman sekarang yang dikenal dengan istilah generasi milineal cenderung menyukai hal-hal yang sifatnya visual berupa video.

Lihat saja saat ini di berbagai media sosial sudah banjir video, anak muda juga suka memproduksi video kemudian diupload di media sosial, seperti di Youtube. Ini tentu saja menjadi sebuah dilema bagi anak muda di tengah makin meningkatnya penggunaan media sosial. Sudah banyak media massa yang basenya adalah media cetak harus gulung tikar alias bangkrut dan beralih ke media online yang tak hanya menyajikan berita tulisan tetapi juga video.

Namun patut diketahui beredarnya video juga mempengaruhi berkembangnya berita palsu alias hoax. Banyak video yang menimbulkan berbagai asumsi yang tidak diketahui kebenarannya. Hal ini juga dampak dari semakin 'malasnya' minat baca di Indonesia, orang lebih banyak menyukai aktivitas menonton.

Menurut data UNESCO yang dirilis pada 2012, minat membaca (literasi) masyarakat Indonesia hanya 0,001 persen. Artinya, dari setiap 1.000 orang penduduk Indonesia, hanya 1 orang yang minat membaca tinggi. Ini bermakna bahwa dari 250 juta jiwa penduduk Indonesia, hanya 250 ribu yang rajin membaca. Bahkan, dari 65 negara yang diteliti tentang literasi, Finlandia berada posisi pertama sebagai negara yang memiliki minat baca tinggi, sedangkan Indonesia berada pada urutan 64, satu tingkat di atas Bostwana.

Data-data di atas menunjukkan bahwa, budaya literasi di Indonesia berada pada titik nadir yang mengkhawatirkan. Sehingga diperlukan upaya semua pihak, baik pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), organisasi kemasyarakatan (Ormas), dan seluruh masyarakat (civil society) dalam menggelorakan dan membumikan literasi di Indonesia. Hanya dengan literasi akan melahirkan generasi-generasi cerdas Indonesia di masa mendatang bukan generasi penyebar hoax. Kita harusnya merenungi, Indonesia adalah negara yang mayoritasnya adalah Muslim. Dalam Islam sendiri membaca adalah hal sangat diutamakan. Baginda nabi Muhammad SAW ketika menerima wahyu pertama, bukannya soal salat tetapi membaca (Iqra'). Karena lewat membaca kita diajarkan untuk mengetahui secara menyeluruh bukan setengah-setengah.

Iqra’ merupakan satu istilah yang dipopulerkan Alquran (QS. al-‘Alaq: 1-5). Dalam kajian Ulumul Quran, ayat ini merupakan ayat pertama yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw. Secara sosiologis, ayat ini diturunkan pertama kali disebabkan oleh kondisi sosio-kultural masyarakat Arab ketika itu yang buta huruf (ummi), termasuk baginda Nabi saw. Kemampuan (skill) andalan masyarakat Arab saat itu yakni hafalan. Bahkan, hingga saat ini kemampuan hafalan masyarakat Arab tidak dapat diragukan lagi.

Bayangkan, Alquran yang diturunkan oleh Allah Swt kepada Nabi Muhammad saw pada periode awal hanya disimpan dengan menggunakan metode hafalan. Padahal, Alquran terdiri dari 30 Juz, 114 surat, 6.236 (pendapat ulama Kufah) ayat, dan 1.027.000 (satu juta dua puluh tujuh ribu) huruf. Keseluruhannya mampu dihafal oleh para penghafal Alquran (huffadz). Sebab itu, iqra’ merupakan visi ilahiyah untuk mencerdaskan umat manusia dengan membaca. Dengan membaca akan melahirkan ide dan gagasan-gagasan baru yang kreatif dan inovatif.

Bahkan, pengetahuan diperoleh sekitar 80-90 persen dari membaca. Ungkapan Tilaar, membaca adalah proses memberikan arti kepada dunia. Maka, dengan gemar membaca akan melahirkan generasi yang belajar. Membaca adalah kaki kita. Bahkan, menurut Sindhunata, makin gemar membaca maka makin kita memperoleh kaki yang kokoh dan kuat. Makin kita membaca makin hidup kita berkaki (Elly Damaiwati, 1/1/1970). Sebab itu, membaca adalah kebutuhan hidup (needs of life).

Dalam sejarah diturunkannya Alquran disebutkan, bahwa ketika Jibril as mendatangi Nabi Muhammad saw untuk membawa wahyu pertama. Saat itu, Jibril berkata kepada Nabi saw; iqra’ (bacalah). Nabi pun menjawab, “Ma ana bi qarik (Saya tidak bisa membaca)”. Berkali-kali kalimat yang sama diucapkan baginda Nabi, “Saya tidak bisa membaca”. Akhirnya, Jibril memeluk baginda Nabi dengan erat hingga ia mampu membaca dan melanjutkan ayat tersebut, “Iqra’ bismirabbikal ladzi khalaq (Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan)” hingga ayat kelima.

Sebab itu, ayat tersebut layak menjadi filosofi dan landasan untuk mengembangkan budaya literasi pada masyarakat Indonesia. Tanpa literasi masyarakat Indonesia akan terus tertinggal dari negara-negara lain di dunia. Hanya dengan budaya literasi Indonesia mampu mengepakkan sayap untuk menjadi bangsa yang cerdas dan disegeni oleh dunia. Membaca adalah jendela dunia. Bermakna dengan membaca terbukalah wawasan dan pola pikir yang mendunia. Semakin banyak buku yang dibaca, maka semakin banyak jendela yang dimiliki.

Sementara itu, banyak para pelajar Indonesia yang terjebak pada perilaku amoral dan destruktif, semisal pacaran dini, kriminalitas, perzinahan dan pelecehan seksual, vandalisme, clubbing, bullying, dan beragam problematika lainnya. Ini disebabkan karena energi besar yang mereka miliki tidak tersalurkan pada tempat-tempat positif, semisal membaca dan menulis. Akhirnya, mereka menyalurkan pada tempat-tempat yang keliru yang bertentangan dengan nilai-nilai (values) kebangsaan dan agama.

Karena itu, energi para pelajar Indonesia harus diarahkan untuk membaca dan menulis. Dengan membaca dan menulis mereka akan menjadi generasi cerdas dan unggul untuk mengisi pembangunan. Meskipun demikian, pemerintah memiliki tanggungjawab moral untuk menyiapkan berbagai fasilitas bacaan baik perpustakaan tertutup maupun terbuka, serta menyediakan beragam buku lintas keilmuaan, agar para pelajar tertarik untuk membaca. Sebab, berapa banyak perpustakaan, bahkan terkadang di lembaga perguruan tinggi, buku-buku yang tersedia tidak di-update, sehingga membuat para mahasiswa enggan dan tidak tertarik untuk membaca.

Artinya, untuk menumbuhkan minat membaca di kalangan pelajar diperlukan sarana dan prasarana, fasilitas yang mendukung, dan bahan bacaan yang lengkap dan terbaru (update). Tanpa bahan bacaan yang lengkap, jangan pernah berharap perpustakaan terisi penuh, apalagi disertai dengan pelayanan di perpustakaan yang tidak nyaman. Karena itu, konstitusi memberikan amanah kepada pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa. Bangsa ini berdosa kalau tidak menyediakan perpustakaan yang lengkap kepada generasinya.

Oleh: Muhamad Edward (Dosen dan Jurnalis)

Editor: Muhamad Edward
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help