Sulit Mencari Susu Kerbau, Pedagang Makanan Bangsawan Palembang Terpaksa Jualan ini

Kebanyakan orang hanya mengetahui jenis makanan pempek saja yang menjadi ciri khas Kota Palembang, Jumat (1/9/2017).

Sulit Mencari Susu Kerbau, Pedagang Makanan Bangsawan Palembang Terpaksa Jualan ini
Tribunsumsel.com/ Andri Hamdillah

Laporan Wartawan Tribunsumsel.com, Andri Hamdillah

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kebanyakan orang hanya mengetahui jenis makanan pempek saja yang menjadi ciri khas Kota Palembang, Jumat (1/9/2017).

Terlepas dari itu ternyata masih ada satu lagi jenis makanan khas Palembang yang dulunya pernah berjaya sebagai makanan spesial untuk para bangsawan.

Makanan tersebut berbahan dasar dari susu kerbau murni yang dimasak dengan campuran gula pasir kuning, biasa disebut dengan gula puan.

Butuh waktu 4 jam lebih untu membuat gula puan yang sempurna, gula puan dengan hasil yang baik mempunyai ciri - ciri tidak lengket ketika disentuh menggunakan tangan.

Pedagang gula puan Fadli (26) warga Ki Gede Ing Suro ini menjelaskan bahwa dirinya setiap hari Jumat berjualan di sekitaran Masjid Agung.

c
c ()

Untuk 1 kilogram gula puan sendiri ia hargai Rp. 120.000 ribu.

"Kita jual gula puan perkilogram, tetapi bisa juga membeli kurang dari 1 kg", katanya.

Masyarakat kurang mengetahui dengan pasti akan keberadaan makanan gula puan.

Bahkan 2 minggu terakhir Fadli juga tidak menjual gula puan karena sulitnya mencari susu kerbau yang menjadi bahan pokok pembuatan gula puan.

"Susu kerbau sulit mencarinya, hanya bisa didapat di kabupaten - kabupaten saja sedangkan untuk di Kota Palembang sendiri hampir mustahil", jelasnya.

Tidak sempat berjualan gula puan selama 2 minggu membuat Fadli mengalihkan sementara dengan berjualan susu kedelai.

"Terpaksa saya jual susu kedelai dulu sementara belum berhasil menemukan susu kerbau", ungkapnya.

c
c ()

Arti kata puan sendiri berasal dari sebutan bahasa orang asli Ogan Komering Ilir (OKI) yang berartikan (susu), Kemudian di simpulkan menjadi gula puan (gula dan susu).

"Bahasa itu berasal dari bahasa asli daerah saya OKI, memang banyak orang yang tidak tahu tetapi ada juga yang sudah mengetahuinya sampai - sampai menjadi pembeli langganan saya", jelasnya.

Penulis: Shinta Dwi Anggraini
Editor: M. Syah Beni
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved