Mata Lokal Desa

Tradisi Ningkuk’an, Malam Keakraban Bujang-Gadis Komering yang Terus Dijaga di OKU Timur

Muda-mudi di Desa Rasuan, Kecamatan Madang Suku I, Kabupaten OKU Timur, Sumsel menggelar acara Ningkuk’an.

TRIBUNSUMSEL.COM/CHOIRUL ROHMAN
TRADISI NINGKUK’AN -- Para bujang dan gadis (Morli Maranai) Desa Rasuan, Kecamatan Madang Suku I, OKU Timur, tampak antusias mengikuti tradisi Ningkuk’an pada Sabtu malam (25/10/2025). Tradisi turun-temurun suku Komering ini menjadi ajang sosialisasi, mencari jodoh, sekaligus melestarikan nilai-nilai budaya lokal. 

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA -- Muda-mudi di Desa Rasuan, Kecamatan Madang Suku I, Kabupaten OKU Timur, Sumsel menggelar acara Ningkuk’an.

Ningkuk’an adalah tradisi lama suku Komering yang mempertemukan Morli Maranai (sebutan untuk bujang dan gadis) dalam suasana penuh keakraban.

Alunan musik berpadu dengan tawa riang muda-mudi di Desa Rasuan, dalam balutan cahaya lampu dan selendang warna-warni.

Para bujang dan gadis Komering berkumpul untuk satu tujuan melestarikan tradisi ritual sosial yang dulu menjadi wadah pertemuan pemuda-pemudi menjelang pernikahan.

Para muda-mudi di desa tersebut memilih untuk tetap menyalakan obor tradisi dipenuhi tawa dan irama musik. 

Ketua Panitia Ningkuk’an, Indra, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya masyarakat untuk menghidupkan kembali tradisi leluhur yang mulai jarang ditemui.

“Kami ingin anak-anak muda sekarang tahu dan merasakan bagaimana suasana Ningkuk’an seperti yang dulu dilakukan orang tua kita. Tradisi ini bukan sekadar hiburan, tapi juga cara bersosialisasi dan mempererat persaudaraan,” ujar Indra, Minggu (26/10/2025).

Dalam pelaksanaannya, para pemuda dan pemudi duduk berhadapan, sementara musik mengalun.

Sebuah selendang berpindah tangan dari satu peserta ke peserta lainnya mengikuti irama.

Saat musik tiba-tiba berhenti, siapa pun yang memegang selendang terakhir akan mendapatkan “hukuman” ringan biasanya berupa tantangan lucu yang membuat suasana semakin hangat dan meriah.

Bagi masyarakat Komering, Ningkuk’an bukan sekadar permainan malam menjelang pernikahan. Tradisi ini memiliki makna sosial yang dalam.

"Selain menjadi ajang hiburan, kegiatan ini juga berfungsi sebagai sarana mencari jodoh, memperluas pergaulan, dan menjadi momen perpisahan bagi teman yang akan menikah," bebernya. 

Indra menambahkan, pemerintah desa dan tokoh adat terus mendorong agar kegiatan seperti Ningkuk’an bisa digelar secara rutin.

“Kami berharap ini bukan yang terakhir. Ke depan, kita akan adakan setiap tahun dan sekaligus menjadikannya bagian dari kegiatan budaya desa,” jelasnya.

Salah satu peserta Ningkuk’an, Septi, mengaku bangga bisa ikut serta dalam kegiatan yang sarat makna ini.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved