Warga Lubuklinggau Meninggal di Kamboja
Rahmat Warga Lubuklinggau Meninggal di Kamboja, Sempat Video Call Minta Maaf ke Keluarga
Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Rahmat Julianto, meninggal dunia di Kamboja karena sakit
Penulis: Eko Hepronis | Editor: Slamet Teguh
Ringkasan Berita:
- Rahmat Julianto, PMI asal Lubuklinggau, meninggal dunia di Kamboja karena sakit setelah sempat video call dan meminta maaf kepada keluarganya.
- Keluarga mengaku ikhlas dan memutuskan agar Rahmat dimakamkan di Kamboja karena keterbatasan biaya untuk memulangkan jenazah.
- Diketahui, Rahmat merantau sejak 2019 dan terakhir bekerja di luar negeri setelah sebelumnya sempat pulang ke kampung halaman.
TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU – Seorang Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan, Rahmat Julianto, meninggal dunia di Kamboja karena sakit pada Senin (20/4/2026) sore.
Warga RT 03 Kelurahan Puncak Kemuning, Kecamatan Lubuklinggau Utara II itu meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, terutama sang nenek, Juana, dan kakeknya, M Soleh.
Sebelum meninggal, Rahmat sempat melakukan panggilan video menggunakan ponsel milik bibinya. Dalam percakapan tersebut, ia mengeluhkan kondisi kesehatannya yang semakin memburuk.
“Dia bilang kalau kondisinya sudah tidak kuat lagi. Sempat bertanya, kalau dia meninggal di sana bagaimana. Dia juga minta maaf kepada saya dan mbahnya,” ujar Juana, Selasa (21/4/2026).
Dalam video call itu, Rahmat juga menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh keluarga karena telah berangkat bekerja ke Kamboja tanpa izin. Ia mengaku sudah tidak sanggup lagi menjalani hidup dan meminta agar diikhlaskan.
Keluarga pun mengaku telah menerima kepergian Rahmat dengan ikhlas. Mereka bahkan meminta pihak KBRI agar almarhum dimakamkan di Kamboja karena keterbatasan biaya untuk memulangkan jenazah ke Lubuklinggau.
“Kami sudah ikhlas Rahmat dimakamkan di sana. Semoga amal baiknya diterima Tuhan Yang Maha Kuasa,” kata Juana.
Baca juga: Kondisi Terakhir Rahmat Warga Lubuklinggau Meninggal di Kamboja, Sempat Muntah Darah dan Koma di ICU
Baca juga: Rahmat Warga Lubuklinggau Meninggal di Kamboja Usai Kritis, Keluarga Pasrah Jenazah Tak Dipulangkan
M Soleh menceritakan, Rahmat mulai merantau ke Jakarta sejak 2019. Saat itu, ia bekerja sebagai buruh pemotong plat logam bersama dua temannya. Namun, salah satu rekannya memilih pulang karena tidak betah.
Rahmat tetap bertahan bekerja, meski penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan makan dan membayar kontrakan. Setelah hampir dua tahun, ia sempat mengeluhkan kondisi kakinya yang luka dan akhirnya pulang ke Lubuklinggau pada 2023 setelah keluarga mengirimkan biaya perjalanan.
Namun, hanya dua hari di kampung halaman, Rahmat kembali berangkat ke Jakarta setelah mendapat tawaran pekerjaan dari temannya di rumah makan.
“Sempat mau mengajak adiknya, tapi tidak saya izinkan karena khawatir. Waktu itu adiknya baru lulus SMA,” ungkap M Soleh.
Kepada keluarga, Rahmat mengaku akan bekerja sebagai koki di rumah makan.
Sejak kecil, ia memang dikenal memiliki kemampuan memasak yang baik, bahkan sering membantu kebutuhan dapur saat ikut bekerja bersama kakeknya.
Meski dikenal pekerja keras, Rahmat juga disebut memiliki sifat keras dan sulit dicegah jika sudah memiliki keinginan.
"Tapi memang Rahmat itu agak memang keras dan tak bisa dibantah, dulu pernah saat tengah kerja bangun Puskesmas di Muratara tiba-tiba hilang ternyata pulang ke Linggau," ungkapnya.
Baca berita Tribunsumsel.com lainnya di Google News
ikuti dan bergabung dalam saluran whatsapp Tribunsumsel.com
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Rahmat-Warga-Lubuklinggau-Meninggal-di-Kamboja-Sempat-Video-Call-Minta-Maaf-ke-Keluarga.jpg)