Travel
Mengenal Uniknya Pernikahan Adat Suku Penesak di OKI, Maraton Budaya 7 Hari, Penuh Makna
Tradisi kolosal ini tidak hanya pesta kemeriahan, melainkan ritual sakral untuk mengukir janji seumur hidup sekaligus menjaga warisan leluhur.
Penulis: Winando Davinchi | Editor: Slamet Teguh
Ringkasan Berita:
- Tradisi pernikahan Suku Penesak di Pedamaran, OKI berlangsung tujuh hari tujuh malam dengan rangkaian ritual adat yang sarat makna dan nilai sakral.
- Prosesi meliputi kocek-kocek’an, arak-arakan pengantin, resepsi di kedua pihak keluarga, hingga tradisi antar juada dan pesta besar di rumah mempelai laki-laki.
- Rangkaian ditutup dengan berarak petang dan ritual makan telur sebagai simbol persatuan, kesuburan, serta pelestarian budaya gotong royong masyarakat setempat.
TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG – Janji suci ikatan pernikahan bagi masyarakat Suku Penesak di Kecamatan Pedamaran, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel bukanlah sekadar akad di depan penghulu.
Selama tujuh hari tujuh malam, napas budaya diembuskan melalui rangkaian ritual yang menggetarkan mulai dari keriuhan kocek-kocek’an hingga sakral prosesi makan telok.
Tradisi kolosal ini tidak hanya pesta kemeriahan, melainkan ritual sakral untuk mengukir janji seumur hidup sekaligus menjaga warisan leluhur.
Dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) OKI, Ahmadin Ilyas dalam tradisi dihari pertama yaitu kocek-kocek’an yang mana dapur mulai mengepul.
Sanak keluarga, kerabat, hingga tetangga berkumpul untuk proses mengocek atau mengupas bumbu-bumbu dapur seperti bawang, kunyit hingga kencur.
"Perempuan menyiapkan sayur-mayur dan telur, kaum pria bertugas membersihkan daging dan menyiapkan perapian besar untuk memasak menu resepsi," ujar Ahmadin menceritakan rangkaian acara saat dikonfirmasi pada Senin (2/2/2026) sore.
Momen inti terjadi di hari kedua.
Dimana calon pengantin wanita bersama keluarga melakukan arak-arakan diiringi musik tanjidur guna menjemput mempelai pria.
Setelah tiba di kediaman wanita, ijab kabul pun dilaksanakan. Isak tangis haru pecah saat ritual sungkem, di mana kedua mempelai memohon doa restu kepada orang tua.
"Keesokan harinya (hari ketiga) resepsi pemberian selamat kepada kedua mempelai. Sebelum resepsi ini dilakukan dikediaman mempelai perempuan, sanak keluarga, tetangga, beserta undangan dari mempelai perempuan terlebih dahulu menjemput rombongan dari keluarga mempelai laki-laki supaya datang di acara resepsi mempelai perempuan," ungkapnya.
Ahmadin menyebut tradisi berlanjut di hari ke empat pihak keluarga mempelai perempuan melakukan tradisi antar juada.
Mereka membawa berbagai kue tradisional seperti petes, bolu lapis, srikaya, wajik, kemplang untuk diserahkan kepada keluarga mempelai laki-laki.
"Tepat dihari kelima kesibukan berpindah ke kediaman mempelai laki-laki. Pagi hari dimulai dengan proses nepek kerbau (persiapan pemotongan hewan), dilanjutkan memasak besar sore hari,"
"Tradisi ini dilakukan menyambut tamu undangan pada resepsi esok harinya," terangnya.
Baca juga: Mengenal Sejarah Suku Penesak di Ogan Ilir, Ternyata Dari Thailand, Bekerja Untuk Kerajaan Sriwijaya
Baca juga: Kukuhkan Lembaga Adat, Wako Prabumulih Minta Peran Aktif Selesaikan Masalah Masyarakat Secara Adat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Mengenal-Uniknya-Pernikahan-Adat-Suku-Penesak-di-OKI-Maraton-Budaya-7-Hari-Penuh-Makna.jpg)