PPG
Tugas Mandiri Modul Pedagogik Fikih Lengkap Topik 1-8 dalam PPG Kemenag Batch 4 Daljab 2025
PBL adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan menggunakan masalah autentik sebagai titik awal pembelajaran. Pendekatan i
Penulis: Putri Kusuma Rinjani | Editor: Putri Kusuma Rinjani
TRIBUNSUMSEL.COM - Artikel kali ini akan menyajikan referensi jawaban untuk Tugas Mandiri Modul Pedagogik Fikih dalam PPG Kemenag Batch 4 Daljab 295.
Bagi Ibu/Bapak Guru peserta Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Kemenag Batch 4 daljab 2025 akan mengerjakan serangkaian modul pembelajaran yang diberikan.
Salah satu diantara modul pembelajaran ini adalah Modul Pedagogik Fikih.
Adapun sebelum mengerjakan Tugas Mandiri pada Modul Pedagogik Fikih, Ibu/Bapak Guru perlu memahami 2 bentuk pertanyaan yang harus diselesaikan, agar jawaban yang diberikan sesuai dengan apa yang dibutuhkan.
Referensi jawaban ini dibuat untuk membantu Ibu/Bapak Guru agar lebih mudah dalam menyelesaikan tugas yang ada.
Berikut adalah contoh jawaban untuk Tugas Mandiri Modul Pedagogik Fikih dalam PPG Kemenag Batch 4 Daljab 2025 sebagai acuan pembelajaran.
==========
Contoh Tugas Mandiri Modul Pedagogik Fikih dalam PPG Kemenag Batch 4 Daljab 2025
Setelah setelai membaca dan mempelajari topik secara mandiri, mahasiswa membuat tugas mandiri yang ditulis dalam bentuk word, convert ke PDF, kemudia unggah di LMS. Adapun tugas yang diminta adalah:
A. Peta konsep atau Gagasan apa saja yang anda temukan dari Topik 1 sd. Topik 8. Sebutkan kurang lebih 5 gagasan dan mohon dijelaskan dalam satu dua alinea.
B. Materi/konsep apa saja dalam topik tersebut yang menurut anda menimbulkan miskonsepsi/salah mengerti dari Topik 1 sd. Topik 8.
>> Kunci Jawaban Guru
1. Pendekatan Problem Based Learning (PBL)
PBL adalah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan menggunakan masalah autentik sebagai titik awal pembelajaran. Pendekatan ini mendorong pengembangan kemampuan berpikir kritis, analitis, serta pemecahan masalah secara mandiri maupun kelompok.
2. Pendekatan Project Based Learning (PjBL)
PjBL menekankan pada keterlibatan siswa dalam proyek nyata untuk memahami konsep pelajaran. Peserta didik membangun pengetahuan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi proyek yang menghasilkan produk konkret. PjBL menumbuhkan kreativitas dan kolaborasi.
3. Pembelajaran Differentiation Based Learning (DBL)
DBL adalah pendekatan pembelajaran yang memperhatikan perbedaan gaya belajar, minat, dan kesiapan siswa. Guru didorong untuk merancang kegiatan belajar yang sesuai dengan karakteristik individual peserta didik sehingga tercapai hasil belajar yang optimal.
4. Kerangka TPACK (Technological Pedagogical Content Knowledge)
TPACK adalah integrasi antara penguasaan materi, metode pedagogik, dan teknologi dalam mengajar. Pendekatan ini menekankan pentingnya guru memahami cara menyampaikan materi yang tepat dengan bantuan teknologi.
5. Pendekatan Deep Learning (Mindful, Meaningful, Joyful)
Deep, Learning menekankan pembelajaran yang mendalam, bermakna, dan menyenangkan. Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga menikmatinya dalam suasana belajar yang menyenangkan dan berdaya guna.
6. Layanan Bimbingan Konseling dan Supervisi Klinis
Topik ini menyoroti pentingnya pendampingan guru dalam proses belajar mengajar melalui supervisi klinis dan layanan konseling. Guru tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing dalam proses pembentukan karakter siswa.
7. Pendidikan Inklusi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Pendidikan inklusit adalah pendekatan vang menekankan kesetaraan dalam akses pendidikan. Guru diharapkan mampu menyesuaikan merode dan media ajar agar semua siswa, termasuk ABK, bisa belajar secara optimal dan menyenangkan.
8. Guru Profesional di Era Digital dan AI
Guru profesional di era digital dituntut untuk melek teknologi, mampu mengintegrasikan Al dalam pembelajaran, serta memahami kebutuhan peserta didik generasi digital. Peran guru menjadi fasilitator dan motivator yang mampu menyaring dan memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
_____
B. Materi/Konsep yang Menimbulkan Miskonsepsi
Beberapa konsep dalam modul Topik 1 s.d. 8 berpotensi menimbulkan miskonsepsi, baik di kalangan mahasiswa PPG maupun guru di lapangan:
1. PBL dan PjBL. Dianggap Sama
Banyak yang menyamakan PBL dan PjBL karena keduanya berbasis masalah/proyek. Padahal, PBL lebih fokus pada proses pemecahan masalah, sedangkan PjBL menekankan produk akhir dari suatu proyek. Ketidaktepatan ini dapat menyebabkan kesa lahan implementasi di kelas.
2. DBL Dipahami Sebagai Perlakuan Istimewa
Pendekatan diferensiasi sering disalahpahami sebagai "memanjakan" siswa tertentu atau memberi perlakuan khusus. Padahal, DBL bertujuan memberikan keadilan belajar dengan menyesuaikan strategi dengan kebutuhan siswa, bukan membedakan kualitas ajar.
3. TPACK Disempitkan Hanya Sebagai Penggunaan Teknologi
Sebagian guru hanya menitikberatkan TPACK pada penggunaan perajigkat digital,, tanpa memahami bahwa esensinya adalah integrasi antara konten, pedagogi, dan teknologi. Akibatnya, penggunaan teknologi jadi kurang relevan atau tidak efektif dalam menyampaikan materi.
4. Deep Learning Dianggap Teori Baru yang Rumit
Ada kesalahpahaman bahwa deep learning adalah metode kompleks atau hanya untuk siswa unggul. Padahal, esensinya adalah menjadikan pembelajaran lebih dalam, menyenangkan, dan bermakna untuk semua siswa.
5. Supervisi Klinis Dipersepsikan Sebagai Evaluasi Semata
Sebagian guru menganggap supervisi klinis hanya bentuk pengawasan atau penilaian. Padahal, pendekatan ini adalah bimbingan profesional untuk mendampingi guru dalam meningkatkan mutu pembelajaran secara reflektif dan kolaboratif.
6. Pendidikan Inklusif Dianggap Khusus untuk Sekolah Luar Biasa (SLB)
Ada pandangan bahwa pendidikan inklusif hanya relevan untuk SLB. Padahal, inklusifitas adalah prinsip yang berlaku di semua sekolah, agar siswa dengan kebutuhan khusus mendapat ruang belajar yang layak bersama siswa lain.
7. Al Akan Menggantikan Guru
Dalam konteks digitalisasi, ada kekhawatiran bahwa Al akan menggantikan peran guru. Miskonsepsi ini dapat melemahkan semangat guru untuk belajar teknologi. Padahal, AI seharusnya menjadi alat bantu guru dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
8. Gen Z dan Alpha Dianggap Tidak Bisa Belajar Secara Tradisional
Pemahaman ini keliru karena walaupun mereka akrab dengan teknologi, bukan berarti tidak bisa belajar dengan pendekatan non-digital. Kuncinya adalah pendekatan hybrid dan interaktif yang sesuai dengan karakter mereka.
(Tribunsumsel.com/Putri Kusuma Rinjani)
***
Artikel lainnya di google news.
Ikuti dan bergabung disaluran WhatsApp Tribunsumsel.com
Kunci Jawaban Guru
Modul Pedagogik Fikih
Tugas Mandiri
Pendidikan Profesi Guru
PPG Kemenag Batch 4
Daljab 2025
Tribunsumsel.com
| 15 Contoh Soal Studi Kasus PPG 2026 dan Kunci Jawaban, Berbagai Aspek Pembelajaran |
|
|---|
| Apa Saja Upaya yang Akan Anda Lakukan untuk Mempelajari Target Perilaku? Kunci Jawaban PPG 2026 |
|
|---|
| Contoh Studi Kasus Strategi Pembelajaran, PPG Guru Tertentu Tahap 1 2026 |
|
|---|
| Apa Upaya Ingin Anda Lakukan Mencapai Tujuan Tindak Lanjut Tersebut? Disiplin Positif, PPG 2026 |
|
|---|
| Jawaban Cerita Reflektif, Bagaimana Anda Sebagai Guru Memandang Penting CASEL Pembelajaran di Kelas? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Tugas-Mandiri-Modul-Pedagogik-Fikih-Lengkap-Topik-1-8-dalam-PPG-Kemenag-Batch-4-Daljab-2025.jpg)