Kader PDIP Eksodus ke PSI Sumsel

Alasan Heri Amalindo Keluar Dari PDIP dan Pilih Jadi Ketua DPW PSI Sumsel 'Kami Ingin Berkembang'

Dengan berada di rumah besar dan orang kompeten yang banyak, hal itu diakui Heri akan menjadi sulit dirinya bersaing, sehingga memilih partai lain.

Tayang:
Penulis: Arief Basuki Rohekan | Editor: Slamet Teguh
Tribunsumsel.com/Arief Basuki Rohekan
PINDAH PARTAI - Alasan Heri Amalindo Keluar Dari PDIP dan Pilih Jadi Ketua DPW PSI Sumsel 'Kami Ingin Berkembang' 

Ringkasan Berita:
  • Ketua DPW PSI Sumsel Heri Amalindo menegaskan kepindahannya dari PDIP ke PSI merupakan pilihan politik untuk berkembang dan aktif berprestasi di partai yang lebih memberi ruang kompetisi.
  • Ia menyebut sosok Jokowi sebagai pembina PSI menjadi salah satu daya tarik, serta berkomitmen memperkuat struktur PSI hingga tingkat desa di Sumsel.
  • Heri memastikan dirinya telah resmi keluar dari PDIP dan fokus membesarkan PSI agar mampu mengantarkan kader ke legislatif maupun eksekutif.

 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Ketua Pimpinan Wilayah Partai Solidaritas Indonesia (DPW PSI) provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Heri Amalindo akhirnya buka suara, terkait keputusannya bergabung dengan partai yang dikomandoi Kaesang Pangarep.

Menurutnya, pilihannya keluar dari partai sebelumnya PDIP dan bergabung dengan PSI yang terdapat Presiden ke 7 Jokowi Widodo (Jokowi) sebagai ketua pembinanya, adalah pilihan untuk aktif di dunia berpolitik.

"Artinya gabung ke PSI ini bukan seolah- olah meninggalkan atau loncat pagar, tetapi secara kepartaian kami juga ingin berkembang di PSI. Kalau di PDIP kita ketahui partai besar dan orang yang berkompeten sudah banyak," kata Heri Amalindo saat diwawancarai di Sekretariat DPW PSI Sumsel Palembang, Selasa (27/1/2026).

Dengan berada di rumah besar dan orang kompeten yang banyak, hal itu diakui Heri akan menjadi sulit dirinya bersaing, sehingga memilih partai lain.

"Jadi untuk kami bersaing dan berkompetisi disitu mungkin bisa dikatakan tidak bisa lagi atau bukannya tingkatan kami. Sehingga kami berpikir untuk peluang bisa berprestasi dan beraktifitas kepartaian ada di PSI ini,' jelasnya.

Mantan Bupati Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) ini sendiri menilai tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal berpartai politik, mengingat dirinya juga baru masuk ke PSI ini beberapa waktu lalu, setelah ditawari pengurus DPP PSI.

"Karena baru, perbedaan itu belum terlalu terlihat. Tetapi artinya setiap partai pasti punya perbedaan dan kelebihan masing-masing partai itu, dan kita bersaing untuk mencapai satu tujuan untuk masyarakat,' jelasnya.

Ditambahkan Heri, dengan menjadi Ketua DPW PSI ia akan berusaha menjadikan PSI besar di Sumsel, dan bisa mengantarkan kader- kadernya duduk di legislatif ataupun di eksekutif nantinya.

Dimana pihaknya untuk saat ini fokus pada penguatan infrastruktur PSI, hingga tingkat Kelurahan atau Desa yang ada di Sumsel.

"Apa yang disampaikan Ketum kita Kaesang, kalau dari pusat tentunya ia menargetkan untuk DPR RI berapa orang. Nah, kalau kami provinsi karena baru nyusun kepengurusan, kami tahun pertama yaitu penguatan struktur partai dulu, penguatan internal partai struktur dari DPW, DPD Kabupaten kota, DPC hingga ranting- ranting. Setelah ini selesai baru bisa kita berbicara apa yang bisa kita targetkan kedepan," paparnya.

Diterangkan mang Heri sapaan akrab Heri Amalindo, terkait dirinya sebelumnya adalah kader PDIP karena sudah bergabung dengan PSI, maka secara otomatis dirinya telah mundur dan bukan lagi kader PDIP.

"Artinya kemarin kami masih di PDIP dan distruktur baru kita tidak ikut bergabung lagi, makanya saya ke PSI. Kalau saya secara pribadi ibarat sekolah di A tapi kita sekolah di B, maka nama kita sudah tidak terdaftar lagi," capnya.

Baca juga: DPC PDIP OKI Santai, Kadernya Abdiyanto Pilih Mengundurkan Diri, Masih Solid dan Kompak

Baca juga: Devi Suhartoni Tak Persoalkan Sejumlah Kader PDIP Sumsel Pindah ke PSI: itu Hak Mereka

Ditambahkan Heri, sebagai orang yang beradab dirinya mengucapkan terimakasih kepada PDIP yang selama ini ikut dibesarkan, dibimbing dan sekolah partai untuk bekal dirinya berpolitik di partai lain.

"Kalau KTA (Kartu Tanda Anggota) masih, dan insyaallah kami kembalikan. Artinya, sama sekolah tadi maka otomatis kartu (KTA) tidak berfungsi lagi yang lama. Dibalikin atau tidak kalau tidak berfungsi kan tidak ada guna lagi, tetapi agar tidak disalahgunakan insyaallah kita kembalikan ," ungkapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved