Berita Palembang

Dokter Ingatkan Bahaya Screen Time Picu Masalah Mata Kering, Bikin Penglihatan Kabur dan Nyeri

Berdasarkan data Rumah Sakit Khusus Mata Masyarakat (RSKMM) Provinsi Sumatera Selatan “Binar”

Penulis: Linda Trisnawati | Editor: Moch Krisna
Dokumen
Waspadai Screen Time - Pemeriksaan mata di Rumah Sakit Khusus Mata Masyarakat (RSKMM) Provinsi Sumatera Selatan “Binar”. 

Ringkasan Berita:
  • Kasus mata kering di RS Mata Binar meningkat dari 410 pasien (2024) menjadi 699 pasien (2025).
  • Katarak dan gangguan refraksi seperti silinder serta rabun jauh/ dekat masih dominan dalam daftar penyakit mata.
  • Dokter menyarankan hukum 20-20-20, mode gelap, kacamata antiradiasi, dan pola hidup sehat untuk pencegahan.

 


TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG -
Di era digital saat ini, paparan layar handphone dan komputer nyaris tak terpisahkan dari aktivitas sehari-hari. Bahkan, tak sedikit masyarakat yang hanya “libur” dari layar saat salat, mandi, dan tidur. Selebihnya, mata terus terpapar radiasi layar gadget.

Tentu kondisi tersebut berdampak langsung pada kesehatan mata, akibatnya lonjakan kasus gangguan kesehatan mata meningkat. 

Berdasarkan data Rumah Sakit Khusus Mata Masyarakat (RSKMM) Provinsi Sumatera Selatan “Binar”, keluhan mata kering (dry eye) mengalami peningkatan signifikan. Pada tahun 2024, tercatat 410 pasien, namun angka ini melonjak tajam menjadi 699 pasien pada tahun 2025.

Dokter Spesialis Mata Divisi Refraksi RS Mata Binar, dr. Eva Kumalasari, Sp.M, menjelaskan bahwa durasi penggunaan gawai (gadget) yang berlebihan menjadi salah satu biang kerok utama.

“Mata kering akibat durasi menatap layar yang terlalu lama dapat memicu mata merah, perih, hingga penglihatan buram. Jika dibiarkan terus-menerus, paparan radiasi layar ini berpotensi menurunkan kualitas penglihatan,” ujar dr. Eva, Kamis (8/1/2026).

Meski kasus mata kering akibat gaya hidup digital meningkat, data 10 penyakit terbesar rawat jalan tahun 2025 di RS Mata Binar menunjukkan bahwa katarak masih menjadi penyakit paling dominan.

"Jenis katarak akibat proses penuaan dini (senile incipient cataract) menempati urutan pertama dengan total 4.670 pasien, yang terdiri dari 2.184 laki-laki dan 2.486 perempuan. Selain itu, jenis katarak lain (senile cataract unspecified dan nuclear cataract) juga menyumbang ribuan kasus lainnya," katanya. 

Di posisi kedua, gangguan kacamata atau refraksi mendominasi, khususnya mata silinder (astigmatisme) dengan 3.206 kasus. Gangguan refraksi lain seperti rabun jauh (myopia) dan rabun dekat (hypermetropia) menyusul dengan masing-masing 2.038 dan 1.150 pasien. Penyakit serius lainnya seperti glaukoma dan infeksi kornea (keratitis) juga masuk dalam daftar 10 besar.

Menanggapi tren ini, dr. Eva menegaskan bahwa tingginya waktu layar (screen time) dicurigai berperan besar memperparah kejadian gangguan refraksi (mata minus/silinder) yang ada, meskipun penanganannya bersifat suportif sesuai keluhan.

“Penanganan biasanya meliputi pemberian air mata buatan, obat pereda nyeri, koreksi kacamata, hingga edukasi pengaturan pencahayaan layar,” jelasnya.

Dr. Eva juga menyarankan penerapan hukum 20-20-20 sebagai langkah pencegahan sederhana namun efektif

Setiap 20 menit menatap layar, istirahatkan mata selama 20 detik dengan melihat objek sejauh 20 kaki (sekitar 6 meter).

Selain itu, masyarakat diimbau menggunakan fitur mode gelap (dark mode), memakai kacamata antiradiasi, menjaga posisi duduk ergonomis, serta rutin mengonsumsi makanan bergizi untuk kesehatan mata.

"Peningkatan kasus mata kering ini harus menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih bijak menggunakan gadget di tengah gempuran aktivitas digital," katanya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved