Berita Travel

Mengenal 'Mengantar Petulung' Budaya OKU Selatan yang Kini Banyak Dimodifikasi , Tergerus Zaman

Budaya 'Mengantar Petulung' yang sudah ada sejak zaman dahulu hingga kini masih di budayakan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan

Penulis: Alan Nopriansyah | Editor: Slamet Teguh
Sripoku.com/ Alan Nopriansyah
HAJATAN - Pesta hajatan pernikahan di Kecamatan Kisam Ilir, Kabupaten OKU Selatan, beberapa waktu lalu, Rabu (19/2/2025). 

Laporan Wartawan Sriwijaya Post Alan Nopriansyah

TRIBUNSUMSEL.COM, MUARADUA - Budaya 'Mengantar Petulung' yang sudah ada sejak zaman dahulu hingga kini masih di budayakan di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan, Sumatera Selatan.

Budaya ini sendiri merupakan wujud kekompakan pemberian bantuan terhadap orang yang sedang hajatan atau terkena musibah (wafat) di dalam satu kampung atau maupun Kampung tetangga sebelah.

Hanya saja, budaya ini kini sudah di modifikasi seiring dengan perkembangan zaman.

Dahulunya budaya mengantar petulung biasanya berupa beras, kelapa, gula atau ayam.

Baca juga: Kelompok Barongsai Liong Hok Say Palembang, Aktif Lestarikan Budaya Sembari Dapatkan Penghasilan

Baca juga: Acara Malam Tahun Baru 2025 di BKB Palembang, ada Konser Musik, Seni Budaya Serta Atraksi Drone Show

Petulung atau bantuan barang tersebut yang dimasukan ke dalam baskom ukuran mini serta ditutup dan diikat dengan kain taplak meja bertujuan agar tidak diketahui satu sama lain untuk menghindari kesenjangan sosial.

"Tapi sekarang sudah banyak yang diganti, sudah jarang sekali ditemui ada kelapa dan beras, wadahnya pun yang kini banyak sudah di modifikasi dengan tas," ujar Budi pemerhati Budaya di OKU Selatan.

Budi mengungkapkan dalam petulung ini biasanya semakin dekat pemilik hajatan resepsi pernikahan atau yang terkena musibah nilai Petulung yang diberikan semakin besar pula nilai yang dibantukan, kini berganti dengan uang berupa amplop berisikan hewan ayam untuk disembelih.

"Biasanya, semakin dekat dengan keluarga yang akan melaksanakan resepsi, maka biasanya semakin besar pula petulung yang diberikan,"katanya.

Warga yang mengantar petulung ini juga kerap di bawa oleh ibu-ibu yang datang a berbarengan untuk diberikan dengan tuan rumah minimal 3 hari sebelum hari H.

 

 

 

 

Baca Berita Tribunsumsel.com Lainnya di Google News

Ikuti dan Bergabung Dalam Saluran Whatsapp Tribunsumsel.com

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved