Seputar Islam

Peringatan Haul Guru Kapuh 2024, Ulama Karismatik Asal Kalimantan Selatan, Murid Guru Sekumpul

Peringatan Haul Guru Kapuh 2024, ulama karismatik asal Kalimantan Selatan, murid Guru Sekumpul.

Tayang:
Penulis: Vanda Rosetiati | Editor: Vanda Rosetiati
BANJARMASIH POST
Peringatan Haul Guru Kapuh 2024, ulama karismatik asal Kalimantan Selatan, murid Guru Sekumpul. Foto Tuan Guru KH Ahmad Riduan Baseri alias Guru Kapuh semasa hidup. 

TRIBUNSUMSEL.COM - Peringatan Haul Guru Kapuh 2024, ulama karismatik asal Kalimantan Selatan, murid Guru Sekumpul.

Tahun 2024 ini memasuki tahun ketiga kepergian Guru Kapuh, ulama kondang karismatik asal Banjarmasin Kalimantan Selatan.

Guru Kapuh meninggal dunia Rabu (11/8/2021) pagi pukul 09.05 di Rumah Sakit Brigjen H Hasan Basry, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan dalam usia 55 tahun pada usia 55 tahun.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini direncanakan kembali diadakan Peringatan Haul Guru Kapuh 2024 yang akan dihadiri oleh umat muslim terutama jemaah pengajian Guru Kapuh Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dan sekitarnya.

Gelaran rangkaian Peringatan Haul Guru Kapuh 2024 akan berlangsung 4 sampai 7 Juli 2024 di Kubah Abah Guru Kapuh, Desa Kapuh, Kecamatan Simpur, Kalimantan Selatan.

SIAPA NAMA ASLI GURU KAPUH?

Dikenal dengan nama Guru Kapuh, siapa nama asli Guru Kapuh?

Tuan Guru KH Ahmad Riduan Baseri alias Guru Kapuh adalah seorang ulama  yang hingga akhir hidupnya mengabdikan diri sebagai Pengasuh Majelis Taklim Al Hidayah, pengasuh Ponpes Ibnu Atthaillah dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten HSS.

Dikutip dari uin-antasari.ac.id, silsilah dari nasab ibu, Tuah Guru Kapuh masih juriyat Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari atau Datuk Kelampayan.

Ibunya bernama Hj Jauhar binti H Athaillah bin H Abdul Qadir bin H Sa’duddin atau H Muhammad Tayyib Taniran (Datu Taniran) bin HM As’ad bin Puan Syarifah binti Syekh H Muhammad Arsyad Al Banjari.

Sejak kecil ia telah dididik oleh orangtuanya dengan pendidikan agama, baik secara langsung oleh orangtuanya sendiri maupun melalui guru mengaji yang ada di desa tempat tinggalnya.

Dalam jenjang pendidikan, Muhammad Ridwan mengenyam pendidikan formal. Pada usia 7 tahun orangtuanya memasukkan pendidikan dasar di SDN Kandangan dari kelas 1 hingga kelas 6 lulus pada tahun 1979 dengan nilai yang sangat baik.

Sehabis SD ia pun masuk ke Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Amawang, madrasah yang pertama kali berdiri di Kota Kandangan, di madrasah ini ia belajar selama 3 tahun dan lulus pada tahun 1982.

Selesai mengenyam pendidikan formal, ia pun dikirim orangtuanya ke Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Jawa Timur untuk memperdalam ilmu pengetahuan agama, Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.

Di sana ia gunakan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan agama Islam melalui kitab-kitab kuning, sehingga semua bidang ilmu seperti Fiqih, Tauhid, Tasawuf, Tafsir, Hadits dan lain-lain dapat ia kuasai dengan baik dan lulus pada tahun 1986, jadi di Pondok Pesantren Gontor ia mampu menyelesaikan studi selama 4 tahun.

Setelah lulus dari Pondok Pesantren Gontor dan kembali ke kampung halaman, KH Muhammad Ridwan tidak langsung mengajar, tetapi sempat berdomisili di Sampit, Kalimantan Tengah untuk mencari pekerjaan, namun tidak berlangsung lama kurang 3 tahun karena tidak terbiasa dengan lingkungan sekitar.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved