Hari Santri 2023

6 Contoh Puisi Tema Hari Santri Nasional 2023, Penuh Makna dan Menyentuh Hati

Dilansir dari berbagaisumber, berikut ini contoh puisi bertema Hari Santri Nasional 2023 yang bisa dijadikan referensi para santri sebagai ucapan maup

Penulis: Putri Kusuma Rinjani | Editor: Abu Hurairah
TRIBUNSUMSEL.COM
6 Contoh Puisi Tema Hari Santri Nasional 2023, Penuh Makna Menyentuh Hati, Aku Bangga Menjadi Santri 

TRIBUNSUMSEL.COM - Sambut Hari Santri Nasionalpada 22 Oktober 2023 mendatang dengan serangkaian ucapan dalam bentuk puisi agar lebih berkesan dan penuh makna.

Dilansir dari berbagaisumber, berikut ini contoh puisi bertema Hari Santri Nasional 2023 yang bisa dijadikan referensi para santri sebagai ucapan maupun bahan lomba.

Kumpulan Puisi Hari Santri Nasional

1. Aku Bangga Menjadi Santri (Oleh: Ozy V. Alandika)

Aku bangga menjadi santri
Jauh dari keluarga tak menjadikanku sepi
Aku bahagia belajar dan mengaji
Aku ceria bershalawat kepada nabi

Aku bangga menjadi santri
Menuntut ilmu menggapai ridha Ilahi
Keterbatasan bukan alasanku untuk bermurung diri
Karena ada harapan kedua orang
tua yang tertancap di sanubari

Aku bangga menjadi santri karena
santri juga harapan negeri
Tidak sekadar jihad tidak juga resolusi
Tapi bersatu wujudkan impian Bumi Pertiwi

Santri berusaha setiap hari
Mencuci baju, setrika, bahkan masak sendiri
Mereka sejak kecil diajar mandiri
Untuk bekal berdakwah dan bersafari

Doakanlah yang terbaik untuk santri
Karena mereka adalah harapan nusantara
Jadikan sabar dan salat sebagai bekal diri
Lalu siapkan tenaga untuk mengabdi kepada negara

Baca juga: Link Unduh Logo dan Tema Hari Santri 2023 PNG JPG Gratis Resmi dari Kemenag

2. Akulah Santri (Oleh: Cindy Kharisma Rulia)

Duduk diam dan ratapi
Tentang hidup dalam dunia santri
Dalam sepi aku mencoba menabahkan hati

Tak ada kata lelah dan letih
Barokah adalah tujuan utama yang dicari
Aku kembali terlelap
Sesekali di sela hiruk-pikuk dan
deru ajian kitab-kitab suci

Aku santri yang tak lepas dari kata mengantri
Semua seakan mati
Saat ayah dan ibu tak lagi disisiku
Tapi segulung letih itu harus ku hadapi

Tubuhku membeku
Kakiku kaku
Saat belaian Ibu tak dapat kusentuh
Dan sepi merobek kalbu

Aku terdiam dalam bahasa bisuku
Tak ku hafalkan
Mengingat perjuangan yang tak
Kunjung padam

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved