Berita SMK PP Negeri Sembawa

Hadapi Perubahan Iklim Dampak El Nino, Kementan Gelar Webinar Strategi Adaptasi Pertanian Organik

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo memastikan kementan telah siap siaga di lapangan untuk melakukan langkah-langkah preventif menghadapi El Nino.

Editor: Vanda Rosetiati
DOK SMK PP NEGERI SEMBAWA
SMK PP Negeri Sembawa menggelar Millenial Agriculture Forum (MAF) volume 4 edisi 40 dengan mengangkat tema “Strategi Adaptasi Pertanian Organik dalam Menghadapi Perubahan Iklim akibat El Nino” yang berlangsung secara daring melalui Aplikasi Zoom dan Live Streaming Youtube, pada Sabtu (9/9/2023). 

Kepala SMK PP Negeri Sembawa Yudi Astoni turut hadir dan mengajak seluruh peserta mensukseskan webinar tentang Strategi Adaptasi Pertanian Organik dalam menghadapi Perubahan Iklim akibat El Nino.

Melalui kegiatan MAF ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan sekaligus bertukar pikiran bagi kaum milenial tentang strategi adaptasi pertanian organik terhadap perubahan iklim akibat El Nino.

Adi Candra, menyampaikan tentang Si Manis dari Sayur dan Buah di Masa El Nino. "Melalui tanaman hidroponik, dengan keunggulan bebas pestisida serta lebih higienis, tidak ada gulma dan tumbuhan, meningkatkan frekuensi pertanaman, dan sebagai sarana hiburan. Cara penamaman ini sangat layak dilakukan dalam masa El Nino ini," papar Adi Chandra.

Dampak dari perubahan iklim yang disebabkan El Nino, kita harus segera beradaptasi serta mempersiapkan mitigasi. Salah satu sinergi dari dua aspek tersebut yaitu optimalisasi lahan pekarangan, kalender tanam terpadu untuk tanaman pangan, varietas unggul adaptif atau lahan, inovasi pengelolahan lahan dan air, dan optimalisasi karbon, biomasa, dan limbah organik. tambah, Adi.

Melanjutkan paparan dari Adi Chandra, Agung Wedhatama membahas hal yang selaras yaitu Smart Farming dan Pertanian Organik sebagai Solusi Perubahan Iklim.

“Jika air dapat kita jaga maka semua akan baik-baik saja, jaga lingkungan dan jaga hutan”. ujar, Agung.

Salah satu adaptasi dan mitigasi perubahan iklim yang dilakukan melalui kegiatan Smart Farming meliputi; Pelatihan Pertanian untuk Adik-adik Petani Milenial, Digitalisasi, dan Mikiko Smart Farming yang terkabung dalam Smart Farming Fundamental yang meliputi smart culture, smart farmers, dan smart technology, sambungnya.

Di akhir paparannya Agung mengatakan petani harus melalukan inovasi melalui smart farming.
"Menjadi petani harus 5K yaitu komitmen, komunitas, kolaborasi, kontribusi, dan keren," ujar Agung.

Sejalan dengan Adi dan Agung, pemaparan selanjutnya oleh Winesty selaku PMG Madya Stasiun Klimatologi Kelas 1 Sumsel menjelaskan mengenai Strategi Menghadapi El Nino dan Dampaknya Terhadap Pertanian. “Pertanian dan perubahan iklim tidak dapat dipisahkan karena saling berkaitan.

Hal-hal yang dapat kita kendalikan seperti bibit, lahan, dan irigasi harus segara diupayakan dan dikelola dengan meyesuaikan kondisi alam yang tak terhindarkan. Dua hal ini membutuhkan adaptasi yang meliputi pemahaman, literasi, dan keaksarahan”. Ujar, Winesty.

BMKG, melalui Sekolah Lapang Iklim memprogramkan Climate Smart Agriculture (CSA) yang melakukan pendekatan untuk membantu serta memandu tindakan yang diperlukan dalam mengubah dan mengarahkan kembali, sistem pertanian secara efektif untuk mendukung pembangunan dan memastikan ketahanan pangan dalam iklim yang berubah. tambah, Winesty.

Terakhir, pernyataan penutup dari Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Idha Widi Arsanti yang mengajak semua petani untuk siap menghadapi perubahan iklim yang ekstrem yang tidak memungkinkan jika dihadapi dengan konvensional dan harus didukung pengunaan teknologi pertanian yang ramah lingkungan dan jangan takut investasi untuk hal-hal ketabaharuan bidang pertanian.

Baca berita lainnya langsung dari google news

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved