Arti Kata

Apa Itu Trauma Bonding? Viral Ditengah Kasus Lesti Kejora Cabut Laporan KDRT Rizky Billar

Keputusan Lesti Kejora mencabut laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atas Rizky Billar tuai sorotan.

Tayang:
Editor: Moch Krisna
Instagram @rizkybillar
Rizky Billar dan Lesti Kejora 

TRIBUNSUMSEL.COM -- Keputusan Lesti Kejora mencabut laporan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atas Rizky Billar tuai sorotan.

Tindakan Lesti Kejora membuat publik kecewa lantaran berharap tak ada damai dan maaf antara keduanya.

Mengingat prilaku Rizky Billar berani menyakiti Lesti Kejora dinilai sudah tidak bisa dimaafkan.

Fans Banyak Kecewa Lesti Kejora Cabut Laporan KDRT Rizky Billar, Tak Takut Kehilangan Penggemar
Fans Banyak Kecewa Lesti Kejora Cabut Laporan KDRT Rizky Billar, Tak Takut Kehilangan Penggemar (Warta Kota/Arie Puji Waluyo)

Apalagi dengan beredarnya sejumlah bukti dan video memperlihatkan sisi tempramental Rizky Billar.

Menariknya, langkah Lesti Kejora yang rujuk dan damai dengan Rizky Billar sang suami dikaitkan dengan istilah Trauma Bonding.

Istilah Trauma Bonding disematkan publik ke masalah Lesti Kejora saat ini.

Baca juga: Kasus KDRT Dicabut Lesti Kejora, Reaksi Rizky Billar Terlanjur di Boikot TV dan Radio, Stop Ngartis?

Lalu apa itu Trauma Bonding sendiri?

Melansir dari Situs sehatq.com, Trauma bonding adalah kondisi yang terjadi saat seseorang terus membangun ikatan dengan orang yang telah melakukan tindakan kekerasan maupun pelecehan kepada dirinya. Keinginan untuk bertahan ini biasanya didasari oleh simpati dan kasih sayang korban terhadap pelaku.

  • Beberapa tanda terjadinya traumatic bonding dalam hubungan, antara lain:
  • Mencoba untuk menutupi tindakan pelaku dari orang lain
  • Membela pelaku dan menjauhkan diri dari orang-orang yang hendak memberi bantuan
  • Keberatan untuk meninggalkan pelaku meskipun sadar telah menjadi korban kekerasan dan pelecehan
  • Setuju dengan alasan pelaku melakukan kekerasan, pelecehan, maupun tindakan buruk lain, misalnya karena cemburu
  • Menjadi defensif atau marah jika orang lain ikut campur menghentikan tindakan pelaku melakukan kekerasan atau pelecehan

Ikatan ini bisa berkembang kapan saja, dengan jangka waktu yang berbeda pada masing-masing orang, baik hitungan hari, minggu, atau bulan. Meskipun begitu, tidak semua korban kekerasan atau pelecehan akan mengalami traumatic bonding.

Penyebab traumatic bonding

Meski telah menerima perlakuan buruk, korban enggan untuk meninggalkan dan lebih memilih bertahan dengan pelaku pelecehan atau kekerasan. Salah satu faktor yang menjadi penyebab traumatic bonding antara lain keterikatan atau ketergantungan dengan pelaku.

Keterikatan atau ketergantungan dapat membuat orang bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Sebagai contoh, pelaku kekerasan atau pelecehan selama ini adalah orang yang selalu memberi dukungan ketika korban dipusingkan dengan masalah hidup maupun pekerjaan.

Tanpa pelaku, korban merasa tidak bisa mendapatkan ketenangan hati. Kondisi tersebut kemudian memicu traumatic bonding karena korban menganggap hanya pelakulah yang dapat mengerti perasaannya.

Baca juga: Pangkat Krishna Mukti Dinaikan Kapolri Listyo Sigit Jadi Irjen, Kini Dapat Jabatan Strategis Ini

Selain keterikatan dan ketergantungan, harapan bahwa pelaku akan berubah serta tidak mengulangi lagi tindakan mereka juga bisa menjadi penyebab traumatic bond. Usai melakukan tindakan buruk kepada korban, pelaku umumnya akan meminta maaf dan berjanji untuk berubah.

Janji tersebut seringkali disertai dengan tindakan manis yang membuat korban kembali terbuai. Korban percaya bahwa hubungan antara dirinya dengan pelaku akan berjalan seperti yang telah dijanjikan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved