Berita Palembang
OPINI: Kami Mencari Pak Walikota
Sebentar lagi tahun 2023, masa akhir Sang Walikota setelah dua periode jabatan. Masalah kota belum juga selesai, atau mungkin tak akan pernah beres.
Oleh : Dr. Yenrizal, M.Si.
(Dosen FISIP UIN Raden Fatah)
SOSOK klimis berkumis tipis tampak tersenyum manis. Peci hitam berbalut jas hitam tampak pas membalut warna kulit putihnya. Spanduk besar atau lebih tepat dikatakan baliho yang menampangkan wajah tampan itu begitu menyolok di persimpangan lampu merah. Tulisan besar di belakangnya semakin memperkuat pesan “Menuju Palembang Emas Darussalam 2023”. Di berbagai wilayah strategis di kota ini, wajah itu begitu banyak terpajang.
Di lain waktu fotonya berganti dengan kostum kaos panjang tangan, topit pet, dan sepasang sepatu bot hitam terpasang di kaki. Tangannya terangkat seperti membuat sebuah ajakan, “Ayo Gotong Royong Bersihkan Sungai.” Di spanduk lain, tampak ia mengganti jasnya dengan baju koko putih, sorban terselempang di bahu, tak lupa peci hitam, wajahnya tersenyum dan menunjuk pesan besar di spanduk “Gerakan Sholat Subuh Berjamaah.”
Tak cukup hanya di baliho dan spanduk, hampir setiap hari Minggu sosok itu dengan rombongan besarnya datang ke berbagai pelosok pemukiman warga. Sungai-sungai kecil ia masuki, got-got kotor ia datangi, bahkan tak segan ia nyemplung ke dalam pekatnya kali jorok yang ada di belakang rumah warga. Senyumnya tetap mengembang, kendati warga yang kawasannya dibersihkan lebih banyak memandangi dari balik jendela di atas rumah panggung. Ia tak peduli, tetap turun dan mengkomandoi “pasukannya” agar tak lelah untuk menguras sampah dan rumput liar.
Jepret, jepret!, sembari ia bergelimang sampah dan kotoran, petikan kamera dari staf yang mengiringi selalu mengikuti. Besoknya, puluhan photonya terpampang di berbagai media massa lokal dengan menampilkan photo terbaik, ditambah caption menarik, “Walikota Palembang Terjun ke Sungai Bersihkan Sampah.”
Tak peduli hujan atau panas, ia tetap konsisten. Tak cukup hanya membersihkan, bantaran sungai-sungai itu juga ia bubuhkan cat warna-warni. Sungai yang dulunya kotor mulai menampakkan keindahan. Jepret!
Kala musim hujan menimpa kota ini, banjir adalah peristiwa rutin. Ia pun bereaksi, tak peduli siang atau tengah malam, ia segera perintahkan anggotanya untuk segera meninjau. Berbekal jas hujan dan sepatu bot, ia langsung memimpin di lapangan. “Kota ini butuh lebih banyak kolam retensi, curah hujan terlalu tinggi,” ujarnya berbasah-basah. Tentu saja para wartawan dengan setia menanti momen terbaik untuk menampilkan sosok Walikota yang “membumi” ini.
Ilustrasi di atas adalah kejadian yang rutin dilihat dan bisa disaksikan oleh warga Palembang, dulu sebelum tahun 2019. Atas kerja kerasnya itu, Palembang pun diganjar Piala Adipura untuk ke 12 kalinya, bahkan kemudian mendapat anugerah sebagai Walikota Terinovatif se Sumatera Selatan. Di level nasionalpun, nama Palembang semakin terangkat dengan berbagai capaian positif dan inovatif. Dua periode menjabat sebagai orang nomor satu di Palembang, ia sudah berusaha menampilkan yang terbaik.
Tetapi sekali lagi ilustrasi di atas terjadi dulu, sebelum tahun 2019.
Saat ini musim hujan sudah kembali menimpa Palembang. Banjirpun sudah mulai menghantui. Sementara efek dari Covid 19 masih belum hilang. Di sisi lain, berbagai kebijakan dari Pemerintah Pusat, terasa sudah mulai mencekik di masyarakat. Kenaikan harga BBM dan naiknya berbagai harga sembako sudah memusingkan banyak rumah tangga.
Pembangunan Kota Palembang juga terus bergerak. Kemacetan dan semrawutnya lalu lintas sudah menjadi pemandangan rutin, sampah-sampahpun semakin banyak dan menumpuk. Setidaknya sekitar 1.200 ton sampah diproduksi di Palembang setiap hari, baik berasal dari rumah tangga ataupun pasar-pasar. Sementara angka pengangguran yang ditarget menurun justru meningkat menjadi 10,11 persen, kemiskinan yang diharapkan turun justru naik menjadi 11,34 persen.
Mengutip penjelasan Sekda Palembang, Ratu Dewa, yang mengatakan bahwa persoalan-persoalan yang diharapkan menurun, justru meningkat seperti titik kemacetan (32,26 persen), genangan air (81,82 % ), kawasan pemukiman kumuh dan pengelolaan sampah rumah tangga. Covid 19 mungkin bisa dijadikan alasan kenapa persentase meningkat, untuk mengatakan bahwa itu bukan salah Walikota. Semua warga sudah merasakan itu.
Sebagai sebuah kota besar, metropolitan, masalah kota tak jauh-jauh dari hal tersebut. Kemacetan, banjir, kemiskinan, kawasan kumuh, dan pengelolaan sampah, adalah persoalan-persoalan yang jelas di depan mata. Andai tak piawai dalam mengelola, kerjasama tak optimal ataupun sarana prasarana tak memadai, konon lagi peraturan yang tak konsisten, maka semua tak akan ada artinya.
Hamparan Sungai Musi masih tampak seperti dulu. Puluhan perahu jukung bersandar, Getek-getek warga masih bergerak dengan bunyi khasnya, menyibak coklatnya air sungai kebanggaan warga Sumsel ini. Kumpulan eceng gondok masih terombang-ambing, menyeret tumpukan sampah yang seakan tak ada habisnya. Jejeran warung-warung Pindang terapung tampak mengayun-ayun seiring gerakan sungai, dan aroma kuah pindang itu seakan menelan aroma busuk sampah-sampah yang menumpuk di sela-sela rongga bantaran sungai.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sumsel/foto/bank/originals/Dr-Yenrizal-MSi-Dosen-Fisip-UIN-Raden-Fatah.jpg)