Berita Lubuklinggau

SMAN 7 Lubuklinggau Hanya Dapat 20 Siswa Baru, Lima Guru PNS Nol Jam Mengajar

Sekolah Menengah Atas Negeri 7 (SMAN 7) Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel) terancam tutup karena hanya memiliki 20 siswa Baru.

Penulis: Eko Hepronis | Editor: Yohanes Tri Nugroho
TRIBUNSUMSEL.COM/EKO
20 Siswa Baru Kelas X SMA N 7 Lubuklinggau saat melakukan aktivitas belajar dikelas, Kamis (21/7/2022). 

Laporan wartawan Tribunsumsel.com, Eko Hepronis

TRIBUNSUMSEL.COM, LUBUKLINGGAU --Sekolah Menengah Atas Negeri 7 (SMAN 7) Lubuklinggau, Sumatera Selatan (Sumsel) terancam tutup.

Tahun ini SMA di wilayah Kelurahan Batu Urip, Kecamatan Lubuklinggau Utara II ini hanya mendapat 20 siswa baru.

Suasana sekolah yang biasanya ramai oleh siswa baru tak terlihat di sekolah ini, biasanya, diawal-awal masuk sekolah seluruh siswa baru dikenalkan masa pengenalan siswa baru (MPLS) .

Namun, berbeda dengan sekolah ini, seluruh siswa baru langsung aktif belajar mengajar seperti biasa.

Kepala SMA N 7 Lubuklinggau, Agus Tunizar mengatakan, penyebab SMA N 7 Lubuklinggau tidak mendapat siswa karena banyak sekolah di tengah kota melakukan penerimaan melebihi kuota.

"Tahun ini hanya 20 siswa, awalnya yang daftar 25 siswa, tapi yang lima orang siswa mengundurkan diri memilih sekolah lain," ujar Agus pada wartawan, Kamis (21/7/2022).

Agus menceritakan cukup kecewa dengan kelima siswa yang mengundurkan diri tersebut, karena kelima siswa tersebut sudah membayar uang atribut dan uangnya itu sudah digunakan untuk memesan kaos.

"Tapi tiba-tiba kelimanya mengundurkan diri padahal masa penerimaan siswa sudah selesai, terpaksa kami ganti uangnya, kami tidak bisa menahan kalau mereka mau ke sekolah lain," ungkapnya.

Agus menjelaskan, sudah tiga tahun terakhir jumlah siswa SMA N 7 Lubuklinggau terus berkurang, hal itu disebabkan berbagai faktor, tapi yang paling jelas karena ada sekolah yang menerima siswa tanpa batas.

"Memang sekolah kami ini faktor jauh, tapi walaupun jauh selama ini tetap ada siswa, selain itu banyak sekolah SMK membuka jurusan baru, lama-lama sekolah ini tutup," ujarnya.

Saat ini jumlah siswa di SMA N 7 Lubuklinggau untuk kelas X, 20 siswa, kelas XI 40 siswa dan kelas XII 50 siswa, dengan total seluruhnya 110 siswa.

"Cukup miris sekarang, kita tidak tahu nasib tahun depan seperti apa, bisa jadi tidak dapat sama sekali" ungkapnya.

Harapannya kedepan para pengambil kebijakan saat ini khususnya Dinas Pendidikan (Disdik) Sumsel dapat melakukan pembatasan sekolah-sekolah di Lubuklinggau.

"Harapannya dibatasi kalau delapan cukup delapan, kenyataan sekarang delapan tapi nerima 10 kelas, kan tidak wajar," ujarnya.

 

Banyak Ruang Kelas Kosong

 

Akibat jumlah siswa SMA N 7 Lubuklinggau terus menurun selama tiga tahun terakhir banyak ruang belajar yang selama ini digunakan menjadi tidak terpakai.

"Total ruang belajar kita ini ada 20 ruangan, tapi karena jumlah siswanya sedikit hanya lima orang yang kita gunakan" ungkapnya.

Sementara sisanya kosong tidak difungsikan, bahkan banyak ruang kelas mulai rusak karena tidak pernah terawat dan dibersihkan, akibat keterbatasan anggaran.

"Perawatannya terkendala anggaran, dari mana uangnya mau merawat gedung sebanyak ini (20 ruangan)," ujarnya.

 

Lima Guru Nol Jam

 

Dengan sedikitnya jumlah siswa baru di SMA N 7 Lubuklinggau berdampak terhadap guru yang mengajar, lima orang guru PNS dan dua orang PPPK nol jam.

"Guru PNS nol jam ada lima guru, PPPK nol jam 2 guru, satu guru mengaku cukup berdosa karena makan gaji buta, sebagai kepala sekolah saya tidak bisa membantu sama sekali," ungkapnya.

Bahkan khusus PPPK diusulkan untuk pindah saja, karena kasian mereka apabila tidak ada jam mengajar akan berdampak pada kontrak mereka kedepan.

 

Keluhan Guru Turi Guru Nol Jam

 

Turi Mayarati guru mata pelajaran bahasa Inggris di SMA N 7 Lubuklinggau mengaku sedih karena tidak dapat mendapat jam mengajar.

Turi mengaku meski statusnya sebagai PNS, terpaksa mengalah dengan guru lainnya, karena ada dua guru bahasa inggris lainnya berstatus sebagai guru sertifikasi.

"Daripada sertifikasi mereka yang hilang lebih baik saya mengalah saja, kasian kalau sertifikasi mereka hangus dan berbagi kelas," ungkapnya.

Untuk mengisi waktu dan kewajiban karena status Turi sebagai PNS, supaya dirinya tidak makan gaji buta, Turi masih datang ke sekolah untuk piket.

"Beban moral sih karena tidak kerja digaji, pengennya ngajar, karena saya ini PNS," tambahnya 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved