Petani Inovatif HUT Tribun Sumsel

Petani OKU Selatan Bercocok Tanam Vanili, Sekali Panen Capai 100 Juta

Aan Syaputra (36) warga Desa Kemu Induk Kecamatan Pulau Beringin OKU Selatan bercocok tanam vanili dan sekali panen pendapatan Rp 100 juta.

Editor: Vanda Rosetiati
SRIPO/ALAN NOPRIANSYAH
Aan Syaputra (36) warga Desa Kemu Induk Kecamatan Pulau Beringin Kabupaten OKU Selatan Sumatera Selatan mulai menggeluti membudidayakan bercocok tanam tanaman Vanili sudah 5 tahun terakhir. Sekali panen raup Rp 100 juta. 

TRIBUNSUMSEL.COM, PALEMBANG - Kondisi penghasilan kopi yang menurun ditambah harga kebutuhan ekonomi semakin meningkat warga Kabupaten OKU Selatan mencoba peruntukan bercocok tanam, tanaman rambat dengan sistem tumpang sari.

Berbekal ilmu pengetahuan lewat internet serta ilmu pengetahuan dari rekannya di luar daerah, seorang petani muda nekat mencoba bercocok tanam tanaman baru jenis Vanili.

Aan Syaputra (36) warga Desa Kemu Induk Kecamatan Pulau Beringin Kabupaten OKU Selatan Sumatera Selatan mulai menggeluti membudidayakan bercocok tanam tanaman Vanili sudah 5 tahun terakhir.

Satu hektare lahan kopi miliknya. ditanam batang tanaman rambat vanili melalui sistem tumpang sari. Alhasil dari kegigihannya dalam 5 tahun terakhir sudah membuah hasil yang menjanjikan.

Sudah merasakan langsung hasilnya, Aan merasa bercocok tanam Vanili sangat menjanjikan terlebih harganya yang terbilang tinggi untuk saat ini.

"Sementara ini, untuk hasil cukup menjanjikan dan juga pemeliharaan tidak terlalu rumit,"ungkap Aan, mengawali saat dibincangi Sripoku.com baru-baru ini, Sabtu (25/6).

Diakuinya, sempat ragu karena dinilai sulit saat proses polinasi (pengawinan) mulanya coba-coba dengan menanam 40 pohon. Berhasil dalam polinasi puluhan batang awal ia nekat memperbanyak tanaman Vanili hingga kini sudah mencapai 100 batang.

"Tahun pertama coba-coba menanam 40 lanjaran. Alhasil kini sudah 1.000 lanjaran,"beber Aan.

Sesuai dengan tanaman yang terus bertambah hasil pemanen Aan sudah memetik hasil dari bercocok tanam Vanili sebulan terakhir sudah memanen 4 kwintal.

"Sebulan lalu panen 4 kwintal. Kalau harga jika dijual basah basah Rp 150 ribu, buah tuah Rp 250 ribu, tapi kalau kering harhanya diatas Rp 1 juta,"teang dia.

Dari bercocok tanam vanili setiap kali panen panen Aan sudah memiliki penghasilan mencapai Rp 100 juta dari hasil panen vanili di lahan +-satu hekatare

Di sisilain, diungkapkannya, di tengah harga kopi tak stabil penghasilan dari bercocok tanam Vanili dinilai sangat membantu dalam menutupi hasil tahunan jika selama ini hanya bergantung dari berkebun kopi.

Menggunakan sistem tumpang sari, dipastikannya tanaman Vanili tak merusak pertumbuhan kebun kopi yang dapat tumbuh secara berdampingan.

Menurutnya, sesuai dengan suhu di OKU Selatan Vanili sangat cocok dikombinasikan dengan tanaman Kopi.

"Untuk di OKU Selatan, saya rekomendasikan petani Kopi bisa mencoba mengkombinasikan dengan Vanili, seban hasilnya sangat menjanjikan dari harga dan perawatan tidak rumit,"katanya.

Hanya saja, Aan berharap ke depan, Vanili dapat dipasarkan di daerah OKU Selatan, atau di Sumatera Selatan (Sumsel) sehingga tak perlu memasarkan ke Pulau Jawa.

"Untuk penjualan masih dikirim ke Pulau Jawa, semoga saja kedepan ada di OKU Selatan atau di wilayah Sumsel ini,"tandasnya.(sp/alan nopriansyah)

Baca berita lainnya langsung dari google news

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved