Berita Banyuasin

Viral Warga Pangkalan Balai Banyuasin Diterkam Buaya, Waspada Juni Masa Buaya Bertelur

Seorang warga Pangkalan Balai Banyuasin diterkam buaya saat menjaring ikan, korban masih dicari.

Penulis: M. Ardiansyah | Editor: Vanda Rosetiati
DOK TRIBUN SUMSEL
Viral seorang warga Pangkalan Balai Banyuasin diterkam buaya saat mencari ikan. Foto ilustrasi kemunculan buaya di Talang Kelapa Banyuasin beberapa waktu lalu. 

TRIBUNSUMSEL.COM, BANYUASIN - Viral seorang warga Pangkalan Balai Banyuasin diterkam buaya. Kejadiannya Senin (20/6/2022) kemarin sekitar pukul 15.00.

Yon Ardi (25), warga Karang Petai Kelurahan Pangkalan Balai Kecamatan Banyuasin III Banyuasin diterkam buaya saat dirinya sedang mencari ikan di sekitar perbatasan dengan PT KAM blok B Desa Sako Makmur Sembawa Banyuasin.

Berdasarkan informasi, Yon Ardi yang sedang mencari ikan dengan cara menjaring, dan tiba-tiba diterkam buaya. Diduga korban tidak tahu bila ada buaya yang mengintai.

Ketika itu, ada warga yang melihat dan langsung memberitahukan kejadian tersebut kepada warga lain.

"Informasinya korban ini mencari ikan, pakai jaring. Diduga tidak mengetahui, bila di situ habitat buaya," kata Alfian Kepala BPBD Banyuasin, Selasa (21/6/2022).

Baca juga: Jumlah Pemilih di Sumsel Pemilu 2024 Tembus 6 Juta, Naik Dibandingkan Pilgub 2018

Saat ini, tim BPBD Banyuasin bersama pihak kepolisian dan warga sekitar masih melakukan pencarian terhadap korban yang diterkam buaya.

"Di sekitar lokasi memang rawan, karena disitu merupakan habitat buaya. Jadi kami himbau kepada masyarakat untuk waspada dalam melakukan aktivitas di daerah tersebut," katanya.

Habitat Buaya di Sumsel

Sebelumnya, akhir-akhir ini banyak manusia menjadi korban dimakan buaya. Hal tersebut dikarenakan habitat buaya terganggu, ditambah saat bulan Juni masih masanya buaya bertelur.

"Saat buaya bertelur dia akan lebih agresif. Untuk itu diimbau kepada masyarakat agar waspada, kurangi aktivitas di malam hari yang tidak perlu," kata Kepala BKSDA Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) Ujang Wisnu Barata, Jumat (18/6/2021) lalu.

Lebih lanjut ia menjelaskan, buaya ini saat malam hari lebih aktif karena memang siklus hidupnya pada malam hari. Lalu saat peralihan antara gelap ke terang atau terang ke gelap juga lebih aktif lagi.

"Kenapa sampai ada konflik dengan manusia, karena habitat buaya itu sendiri terganggu misal perubahan fungsi lahan. Awalnya masih ada vegetasi dan lain-lain, kini beralih fungsi," katanya

Menurut Ujang, dengan beralih fungsinya itu kan perlu irigasi, kanal dan lain-lain, sehingga ruang hidup mereka jadi lebih sempit dan kemungkinan bertemu dengan manusia jadi lebih sering.

Untuk itu memang perlu upaya terus menerus untuk mengedukasi masyarakat agar menyadari hal tersebut. Sekali lagi karena perjumpaan dengan manusianya ada, sehingga terjadi seperti itu.

"Sebenarnya karakter buaya kalau habitatnya cukup dia cukup di situ saja. Selain habitat hidup makan, juga perlu area yang cukup untuk bergerak. Lintasannya buaya ini 10 km, terutama untuk yang jantan," ungkapnya.

Menurut Ujang di Sumsel ada dua jenis buaya yaitu buaya muara dan buaya senyulong. Untuk buaya muara lebih lebar dan besar, sehingga dikenal bisa memangsa makhluk hidup. Kalau buaya senyulong mocongnya lebih panjang.

"Buaya muara jangan terjebak namanya, karena buaya muara ini bisa hidup di air asin dan tawar. Diberi nama itu karena sudah banyak kejadian yang memakan korban manusia," katanya

Lalu untuk peta sebaran habitat buaya di Provinsi Sumsel ada di tujuh Kabupaten/Kota yaitu Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), Muara Enim, Empat Lawang, Lubuklinggau, Musi Rawas dan Palembang. Bukan berarti di Kabupaten/Kota lain tidak ada, ada tapi jarang.

Baca berita lainnya langsung dari google news

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved