Petani Inovatif HUT Tribun Sumsel
Petani Millenial di OKI Hasilkan Beras Organik dari Pupuk Buatan Sendiri
Novriansyah (35) petani millenial asal Desa Lubuk Seberuk, Lempuing Jaya, Ogan Komering Ilir mampu hasilkan beras organik dari pupuk dibuat sendiri.
Penulis: Winando Davinchi | Editor: Vanda Rosetiati
TRIBUNSUMSEL.COM, KAYUAGUNG - Hingga sekarang kebanyakan petani sawah masih enggan untuk beralih dari pupuk kimia ke pupuk organik murni.
Namun di tangan Novriansyah (35) seorang petani millenial asal Desa Lubuk Seberuk, Kecamatan Lempuing Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir mampu menghasilkan beras organik dari pupuk yang dibuat sendiri.
Saat dikonfirmasi, Novriansyah menyatakan bahwa peralihan pupuk kimia ke pupuk organik baru dijalani sekitar 4 tahun terakhir dengan luasan lahan yang digarap sekitar satu hektar.
"Jadi sampai sekarang lahan yang benar-benar full organik seluas seperempat hektar, sisanya ¾ hektar statusnya masih semi organik," ujarnya saat ditemui, Senin (13/6/2022) pagi.
Dimana saat awal perubahan pemberian pupuk organik terdapat kendala yang dirasakan karena hasil panen jauh menurun.
"Pada tahun pertama peralihan pemberian pupuk organik satu hektar hanya menghasilkan sekitar 4 ton gabah kering giling (GKG). Tetapi di tahun kedua, ketiga semakin meningkat dan untuk tahun ke empat kemarin sudah kembali normal seperti saat memakai pupuk kimia yaitu 6 -7 ton," ungkapnya.
Dia mengatakan kedepan bakal ada penambahan jumlah lahan yang akan menerapkan pemupukan secara organik.
"Insyaallah kedepan ada penambahan dari lahan persawahan milik tetangga kiri maupun kanan. Sekitar 7 - 8 hektar lagi yang berminat,"
"Tetapi mereka masih menunggu kalau sudah ada tempat pembuangan (lokasi jual) beras organik yang harganya lebih tinggi dari beras biasa," terangnya.
Baca juga: Pemudi Muara Enim Pakai Busana Unik 20 Kg, Ada Dodol dan Uang Dapur, Jambore Pemuda Daerah Sumsel
Diceritakan beras organik memiliki kualitas yang bagus dengan rasa yang lebih segar dan wangi. Apalagi sudah dijamin lebih sehat untuk dikonsumsi.
"Kalau untuk sementara ini, rata-rata langganan yang membeli hanya sebatas orang kantor ataupun warga yang mapan. Kalau masyarakat untuk banyak yang enggan beli beras ini dikarenakan harga jual lebih mahal yaitu Rp 15.000 perkilogram," katanya cukup sulit memasarkan beras organik.
Menurutnya cukup sulit beradaptasi lahan yang sebelumnya diberi pupuk kimia dan beralih dengan pemberian pupuk organik dikarenakan kadar residu dari zat-zat kimia yang telah tercampur kedalam tanah.
"Masalahnya banyak lahan-lahan disini yang masih sakit. Jadi kita harus nyari-nyari lahan yang sehat atau bukaan baru. Dimana kalau lahan lama sudah terlalu banyak residu dari zat-zat kimia jadi agak susah untuk proses organiknya," jelas petani milenial.
Berbekal pengalaman dan pelatihan yang telah di Ikuti selama ini. Novriansyah mampu membuat sendiri 4 macam jenis pupuk cair dan 1 macam pupuk padat dengan bahan-bahan utama yang didapatkan dari sekitar rumahnya.
Mulai dari pupuk padat bernama kohe, pupuk cair urea, fosfat, pengganti KCL, dan pupuk PGPR.